Poltekkes Kemenkes Pontianak Edukasi Pola Asuh Sehat untuk Cegah Stunting Sejak Dini

Mirza Ahmad Muin • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:01 WIB
Kader dan Ibu Balita Didorong Kenali Pola Asuh Sehat untuk Cegah Stunting di Puskesmas Saigon
Kader dan Ibu Balita Didorong Kenali Pola Asuh Sehat untuk Cegah Stunting di Puskesmas Saigon

PONTIANAK POST - Mencegah stunting tidak cukup hanya dengan berbicara tentang makanan bergizi. Di balik tumbuh kembang seorang anak, terdapat pola pengasuhan, kebersihan, kesehatan, stimulasi, pemantauan pertumbuhan, serta interaksi positif antara anak dan orang tua.

Berangkat dari pemahaman tersebut, Dosen dan Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pontianak melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Edukasi Pola Asuh Sehat dalam Upaya Pencegahan Stunting di Wilayah Puskesmas Saigon Tahun 2026.”

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendekatkan pengetahuan kesehatan kepada masyarakat sekaligus memperkuat peran kader dan ibu balita sebagai garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Guru Besar IPB Ungkap Cara Tekan Biaya MBG hingga Rp7 Ribu per Porsi Tanpa Korbankan Gizi Anak

Mencegah Stunting Dimulai dari Rumah

Pencegahan stunting merupakan tanggung jawab bersama. Keluarga memiliki posisi penting karena sebagian besar keputusan terkait makanan, kebersihan, kesehatan, stimulasi, dan pengasuhan anak berlangsung di rumah.

Melalui edukasi pola asuh sehat, peserta mendapatkan pemahaman bahwa pertumbuhan anak tidak hanya ditentukan oleh kecukupan makanan. Anak juga membutuhkan pengasuhan yang responsif, lingkungan yang aman, stimulasi perkembangan, kebersihan, pemantauan pertumbuhan, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.

Salah satu materi yang ditekankan adalah praktik responsive feeding, yaitu kemampuan orang tua mengenali tanda lapar dan kenyang anak serta menciptakan suasana makan yang positif. Pendekatan ini menjadi bagian penting dari pengasuhan yang mendukung kesehatan, gizi, keamanan, dan perkembangan anak.

Dengan demikian, pesan yang ingin dibangun sederhana namun penting pencegahan stunting dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan keluarga setiap hari.

Baca Juga: Menerjemahkan Pesan Kebijakan Stunting kepada Remaja Melalui Mading Tiga Dimensi

Kader : Penghubung Penting antara Tenaga Kesehatan dan Keluarga

Dalam kegiatan ini, kader menjadi salah satu sasaran penting karena memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat melalui kegiatan posyandu.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan pengetahuan kader setelah diberikan edukasi. Sebanyak 70% kader mengalami peningkatan skor pengetahuan dan tidak ditemukan kader yang mengalami penurunan skor.

Baca Juga: Forikan dan Bunda PAUD Kalbar Bersinergi Tingkatkan Gizi Anak melalui Gerakan Gemar Makan Ikan

Hasil tersebut menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan secara terstruktur dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat kapasitas kader dalam mendukung kegiatan promotif dan preventif di masyarakat.

Namun, edukasi tidak berhenti pada peningkatan nilai post-test. 

Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan oleh kader kepada ibu dan keluarga balita dalam kegiatan posyandu maupun interaksi sehari-hari di masyarakat.

Pengetahuan Ibu Balita Juga Mengalami Perubahan. 

Baca Juga: Perawatan Tali Pusat Terbuka Cegah Infeksi pada Bayi Baru Lahir, PKM Dosen Bersama Mahasiswa Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pontianak

Selain kader, ibu balita menjadi sasaran penting dalam kegiatan ini, sebanyak 11 ibu yang mengikuti evaluasi secara lengkap, juga menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna secara statistik antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi.

Temuan ini menjadi gambaran bahwa edukasi pola asuh sehat dapat memberikan perubahan pengetahuan pada peserta yang mengikuti evaluasi secara lengkap.

Bukan Sekadar Tahu, tetapi Mampu Menerapkan meski hasil evaluasi menunjukkan perubahan pengetahuan, kegiatan ini juga memberikan satu pesan penting: mengetahui belum tentu langsung berarti mampu menerapkan.

Pola asuh sehat membutuhkan proses. Pengetahuan ibu perlu didukung oleh keterampilan, dukungan keluarga, lingkungan, akses pelayanan kesehatan, serta kondisi sosial ekonomi. Karena itu, edukasi perlu dilanjutkan dengan pendampingan dan penguatan pesan kesehatan secara berkelanjutan.

Ke depan, penerapan pola asuh sehat dapat menjadi fokus evaluasi berikutnya. Bukan hanya bertanya “Apa yang sudah diketahui ibu?”, tetapi juga “Apa yang sudah dilakukan di rumah?”

Praktik pemberian makanan, kebersihan anak, pemantauan pertumbuhan, stimulasi perkembangan, serta pemanfaatan pelayanan kesehatan menjadi bagian penting yang perlu terus diperkuat.

Langkah Kecil untuk Dampak yang Lebih Besar. 

Kegiatan di Puskesmas Saigon menunjukkan bahwa upaya pencegahan stunting dapat dimulai dari penguatan pengetahuan masyarakat, terutama mereka yang sehari-hari berada paling dekat dengan anak: ibu, keluarga, dan kader.

Edukasi pola asuh sehat bukan sekadar kegiatan penyampaian materi. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan upaya membangun kesadaran bahwa setiap keluarga memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak.

Ketika kader semakin siap memberikan edukasi, ketika ibu semakin memahami kebutuhan anak, dan ketika keluarga mulai menerapkan pola pengasuhan yang sehat, maka langkah pencegahan stunting dapat bergerak lebih dekat ke tingkat rumah tangga.

Dari kader ke ibu. Dari ibu ke keluarga. Dari keluarga menuju generasi yang lebih sehat.

Melalui sinergi Poltekkes Kemenkes Pontianak, Puskesmas Saigon, kader, ibu balita, dan masyarakat, edukasi pola asuh sehat diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan pengabdian, tetapi menjadi bagian dari gerakan bersama untuk mewujudkan anak Indonesia yang sehat, tumbuh optimal, cerdas, dan bebas stunting.(ser)

Editor : Hanif
pola asuh sehat Puskesmas Saigon ibu balita Poltekkes Pontianak pencegahan stunting