PONTIANAK POST - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi potensi perluasan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah fenomena El Nino. Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi salah satu wilayah yang terdeteksi sebaran asap berdasarkan citra pada 16 Agustus 2026.
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengatakan kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal. Situasi tersebut menuntut kewaspadaan yang tinggi terhadap potensi karhutla dan risiko munculnya asap.
“Kewaspadaan semua pihak menjadi penting untuk mencegah karhutla, terutama ketika kondisi iklim tahun ini berpotensi lebih kering dan panas dibandingkan periode normal,” kata Menhut dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (18/8).
Baca Juga: Kemenhut Ungkap Penanganan Kasus Karhutla di Kalbar, Satu Tersangka Telah Ditetapkan
Asap Terdeteksi di Kalimantan Barat
Raja Antoni mengatakan citra sebaran asap pada 16 Agustus 2026 pukul 13.00 WIB menunjukkan asap terdeteksi di sejumlah wilayah, termasuk Kalbar.
Selain Kalbar, asap juga terdeteksi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Selatan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian di tengah meningkatnya ancaman karhutla akibat kondisi cuaca yang lebih panas dan kering.
Baca Juga: BMKG: Kemarau Kalbar hingga September, Ajak Waspadai Karhutla dan Asap
El Nino Disebut Mirip 2015
Raja Antoni kembali mengingatkan ancaman El Nino tahun ini yang memiliki kemiripan dengan fenomena El Nino pada 2015.
Pemerintah terus memantau perkembangan kondisi iklim bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), termasuk untuk mengantisipasi dampaknya terhadap potensi karhutla.
“Per hari ini lebih tinggi dari 2015. Ini data dari BMKG yang kami selalu koordinasi. Sampai pagi ini saya terus berkoordinasi dengan BMKG,” kata dia.
Berdasarkan data BMKG, El Nino saat ini berada pada intensitas sangat kuat dengan indeks Nino 3.4 mencapai +2,19. Kondisi tersebut menunjukkan suhu muka laut di Samudera Pasifik lebih hangat dibandingkan kondisi normal dan berpotensi menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia.
IOD Positif Berpotensi Kurangi Curah Hujan
Ancaman karhutla juga berpotensi meningkat karena kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi memasuki fase positif pada September-November 2026.
Fenomena tersebut berpotensi semakin mengurangi curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Menurut Menhut, fenomena El Nino yang datang lebih awal membuat kondisi cuaca menjadi lebih panas dan kering serta berlangsung lebih lama. Situasi ini meningkatkan potensi terjadinya karhutla sekaligus memperbesar risiko munculnya asap.
Baca Juga: Cegah Karhutla, Kementerian Kehutanan Sidak 4 Perusahaan di Kalbar
Masyarakat Diminta Waspadai Sumber Api
Menhut Raja Antoni mengingatkan masyarakat maupun korporasi agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca yang panas dan kering.
Ia juga meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap sumber api sekecil apa pun, termasuk tidak membuang puntung rokok sembarangan.
“Jangan membakar lahan. Masyarakat dan korporasi harus sama-sama waspada. Bahkan puntung rokok pun jangan sampai dibuang sembarangan, karena dalam kondisi kering seperti ini bisa menjadi sumber api,” kata dia.
Pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan BMKG untuk memantau perkembangan kondisi iklim dan mengantisipasi potensi karhutla. Deteksi asap di Kalbar menjadi salah satu kondisi yang perlu mendapat perhatian di tengah ancaman cuaca yang lebih panas dan kering.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara