PONTIANAK POST - Tim Pengabdian kepada Masyarakat dari Universitas Tanjungpura dan ITEKES Muhammadiyah Kalbar mengembangkan mading tiga dimensi sebagai media komunikasi untuk menerjemahkan dan menyampaikan pesan kebijakan stunting kepada kepada kelompok sasaran, dengan melibatkan Rumah Pintar Punggur Cerdas sebagai mitra.
Mading dilengkapi dengan materi visual yang mengangkat dampak stunting, gizi seimbang, pola hidup sehat. Tim pelaksana terdiri dari Dwi Nur Handayani, S.Sos., M.AP., Bima Sujendra, S.IP., M.Si., dan Nuruniyah, S.KM., M.Kes, serta mahasiswa Intana, Syafna Khairatun Nisa, dan Tri Anisa Tawakal. Kegiatan ini didanai melalui hibah BIMA DPPM Risbang Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026.
Nuruniyah, S.KM., M.Kes, mengatakan Pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika masalah pertumbuhan telah terjadi. Upaya penanganannya perlu dilakukan sejak hulu dengan melibatkan kelompok yang berada pada fase sebelum memasuki kehidupan berkeluarga, termasuk remaja.Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting yang menempatkan remaja sebagai salah satu kelompok sasaran dalam pelaksanaan percepatan penurunan stunting. Penempatan remaja sebagai kelompok sasaran menunjukkan bahwa pencegahan stunting bukan semata-mata persoalan ketika seseorang telah menjadi orang tua. Remaja juga memiliki ruang untuk berperan dari sekarang, terutama melalui kebiasaan yang berkaitan dengan kesehatan dan pola hidup sehari-hari.
Dwi Nur Handayani, S.Sos., M.AP., mengatakan "Kebijakan yang menempatkan remaja sebagai salah satu kelompok sasaran tidak serta-merta membuat remaja memahami posisi dan perannya. Pesan kebijakan yang disusun dalam bahasa teknis perlu diterjemahkan ke dalam informasi yang lebih sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan remaja," ungkapnya.
Dalam pelaksanaannya, tim terlebih dahulu memberikan edukasi mengenai stunting dan peran remaja. Melalui diskusi dan komunikasi dengan kelompok sasaran, teridentifikasi kebiasaan mengkonsumsi makanan cepat saji (fast food), makanan ringan (snacking), dan minuman tinggi gula. Selain itu, masih terdapat kebiasaan melewatkan sarapan, kurang memperhatikan prinsip gizi seimbang, serta kebiasaan berolahraga yang belum menjadi bagian rutin dalam kehidupan sehari-hari.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa informasi tentang pencegahan stunting perlu dikaitkan dengan realitas kehidupan remaja, bukan hanya disampaikan dalam bentuk definisi dan informasi yang bersifat teknis.
"Karena itu, program ini menempatkan komunikasi sebagai bagian penting dari upaya mendekatkan kebijakan dengan kelompok sasaran. Pesan tentang stunting diterjemahkan menjadi materi yang membahas hal-hal yang dapat dilakukan remaja dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Proses pembuatan mading dilakukan secara bertahap yang berlangsung pada Mei hingga Juli 2026. Kegiatan meliputi penentuan subtema, penyusunan materi, persiapan bahan dan miniatur, hingga penataan mading. Mading dikembangkan dengan menggunakan unsur visual, gambar, dan miniatur agar informasi mengenai stunting dapat disampaikan secara lebih menarik dan konkret. Materi yang disajikan dikaitkan dengan dampak stunting, gizi seimbang, pola hidup sehat.
Selain mading tiga dimensi, tim mengembangkan modul “Remaja Sehat Generasi Bebas Stunting” sebagai bahan bacaan pendukung sekaligus sarana pendalaman materi. Modul disusun menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, serta dilengkapi gambar dan ilustrasi agar informasi lebih menarik dan mudah dipahami oleh remaja.
Materi di dalamnya mencakup antara lain: stunting, gaya hidup remaja, gizi seimbang untuk remaja, kenapa remaja harus peduli stunting, dan remaja sebagai agen perubahan. Kehadiran modul melengkapi informasi yang disampaikan melalui mading tiga dimensi, mengingat tidak seluruh materi dapat disajikan secara rinci melalui media visual tersebut. Jika mading berfungsi untuk menyampaikan pesan secara ringkas, menarik, dan mudah dilihat, modul memberikan ruang yang lebih luas bagi remaja untuk memahami dan memperdalam materi.
"Dengan demikian, kedua media saling melengkapi: mading menarik perhatian dan memperkenalkan pesan utama, sedangkan modul memperkuat pemahaman melalui informasi yang lebih lengkap dan dapat dibaca kembali secara mandiri," ulasnya.
Pada akhirnya, kegiatan ini tidak hanya diarahkan agar remaja mengetahui dan memahami stunting, tetapi juga mampu mengenali peran yang dapat mereka lakukan dalam upaya pencegahannya. Pemahaman tersebut diharapkan mendorong remaja untuk mulai menerapkan perilaku hidup sehat sekaligus memiliki kepedulian untuk berbagi informasi dengan lingkungan sekitarnya.
Untuk mendukung keberlanjutan program, peserta yang telah mengikuti kegiatan edukasi juga akan mendapatkan pendampingan dalam memanfaatkan mading tiga dimensi dan modul sebagai media untuk menyampaikan kembali pesan mengenai pencegahan stunting. Melalui pendampingan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mampu memahami materi, tetapi juga dapat mengkomunikasikan pesan yang telah dipelajari kepada teman sebaya maupun peserta literasi lainnya di Rumah Pintar Punggur Cerdas. Dengan demikian, keberlanjutan program diarahkan pada terbentuknya peran remaja sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat membantu menyebarluaskan pesan hidup sehat dan pencegahan stunting di lingkungan sekitarnya dengan memanfaatkan media komunikasi yang telah tersedia.
Ketua Rumah Pintar Punggur Cerdas, Umilia menyampaikan terima kasih atas ruang kolaborasi yang diberikan melalui kegiatan PKM ini. "Keberadaan media komunikasi yang dikembangkan tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk kelompok remaja sebagai sasaran utama kegiatan, tetapi juga berpotensi digunakan untuk mengedukasi peserta literasi lainnya dan masyarakat secara lebih luas," pungkasnya. (mrd/ser)
Editor : Hanif