BMKG: Kemarau Kalbar hingga September, Ajak Waspadai Karhutla dan Asap

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 21:32 WIB
Hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 8.095,95 hektare. (ISTIMEWA)
Hasil perhitungan luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang dirilis oleh Kementerian Kehutanan, luas lahan yang terbakar hingga Juni 2026 mencapai 8.095,95 hektare. (ISTIMEWA)

 

PONTIANAK POST — Cuaca Kalimantan Barat diperkirakan masih didominasi kondisi kemarau hingga awal September 2026. Dalam sepekan ke depan, hujan belum diprediksi turun merata sehingga sejumlah wilayah masih menghadapi risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Prakirawan BMKG Supadio, Fitri Doyo, mengatakan peluang hujan tetap ada, terutama di wilayah utara Kalbar. Namun, hujan yang turun diperkirakan berintensitas ringan dan belum mampu mengatasi kondisi kering secara merata.

“Untuk satu pekan ke depan, kondisi curah hujan belum merata. Kalau ada hujan, intensitasnya ringan, terutama di wilayah utara Kalbar,” kata Fitri kepada Pontianak Post, Minggu (17/8).

Hujan Ringan Belum Merata di Kalbar

Sejumlah wilayah yang berpeluang mengalami hujan ringan antara lain Kabupaten Bengkayang, Sambas, Landak, dan Kapuas Hulu. Sementara wilayah lainnya masih perlu mewaspadai kondisi kering.

Fitri mengatakan, berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga awal September. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena cuaca kering dapat meningkatkan potensi kebakaran, terutama ketika bahan bakar di permukaan lahan mudah terbakar.

Kualitas Udara Memburuk, Kubu Raya Perlu Waspada

Dampak kondisi kering juga terlihat pada kualitas udara di sejumlah wilayah Kalbar. Hasil pengamatan BMKG Supadio pada Agustus menunjukkan kualitas udara di titik pemantauan Pontianak, Mempawah, dan Sintang telah berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Kondisi tersebut dapat berubah sepanjang hari. Konsentrasi polutan dan asap cenderung meningkat pada waktu tertentu, terutama dini hari.

“Pada dini hari bisa mencapai kategori berbahaya, khususnya di wilayah Kubu Raya,” ujar Fitri.

Kondisi ini membuat masyarakat, terutama kelompok rentan, perlu lebih memperhatikan kualitas udara sebelum melakukan aktivitas di luar rumah.

500 Titik Panas Terdeteksi dalam Sehari

Ancaman karhutla juga masih tinggi di tengah kondisi cuaca yang kering. Hingga Senin (17/8) pukul 13.00 WIB, BMKG mencatat sekitar 500 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Kalbar.

Kabupaten Ketapang menjadi salah satu daerah dengan konsentrasi titik panas tinggi. Hingga 16 Agustus, jumlah titik panas yang terpantau di wilayah tersebut mencapai 1.682 titik.

“Di Ketapang sendiri hingga 16 Agustus kemarin jumlah titik panasnya mencapai 1.682 titik panas,” kata Fitri.

Tingginya jumlah titik panas menjadi perhatian karena kondisi kering dapat mempercepat penyebaran api. Risiko tersebut semakin besar pada lahan gambut dan vegetasi yang mudah terbakar.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

BMKG mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kualitas udara yang memburuk. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan mendesak.

Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker disarankan untuk mengurangi paparan udara yang tidak sehat.

Imbauan juga diberikan terkait aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan karena api dapat lebih mudah menyebar dalam kondisi cuaca kering.

“Kalau tidak ada keperluan mendesak, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jangan lupa menggunakan masker dan menghindari kegiatan yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan,” pungkasnya.

Kemarau dan Asap Mengancam Aktivitas Warga

Kondisi cuaca yang masih kering membuat persoalan karhutla tidak hanya menjadi isu lingkungan. Ketika titik panas meningkat dan asap menyebar, dampaknya dapat langsung dirasakan masyarakat melalui memburuknya kualitas udara dan terbatasnya aktivitas sehari-hari.

Karena itu, pengendalian karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah membesar. Pencegahan sejak munculnya titik panas menjadi penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi kesehatan masyarakat.

Dengan prakiraan kemarau yang masih berlangsung hingga awal September, kewaspadaan masyarakat perlu dipertahankan. Hujan yang belum merata, tingginya titik panas, dan kualitas udara yang memburuk menjadi tiga indikator yang perlu diperhatikan secara bersamaan.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
Musim Kemarau Kalbar Cuaca Kalimantan Barat kualitas udara Kalbar karhutla kalbar BMKG SUPADIO