PONTIANAK POST - Kepedulian terhadap persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mendorong Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) FISIP Universitas Tanjungpura (Untan) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Menjaga Kampung Bersama: Menggerakkan Modal Sosial Lokal untuk Cegah dan Atasi Karhutla.
FGD tersebut digelar di Kantor Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (14/8). Kegiatan diikuti Kepala Desa Kuala Dua beserta perangkat desa, BPD, RT dan RW, kelompok tani, PKK, pemuka masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, masyarakat peduli api, serta sejumlah mahasiswa.
Ketua Tim PKM FISIP Untan, Zulkarnaen mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan membantu masyarakat Desa Kuala Dua mengenali berbagai potensi modal sosial yang dimiliki masyarakat. Di antaranya norma, adat, kebersamaan, kepercayaan, komunikasi, dan kerja sama.
Baca Juga: Hadapi Ancaman El Nino, Kemenhut Cek Kesiapan PLBN Aruk Tangani Karhutla di Perbatasan Sambas
Menurutnya, modal sosial tersebut penting untuk digerakkan dalam upaya mencegah dan menangani karhutla. FGD juga menghasilkan sejumlah rencana aksi nyata yang dapat dilakukan masyarakat Desa Kuala Dua dalam menghadapi karhutla.
Pada awal kegiatan, dosen FISIP Untan yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalbar, Pabali Musa, memaparkan kondisi perubahan iklim yang dirasakan di berbagai belahan dunia. Suhu panas ekstrem, kata dia, kini juga dirasakan masyarakat. Kondisi tersebut turut meningkatkan ancaman karhutla, termasuk di Kalbar.
Pabali mengingatkan pentingnya menggerakkan kearifan lokal masyarakat Kuala Dua untuk menghadapi persoalan karhutla.
Dalam sesi pertama FGD, berbagai kelompok masyarakat yang hadir mengidentifikasi dampak karhutla yang dirasakan secara langsung. Salah satunya terhadap kesehatan, dengan adanya kenaikan penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Baca Juga: Kabut Asap Mulai Selimuti Sambas, Dinkes Catat 1.098 Kasus ISPA hingga 12 Agustus 2026
Selain itu, aktivitas belajar di sekolah sempat tidak dilakukan secara tatap muka. Warga juga merasakan kenaikan tagihan listrik akibat meningkatnya penggunaan kipas angin.
Dampak lainnya berupa pekerjaan tambahan untuk membersihkan rumah dari debu dan sisa kebakaran lahan. Berbagai keluhan tersebut membuat seluruh peserta sepakat bahwa karhutla merupakan persoalan bersama yang perlu dihadapi.
Dari identifikasi tersebut, FGD kemudian memetakan modal sosial yang dimiliki Desa Kuala Dua. Peserta menyampaikan telah terjalin kerja sama antara RT, RW, dan dusun dengan memanfaatkan komunikasi melalui WhatsApp Group (WAG) untuk menyampaikan informasi secara cepat ketika terjadi karhutla. Masyarakat peduli api juga telah dibentuk.
Selain itu, masyarakat masih memiliki nilai budaya Bugis berupa sawik, dalam pengelolaan lahan dan saluran air. Kanal yang ada juga masih dipelihara masyarakat.
Namun, upaya penanganan karhutla di tingkat masyarakat menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya biaya operasional yang cukup tinggi, mencapai sekitar Rp400 ribu per hari.
Peserta FGD juga mengungkapkan sejumlah titik api sulit dijangkau. Mesin air bantuan dari pihak luar yang berkapasitas besar membutuhkan biaya operasional tinggi, sementara sumber air cenderung mengering saat musim kemarau.
Baca Juga: Kasus Pneumonia di Kalimantan Barat Meningkat, ISPA Masih Fluktuatif di Tengah Kabut Asap Karhutla
Dalam FGD juga disampaikan bahwa sekitar 70 persen lahan yang terbakar merupakan lahan milik orang dari luar daerah yang tidak dimanfaatkan atau berupa lahan tidur.
Tim PKM FISIP Untan kemudian memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak menyerah dalam menghadapi karhutla. Namun, langkah utama yang ditekankan adalah mencegah kebakaran sebelum terjadi.
Kearifan lokal dan modal sosial yang telah dimiliki masyarakat Kuala Dua dinilai dapat menjadi penggerak dalam mencegah karhutla. Peran para pemimpin lokal juga menjadi salah satu catatan dalam FGD, terutama untuk menggerakkan masyarakat dalam mencegah dan memadamkan karhutla di tengah kondisi perubahan iklim yang membuat potensi kebakaran semakin mudah terjadi.
Pada sesi penutup, peserta menyepakati sejumlah rencana aksi di tingkat lokal. Salah satunya mengembangkan contoh keberhasilan kelompok tani yang memanfaatkan sumur dangkal dengan sumber air tanah pada kedalaman sekitar delapan meter. Sumur tersebut dapat digunakan untuk menyedot air ketika kondisi parit dan sumber air lainnya mengering.
Baca Juga: 58 Wilayah Malaysia Dilanda Kabut Asap
Pemanfaatan sumur dangkal itu dinilai dapat menjadi contoh praktik baik atau best practice, tidak hanya untuk menghadapi karhutla, tetapi juga mendukung kebutuhan pertanian dan peternakan warga. Selain itu, peserta sepakat meningkatkan komunikasi, kerja sama, gotong royong, dan sikap saling menolong dalam menjaga Desa Kuala Dua dari ancaman karhutla.
“Seperti semaraknya warga dalam menyikapi penyelenggaraan Robo-robo,” pungkas Zulkarnaen selaku Ketua Tim PKM FISIP Untan.(bar/r)
Editor : Hanif