Kualitas Udara Tidak Sehat, Pemkot Pontianak Pertimbangkan Kembali Pembelajaran Daring

Deny Hamdani • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 11:50 WIB
Papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang berada di dekat pos lantas simpang pajak tak berfungsi sehingga tidak bisa memantau langsung kualitas udara di Kota Pontianak. (HARYADI/PONTIANAKPOST)
Papan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang berada di dekat pos lantas simpang pajak tak berfungsi sehingga tidak bisa memantau langsung kualitas udara di Kota Pontianak. (HARYADI/PONTIANAKPOST)

PONTIANAK POST – Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Barat meski hujan telah mengguyur dalam beberapa hari terakhir. Kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat membuat Pemerintah Kota Pontianak mempertimbangkan kembali penerapan pembelajaran secara daring jika kondisi semakin memburuk.

Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan hujan yang turun hampir merata di Kota Pontianak belum mampu mengembalikan kualitas udara ke kondisi normal. Pemerintah kota masih memantau perkembangan kualitas udara sebelum memutuskan perubahan pola pembelajaran.

“Beberapa hari lalu memang hujan sudah mengguyur Kota Pontianak. Bahkan hampir merata. Tapi ternyata belum juga mampu mengembalikan kondisi udara ini kembali normal,” ungkap Edi, Rabu (19/8).

Baca Juga: Kabut Asap Masih Muncul, DPRD Kalbar Dukung PJJ untuk Pelajar Kubu Raya

Edi menyebut berdasarkan pemantauan BMKG, tidak ditemukan titik api di wilayah Kota Pontianak. Kebakaran lahan juga tidak terpantau. Kondisi tersebut menunjukkan pengawasan oleh tim pemadam kebakaran dan BPBD bersama pemadam swasta di sejumlah kawasan rawan berjalan efektif.

Namun, kabut asap yang masih dirasakan warga diduga berasal dari wilayah kabupaten tetangga. Karena itu, pemerintah kota tetap meningkatkan pengawasan, terutama di kawasan yang dinilai rawan terjadi kebakaran lahan.

“Kita pantau terus kondisi udara ini. Kalau makin tidak sehat pembelajaran akan kembali daring,” tegasnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono mengatakan hasil pemantauan alat Air Quality Monitoring System (AQMS) menunjukkan kualitas udara berada pada level tidak sehat. Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan pun diimbau menggunakan masker.

Baca Juga: Kualitas Udara Menurun, Kubu Raya Perpanjang PJJ untuk Sekolah pada 19–22 Agustus 2026

Menurut Syarif, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung secara tatap muka. Pemkot Pontianak belum mengambil keputusan untuk kembali menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena kondisi udara masih fluktuatif.

Kualitas udara cenderung memburuk pada subuh hingga pagi sekitar pukul 07.00 WIB. Memasuki sekitar pukul 08.00 WIB, kondisi biasanya mulai membaik, salah satunya dipengaruhi kelembapan dan paparan matahari pagi.

Di Pontianak, indeks kualitas udara sempat berada di angka 87. Angka tersebut masih masuk kategori tidak sehat. Sementara di Kubu Raya, kualitas udara dilaporkan jauh lebih buruk dengan angka mencapai 230.

Baca Juga: Kualitas Udara Memburuk, Sekolah di Sintang Terapkan Pembelajaran Daringd

Di Kubu Raya, kabut asap juga masih muncul meski hujan turun di sejumlah wilayah. Anggota DPRD Kalbar daerah pemilihan Kubu Raya-Mempawah, Moh. Darwis, mengatakan masih terdapat beberapa titik api yang belum sepenuhnya padam.

“Memang ada beberapa titik api yang hari ini belum padam. Sehingga spot-spot kabut asap ini masih cukup banyak di Kubu Raya,” kata Darwis.

Darwis mendukung kebijakan Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang melakukan uji coba PJJ dari rumah. Menurutnya, penerapan pembelajaran dari rumah perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan dapat mencakup jenjang SD, SMP hingga SMA.

Selain berdampak terhadap kesehatan, kabut asap juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat. Karena itu, Darwis meminta warga menghentikan pembukaan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca masih kering dan rawan kebakaran.

“Pesan kami, kami mengimbau kepada seluruh warga Kabupaten Kubu Raya untuk tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Dampak negatifnya sangat luar biasa,” ujarnya.

Ia mengatakan api yang semula berasal dari pembukaan lahan dalam skala kecil dapat merembet ke lahan di sekitarnya. Kondisi tersebut membuat kebakaran sulit dikendalikan dan dapat berlangsung selama berhari-hari.

Keterbatasan sumber air juga menjadi kendala bagi relawan dan petugas pemadam kebakaran di lapangan. Hujan yang turun dinilai baru mampu mengurangi sebagian titik api, tetapi belum sepenuhnya mengembalikan cadangan air di kawasan rawan kebakaran.

“Ketika ada kebakaran lagi, susah mencari air. Banyak kita temukan di beberapa wilayah, para pemadam banyak yang pasrah menunggu api padam dengan sendirinya,” katanya.

Sementara itu, Satgas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Kota Pontianak terus melakukan pemantauan di kawasan rawan, terutama Pontianak Utara, Pontianak Selatan dan Pontianak Tenggara. Warga diminta segera melaporkan apabila menemukan kebakaran agar petugas dapat melakukan penanganan sedini mungkin.(den/iza)

Editor : Hanif
Karhutla Kubu Raya Kualitas udara Pontianak kabut asap Pontianak pembelajaran daring Pontianak kabut asap Kalbar