22 Ruas Jalan Pontianak Dibongkar untuk Proyek SPALD-T, Cek Kawasan yang Terdampak

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:37 WIB
BERSIHKAN PARIT: Wali Kota Pontianaka Edi R Kamtono bersama warga membersihkan saluran air di Jalan Prof M Yamin.
BERSIHKAN PARIT: Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama warga membersihkan saluran air di Jalan Prof. M. Yamin, Pontianak beberapa waktu lalu. Pembangunan SPALD-T akan segera dimulai untuk membenahi sanitasi kota.

 

PONTIANAK POST – Pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) Kota Pontianak akan melintasi 22 ruas jalan. Pekerjaan jaringan pipa yang dimulai tahun ini dan berlangsung bertahap hingga 2030 berpotensi mengganggu lalu lintas serta aktivitas warga di sepanjang jalur proyek.

Jaringan utama SPALD-T membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura. Pipa primer akan ditanam pada kedalaman sekitar 6 hingga 12 meter dan disambungkan dengan jaringan sekunder serta tersier menuju rumah, perkantoran, dan tempat usaha.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan kondisi tanah yang lembek dan bergambut, muka air tanah tinggi, serta keterbatasan ruang menjadi tantangan pembangunan. Terlebih, sebagian jalur proyek merupakan akses kendaraan berat dari dan menuju pelabuhan.

“Ini tantangan dalam pelaksanaan, sehingga bisa menyebabkan permasalahan di lapangan seperti kemacetan dan masalah sosial lainnya,” kata Edi, Rabu (19/8).

22 Ruas Masuk Jalur Proyek

Pekerjaan SPALD-T direncanakan melintasi sejumlah ruas jalan utama dan jalan lingkungan. Berdasarkan daftar yang disampaikan pemerintah, ruas yang masuk jalur pekerjaan adalah:

  1. Jalan Komyos Sudarso
  2. Jalan Pelabuhan Rakyat
  3. Jalan Sapta Marga
  4. Jalan Atot Achmad
  5. Jalan Karet
  6. Gang Alpokat Permai
  7. Kompleks Yuka
  8. Jalan Dr. Setia Budi
  9. Jalan Ketapang
  10. Jalan Hijas
  11. Jalan Mahakam
  12. Jalan Tanjungpura
  13. Jalan Siam
  14. Jalan Jenderal Urip
  15. Jalan Kenari
  16. Jalan Rajawali
  17. Jalan Wolter Monginsidi
  18. Jalan Nusa Indah I
  19. Jalan Nusa Indah III
  20. Jalan Ir. Juanda

Catatan: bahan Pemkot yang dipublikasikan memuat 22 entri, tetapi terdapat pengulangan Jalan Komyos Sudarso dan Kompleks Yuka. Setelah penghapusan duplikasi, daftar yang dapat diidentifikasi berjumlah 20 ruas/lokasi unik. Karena itu, jumlah ruas sebaiknya dikonfirmasi kembali kepada pelaksana proyek sebelum dicetak sebagai angka final.

Komyos Sudarso Jadi Perhatian

Jalan Komyos Sudarso menjadi salah satu ruas yang perlu mendapat perhatian karena memiliki fungsi penting bagi pergerakan kendaraan di Pontianak Barat.

Bahkan, rencana pelebaran jalan tersebut harus menyesuaikan dengan pembangunan SPALD-T. Pemkot Pontianak sebelumnya menyatakan pengerjaan fisik pelebaran Jalan Komyos Sudarso ditunda sementara karena jaringan pipa SPALD-T akan ditanam melalui jalur tersebut.

Kondisi itu menunjukkan proyek sanitasi tidak hanya berdampak pada pekerjaan bawah tanah. Jadwal pembangunan infrastruktur jalan juga harus diselaraskan agar pekerjaan tidak dilakukan berulang dan menghamburkan anggaran.

Pemerintah sebelumnya menargetkan pelebaran Jalan Komyos Sudarso selesai pada 2026. Namun, proyek SPALD-T membuat pengerjaan fisik jalan tersebut perlu menunggu hingga pekerjaan jaringan perpipaan selesai.

Jalan Padat Berpotensi Terganggu

Persoalan lalu lintas menjadi perhatian karena jalur SPALD-T tidak hanya melewati kawasan permukiman. Sejumlah ruas berada di sekitar kawasan perkantoran, sekolah, pasar, hingga jalur kendaraan berat menuju dan dari pelabuhan.

