PONTIANAK POST — Politeknik Negeri Pontianak (POLNEP) mendorong penguatan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pangan lokal melalui diversifikasi produk olahan ikan, pemanfaatan teknologi tepat guna, kemasan ramah lingkungan, dan pemasaran berbasis digital.
Upaya tersebut dilakukan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Tahun Pendanaan 2026 yang dilaksanakan pada 9–10 Juni 2026 di Desa Belungai Dalam, Kecamatan Toba, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat.
Program yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Riset dan Pengembangan (Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut melibatkan Kelompok Sahabat Maju sebagai mitra.
Baca Juga: Inovasi Virtual Tour 360°, Polnep Pikat Civitas Akademika Politeknik Shah Alam Malaysia
Kegiatan bertajuk “Penerapan Teknologi Digital untuk Diversifikasi Produk Olahan Protein Ikan Berkelanjutan dan Desain Kemasan Ramah Lingkungan pada UMKM Pangan Lokal” itu diketuai Sarah Bibi, dengan anggota tim Wahyu Wira Pratama, Mariana Syamsudin, dan Tommi Suryanto. Program tersebut juga melibatkan mahasiswa Ahmad Baqi dan Muhammad Syarwani.
Program diarahkan untuk meningkatkan kapasitas anggota Kelompok Sahabat Maju, yang sebagian besar merupakan ibu rumah tangga, dalam mengolah hasil perikanan menjadi produk bernilai tambah. Selain pelatihan, tim POLNEP memberikan pendampingan dalam proses produksi, pengemasan, pelabelan, hingga pemasaran.
Sebelum program dilaksanakan, pemanfaatan hasil perikanan oleh kelompok mitra masih dilakukan secara sederhana. Pemasaran produk pun masih mengandalkan cara konvensional sehingga potensi ikan lokal belum sepenuhnya memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Ketua tim pengabdian, Sarah Bibi, mengatakan pengolahan ikan menjadi produk pangan siap jual dapat menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan sekaligus membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.
Baca Juga: Dosen Akuntansi Polnep Kenalkan Sakubijak ke Mahasiswa Malaysia Untuk Perkuat Kemandirian Finansial
“Potensi ikan lokal sebenarnya sangat besar. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat dapat mengolahnya menjadi produk yang memiliki nilai tambah, dikemas dengan baik, dan dipasarkan secara lebih luas,” ujar Sarah.
Dalam kegiatan tersebut, anggota Kelompok Sahabat Maju mendapatkan pelatihan dan praktik langsung membuat sejumlah produk diversifikasi olahan ikan, salah satunya nugget ikan.
Proses produksi didukung dengan teknologi tepat guna, antara lain mesin penggiling daging, alat pengukus, dan vacuum sealer. Penggunaan peralatan tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan efisiensi, kebersihan, dan konsistensi proses produksi.
Tidak hanya pada tahap pengolahan, tim juga memberikan pendampingan mengenai pengemasan dan pelabelan produk. Aspek tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas sekaligus daya saing produk ketika dipasarkan kepada konsumen.
Selain pengolahan dan pengemasan, mitra diperkenalkan pada pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pemasaran. Salah satunya melalui penggunaan platform e-commerce yang dapat membuka akses pasar lebih luas di luar wilayah desa.
Tim juga memberikan pendampingan dalam merancang kemasan yang menarik, higienis, informatif, serta memperhatikan aspek ramah lingkungan. Mitra diberikan pemahaman mengenai informasi yang perlu dicantumkan pada kemasan, antara lain komposisi bahan, informasi gizi, dan tanggal kedaluwarsa.
“Produk yang bagus membutuhkan kemasan yang mampu menyampaikan kualitasnya kepada konsumen. Karena itu, kami tidak hanya mengajarkan cara membuat produk, tetapi juga bagaimana produk tersebut tampil dan dipasarkan,” kata Sarah.
Setelah pelatihan dan praktik, tim POLNEP melanjutkan kegiatan melalui pendampingan dan monitoring. Langkah tersebut dilakukan untuk melihat sejauh mana pengetahuan dan teknologi yang diperkenalkan dapat diterapkan dalam kegiatan produksi maupun pemasaran mitra.
Pendampingan juga diberikan ketika mitra menghadapi kendala dalam proses produksi, pengemasan, dan pemasaran. Dengan demikian, teknologi yang diperkenalkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam aktivitas usaha.
Melalui program tersebut, POLNEP berharap Kelompok Sahabat Maju dapat meningkatkan keterampilan pengolahan hasil perikanan sekaligus mengembangkan usaha berbasis potensi lokal.
Editor : Rafael B. Junior