PONTIANAK POST – Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) Kota Pontianak mulai memasuki tahap pekerjaan konstruksi. Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas sanitasi, kesehatan lingkungan permukiman, dan kualitas hidup masyarakat Kota Pontianak.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, pembangunan jaringan utama SPALD-T akan membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura. Pekerjaan konstruksi dilakukan menggunakan metode galian terbuka maupun jacking.
Metode tersebut diperlukan karena jaringan pipa yang ditanam memiliki kedalaman cukup besar, terutama pada pipa primer.
“Nanti kita akan menanam pipa primer dengan kedalaman antara 6 sampai 12 meter. Kemudian disambungkan dengan pipa sekunder dan tersier yang langsung terhubung ke rumah maupun bangunan,” jelasnya usai Kick-off Pembangunan SPALD-T Kota Pontianak di Hotel Ibis, Rabu (19/8/2026).
Baca Juga: SPALD-T Rp1,7 Triliun Mulai Dibangun, Pengelolaan Limbah Pontianak Dibenahi
SPALD-T Olah Air Limbah Rumah Tangga
Menurut Edi, jaringan SPALD-T akan mengalirkan air limbah domestik yang berasal dari kloset, floor drain, kegiatan mencuci, dan sumber air limbah rumah tangga lainnya.
Air limbah tersebut akan masuk ke jaringan pipa secara gravitasi, kemudian disedot dan diolah agar tidak langsung mencemari lingkungan.
“Air limbah rumah tangga disedot dan diolah menjadi air yang lebih bersih,” katanya.
Edi menyebut, kapasitas pengolahan air limbah domestik ditargetkan mencapai 24 ribu meter kubik per hari. Sementara sambungan rumah, kantor, maupun tempat usaha ditargetkan menjangkau lebih dari 15 ribu sambungan.
Kondisi Tanah Jadi Tantangan Pembangunan
Meski demikian, Edi mengakui pelaksanaan konstruksi SPALD-T memiliki sejumlah tantangan teknis. Kondisi tanah Pontianak yang lembek dan bergambut, muka air tanah, serta keterbatasan ruang di jalur utama menjadi faktor yang harus diperhatikan.
Selain itu, sejumlah kawasan yang dilalui proyek merupakan jalur penting distribusi angkutan berat dari dan menuju pelabuhan. Kawasan tersebut juga terdapat perkantoran, pendidikan, pasar, dan permukiman.
Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan lalu lintas maupun dampak sosial selama pekerjaan berlangsung.
“Ini tantangan dalam pelaksanaan, sehingga bisa menyebabkan permasalahan di lapangan seperti kemacetan dan masalah sosial lainnya,” katanya.
Edi memastikan pekerjaan jaringan dilakukan di badan jalan atau ruang milik jalan sehingga tidak menimbulkan persoalan pembebasan lahan.
Namun, masyarakat tetap perlu mengantisipasi dampak pekerjaan seperti perlambatan lalu lintas serta keberadaan alat dan material di sekitar jalan. Pemerintah daerah telah menyiapkan rencana mitigasi terhadap sejumlah potensi persoalan di lapangan.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Kebut Proyek SPALD-T untuk Wujudkan Revolusi Sanitasi Kota
Pengelolaan SPALD-T Dilakukan Perumda Tirta Khatulistiwa
Edi mengatakan, setelah pembangunan selesai, pengelolaan SPALD-T akan dilakukan oleh Perumda Tirta Khatulistiwa melalui direktur khusus yang menangani bidang sanitasi.
“Untuk pengelolaannya nanti oleh Perumda Tirta Khatulistiwa, dengan direktur khusus yang menangani sanitasi,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pembangunan SPALD-T dilakukan secara bertahap hingga tahun 2030. Total kebutuhan anggaran yang disampaikan Kementerian PU mencapai sekitar Rp1,7 triliun dan dibagi dalam beberapa tahap pelaksanaan berdasarkan segmen pekerjaan.
Pembangunan tersebut diharapkan memberikan dampak terhadap perbaikan sanitasi kota. Dengan pengelolaan air limbah yang lebih baik, lingkungan permukiman diharapkan menjadi lebih sehat, bersih, dan nyaman bagi masyarakat.
Kementerian PU Tekankan Akurasi Konstruksi
Plt Direktur Sanitasi Kementerian Pekerjaan Umum Sandhi Eko Bramono menjelaskan, sanitasi dan penyediaan air bersih memiliki hubungan yang erat.
Menurutnya, pengelolaan air limbah domestik yang baik dapat melindungi kualitas air baku sehingga sistem penyediaan air minum menjadi lebih aman.
Sandhi menyebut, sistem serupa telah diterapkan di sejumlah daerah di Indonesia, di antaranya Jakarta, Banda Aceh, Jambi, Pekanbaru, Balikpapan, Denpasar, hingga Yogyakarta.
Untuk Pontianak, Sandhi mengakui terdapat tantangan teknis karena kondisi geografis dan karakter tanah yang berbeda.
Sistem jaringan air limbah umumnya tidak menggunakan tekanan dan mengandalkan gravitasi, sehingga ketepatan konstruksi menjadi faktor penting.
“Keakuratan konstruksi ini menjadi penting karena pipa air limbah tidak bertekanan, rata-rata mengalir gravitasi. Kepresisian pada waktu konstruksi, termasuk kemiringan pipa, menjadi penting,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas air hasil olahan atau efluen harus memenuhi baku mutu yang ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup. Di Pontianak, pengolahan limbah akan dilakukan melalui dua instalasi pengolahan air limbah domestik, yakni di Nipah Kuning dan Martapura.
“Pengolahan limbah akan membunuh mikroorganisme patogen, sehingga tidak lagi menjadi sumber pencemar biologis, baru kemudian dilepas ke sungai,” pungkasnya.
Sejumlah Ruas Jalan Masuk Tahap Pekerjaan
Pembangunan SPALD-T akan berlangsung di sejumlah ruas jalan dengan pelaksanaan menyesuaikan tahapan dan jadwal pekerjaan.
Ruas jalan yang masuk rencana pekerjaan antara lain:
-
Jl. Komyos Sudarso
-
Jl. Pelabuhan Rakyat
-
Jl. Sapta Marga
-
Jl. Komyos Sudarso
-
Jl. Atot Achmad
-
Jl. Karet
-
Gg. Alpokat Permai
-
Komp. Yuka
-
Komp. Yuka
-
Jl. DR. Setia Budi
-
Jl. Ketapang
-
Jl. Hijas
-
Jl. Mahakam
-
Jl. Tanjungpura
-
Jl. Siam
-
Jl. Jendral Urip
-
Jl. Kenari
-
Jl. Rajawali
-
Jl. Wolter Monginsidi
-
Jl. Nusa Indah I
-
Jl. Nusa Indah III
-
Jl. Ir. Juanda
Pemerintah juga menyediakan layanan keluhan dan pengaduan masyarakat melalui surel cisp03kotapontianak@gmail.com serta layanan telepon selama jam kerja melalui 0821-877-9464. (*)
Editor : Uray RonaldSumber : Pemkot Pontianak