Pekerjaan juga menggunakan metode galian terbuka dan jacking. Pilihan metode disesuaikan dengan kondisi lapangan dan kedalaman pipa.

Edi mengatakan jaringan akan dibangun di badan jalan atau ruang milik jalan sehingga tidak membutuhkan pembebasan lahan. Namun, pekerjaan tetap berpotensi membuat lalu lintas melambat karena keberadaan alat berat, material, dan aktivitas konstruksi.

Pemerintah telah menyiapkan mitigasi terhadap potensi persoalan di lapangan. Namun, rincian jadwal pengerjaan setiap ruas dan skema rekayasa lalu lintas belum disampaikan secara terbuka.

Namun, pemerintah belum mempublikasikan secara rinci jadwal pengerjaan setiap ruas maupun skema rekayasa lalu lintas selama konstruksi. Padahal, informasi tersebut penting bagi warga dan pengguna jalan yang akan terdampak langsung oleh pekerjaan jaringan perpipaan.

Pemkot Pontianak menyebut pekerjaan dilakukan bertahap sesuai segmen konstruksi. Dengan sebagian jalur berada di kawasan padat, akses angkutan berat, perkantoran, sekolah, pasar, dan permukiman, pengaturan lalu lintas menjadi bagian penting untuk menjaga mobilitas warga selama proyek berlangsung.

Kontak Pengaduan Disiapkan

Pemkot Pontianak menyediakan saluran pengaduan bagi masyarakat selama pelaksanaan proyek. Warga dapat menyampaikan keluhan melalui surel cisp03kotapontianak@gmail.com atau telepon 0821-877-9464 pada jam kerja.

Saluran tersebut menjadi penting karena pembangunan akan berlangsung dalam waktu panjang. Warga yang rumah, tempat usaha, maupun aktivitas hariannya berada di jalur proyek membutuhkan informasi dan respons cepat ketika terjadi gangguan di lapangan.

Gangguan Sementara, Manfaat Jangka Panjang

Di balik potensi gangguan lalu lintas, pembangunan SPALD-T ditujukan untuk membenahi persoalan sanitasi Kota Pontianak. Sistem ini akan mengalirkan limbah domestik dari kloset, floor drain, aktivitas mencuci, dan sumber rumah tangga lainnya menuju instalasi pengolahan.

Kapasitas pengolahan ditargetkan mencapai 24 ribu meter kubik per hari, dengan lebih dari 15 ribu sambungan rumah, perkantoran, dan tempat usaha.

Pengolahan dilakukan di dua instalasi, yakni di Nipah Kuning dan Martapura. Air limbah akan diolah sebelum dilepas ke lingkungan untuk mengurangi pencemar dan membunuh mikroorganisme patogen.

Plt Direktur Sanitasi Kementerian Pekerjaan Umum Sandhi Eko Bramono mengatakan ketepatan konstruksi menjadi faktor penting karena sistem perpipaan air limbah mengandalkan gravitasi.

“Keakuratan konstruksi ini menjadi penting karena pipa air limbah tidak bertekanan, rata-rata mengalir gravitasi. Kepresisian pada waktu konstruksi, termasuk kemiringan pipa, menjadi penting,” jelasnya.

Pembangunan dilakukan bertahap hingga 2030 dengan kebutuhan anggaran sekitar Rp1,7 triliun. Setelah beroperasi, SPALD-T akan dikelola Perumda Tirta Khatulistiwa melalui direktur khusus yang menangani sanitasi.

Bagi warga, manfaat sistem ini baru akan terasa setelah jaringan beroperasi. Sementara selama konstruksi, warga di sepanjang ruas terdampak harus bersiap menghadapi perubahan lalu lintas dan aktivitas di sekitar lokasi pekerjaan.

Karena itu, keterbukaan informasi mengenai ruas yang dikerjakan, jadwal pekerjaan, durasi gangguan, serta jalur alternatif menjadi sama pentingnya dengan pembangunan fisik proyek. Warga tidak hanya membutuhkan sanitasi yang lebih baik, tetapi juga kepastian agar tetap dapat beraktivitas selama proses pembangunan berlangsung.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
jaringan pipa SPALD-T Pontianak Jalan Komyos Sudarso proyek sanitasi rekayasa lalu lintas