PONTIANAK POST — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kalimantan Barat memperingatkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dari Ketapang dan Kayong Utara berpotensi terbawa angin menuju Kota Pontianak.
Asap bahkan berpotensi bergerak lintas wilayah hingga ke negara tetangga apabila kondisi angin mendukung.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Kalbar Soetikno mengatakan potensi tersebut dipengaruhi angin dominan dari arah tenggara hingga selatan serta rendahnya peluang hujan.
"Kondisi cuaca Kalbar saat ini belum menunjukkan peluang hujan yang signifikan sehingga potensi karhutla masih tinggi dalam sepekan ke depan," kata Soetikno di Pontianak, Jumat (21/8).
Baca Juga: Karhutla Kalbar Jadi Sorotan, KLH Terbitkan Instruksi Mendesak untuk Enam Gubernur
Ketapang dan Kayong Utara Jadi Perhatian
BMKG meminta masyarakat mewaspadai wilayah Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara dan Ketapang.
Ketiga wilayah tersebut diperkirakan memiliki peluang hujan yang sangat rendah dalam sepekan ke depan.
"Potensi karhutla masih tinggi, setidaknya sampai seminggu ke depan. Terutama wilayah Kabupaten Kubu Raya bagian selatan, Kayong Utara dan Ketapang, peluang terjadi hujannya sangat rendah sekali," ujar Soetikno.
Kondisi kering menjadi perhatian karena dapat meningkatkan risiko kebakaran sekaligus membuat asap bertahan lebih lama ketika terjadi karhutla.
Asap Ketapang Berpotensi Bergerak ke Pontianak
Selain curah hujan yang rendah, pola angin menjadi faktor penting dalam potensi penyebaran asap.
BMKG memantau angin di wilayah laut sebelah barat hingga pesisir Ketapang cukup kencang dengan arah dominan dari tenggara hingga selatan.
Kondisi tersebut memungkinkan asap dari sumber karhutla di Ketapang dan Kayong Utara bergerak menuju wilayah lain.
"Kalau ada karhutla kemungkinan akan cepat merambat. Arah gerak angin dominan dari tenggara hingga selatan, sehingga ketika di wilayah Ketapang, Kayong Utara yang di sana ada banyak titik karhutla, asapnya bisa terbawa sampai ke Bandara Supadio hingga ke Kota Pontianak," kata Soetikno.
Pergerakan asap juga perlu diwaspadai di sekitar Bandara Supadio dan Bandara Rahadi Oesman di Ketapang, terutama apabila konsentrasi asap meningkat.
Namun, potensi asap menyeberang ke negara tetangga tetap bergantung pada arah dan kecepatan angin serta perkembangan kebakaran di wilayah sumber.
Baca Juga: Karhutla Kalbar Capai 38.310 Hektare hingga Agustus 2026, Paling Luas di Ketapang
Hujan Kalbar Belum Merata hingga Akhir September
BMKG memperkirakan kondisi kering dan rendahnya curah hujan masih berlangsung hingga September 2026.
Risiko karhutla dan kabut asap karena itu masih perlu diwaspadai sebelum curah hujan berangsur kembali normal pada Oktober.
Pada 23-26 Agustus 2026, peluang hujan masih terdapat di sejumlah wilayah Kalbar.
Wilayah yang berpotensi mendapat hujan antara lain Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau bagian utara, Bengkayang dan Sambas.
Namun, hujan diperkirakan berintensitas ringan dan tidak merata sehingga belum cukup untuk menurunkan risiko karhutla secara signifikan.
OMC Diprioritaskan di Wilayah Utara Kalbar
BMKG juga menjelaskan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada 23-26 Agustus 2026 akan lebih diarahkan ke wilayah utara Kalbar.
Wilayah tersebut meliputi Sanggau, Bengkayang dan Sambas yang masih memiliki potensi pertumbuhan awan hujan.
"OMC hanya bisa dilakukan ketika memang ada potensi awan penghujan. Kalau ada potensi awan penghujan, kemudian dilakukan penyemaian awan sehingga diharapkan awan yang berpotensi tumbuh menjadi sedang bisa berkembang menjadi lebih besar," jelas Soetikno.
Sebaliknya, Ketapang, Kayong Utara dan Kubu Raya bagian selatan belum menjadi sasaran OMC karena potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut masih sangat rendah.
Baca Juga: Asap Karhutla Ganggu Penerbangan Bandara Supadio, 21 Flight Delay
Warga Diminta Waspadai Kabut Asap
BMKG mengimbau masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara selama kondisi kering berlangsung.
Masyarakat juga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila konsentrasi asap memburuk.
Dengan potensi hujan yang masih rendah dan angin yang dapat membawa asap dari wilayah selatan Kalbar, kewaspadaan terhadap karhutla dan kabut asap perlu dipertahankan hingga kondisi cuaca kembali lebih basah.*
Editor : Uray RonaldSumber : Antara