PONTIANAK POST - Prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6% artinya lebih dari satu dari lima orang balita mengalami gangguan pertumbuhan. Target nasional pada tahun 2024, prevalensi stunting turun hingga 14%. Upaya pencegahan stunting terus dilakukan melalui berbagai pendekatan promotif dan preventif yang melibatkan masyarakat secara aktif. Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas). Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh tiga dosen, yakni Ratna Indah Kartika Sari, SST., M.Keb. selaku Ketua, Elma Marsita, S.Tr.Keb ., M.Tr Keb dan Aspia Lamana Selaku TIM dengan judul “Edukasi Pemberian Makanan Bergizi Kepada Kader Posyandu Dalam Upaya Pencegahan Stunting Di Wilayah Kerja Saigon. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi Dosen Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Pontianak menggelar pengabdian masyarakat, pada Tahun 2026.
Upaya pelaksanaan sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam meningkatkan kapasitas kader Posyandu sebagai salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Kader memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga, terutama orang tua yang memiliki bayi dan balita. Dalam kegiatan tersebut, para kader mendapatkan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi anak melalui pemberian makanan yang beragam, bergizi seimbang, aman, dan sesuai dengan kebutuhan serta usia anak. Materi juga diberikan dengan pendekatan praktis agar dapat diterapkan dan disampaikan kembali kepada masyarakat.
Edukasi tidak hanya membahas jenis makanan yang mengandung zat gizi penting, tetapi juga memberikan pemahaman mengenai penyusunan menu makanan bergizi menggunakan bahan pangan yang mudah diperoleh di lingkungan masyarakat. Kader diperkenalkan pada konsep pemenuhan gizi anak melalui sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah, serta sumber lemak dalam jumlah yang sesuai.
Tim Pengabmas menekankan bahwa pencegahan stunting perlu dilakukan sejak dini dan tidak hanya bergantung pada intervensi ketika anak sudah mengalami masalah pertumbuhan. Pemenuhan gizi yang optimal pada masa pertumbuhan merupakan salah satu bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak dan mencegah terjadinya gangguan pertumbuhan.
Kader Posyandu juga diberikan kesempatan untuk berdiskusi mengenai berbagai permasalahan yang sering ditemukan di masyarakat, seperti anak sulit makan, kurangnya variasi makanan, kebiasaan memilih makanan tertentu, serta keterbatasan keluarga dalam menyediakan makanan bergizi. Diskusi tersebut menjadi bagian penting dalam kegiatan karena kader dapat menghubungkan materi edukasi dengan kondisi nyata yang mereka temui saat menjalankan pelayanan Posyandu.
Melalui kegiatan ini, kader diharapkan tidak hanya memahami materi mengenai makanan bergizi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk memberikan edukasi kepada ibu dan keluarga balita. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan dapat diteruskan kepada masyarakat dan memberikan dampak yang lebih luas.
Kegiatan Pengabmas ini diharapkan dapat memperkuat peran kader Posyandu sebagai agen perubahan di masyarakat serta penghubung dalam membantu menyampaikan pesan-pesan kesehatan dengan bahasa yang sederhana, mudah dipahami, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.
Ketua/tim pelaksana kegiatan menyampaikan bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak secara berkelanjutan. "Kader Posyandu memiliki posisi yang sangat dekat dengan masyarakat. Dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader mengenai pemberian makanan bergizi, diharapkan edukasi tersebut dapat diteruskan kepada keluarga sehingga praktik pemberian makanan pada balita menjadi lebih baik.(ser)