PONTIANAK POST – Jerebu alias kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah mulai berdampak ke sejumlah wilayah Sarawak, Malaysia. Pemerintah setempat bahkan meliburkan sekolah karena kualitas udara memburuk.
Konsul Jenderal RI di Kuching, Abdullah Zulkifli, mengatakan Pemerintah Sarawak telah menyampaikan keinginan untuk bersama Indonesia menyelesaikan persoalan asap yang berdampak terhadap masyarakat kedua negara.
“Sudah ada pernyataan dari Pemerintah Sarawak ingin menyelesaikan masalah asap dan mengomunikasikannya dengan pemerintah Indonesia. KJRI juga sudah mendorong, termasuk ke level ASEAN, untuk membicarakan karhutla dan asap,” kata Abdullah, Jumat (21/8).
Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang Kapal Angkutan Barang di Pontianak
Menurutnya, persoalan asap lintas batas membutuhkan kerja sama Indonesia dan Malaysia. Kondisi karhutla saat ini juga dipengaruhi perubahan iklim dan cuaca ekstrem. “Perubahan iklim adalah sesuatu yang nyata. Bukan hanya kebakaran hutan, debit air sungai juga mengering, baik di Kalimantan Barat maupun Sarawak,” ujarnya.
Abdullah menyebut asap yang melanda sejumlah wilayah Sarawak diduga berasal dari karhutla di Kalbar dan Kalteng. Pada saat bersamaan, Sarawak juga menghadapi kebakaran di wilayahnya sendiri sehingga asap semakin terakumulasi.
Di Kuching, sekolah diliburkan pada 21 dan 22 Agustus. Kebijakan serupa diterapkan di Tebedu yang berbatasan dengan Entikong, serta Lundu dan Sri Aman.
“Di Tebedu, perbatasan dengan Entikong sudah meliburkan sekolah. Begitu juga di Lundu dan Sri Aman. Asap diduga berasal dari Kalbar dan Kalteng, ditambah karhutla di Sarawak, sehingga kualitas udara sangat membahayakan,” katanya.
Baca Juga: Berbulan-bulan Melawan Api, 94 Titik Karhutla Kembali Muncul di Kubu Raya
Asap Makin Pekat di Sambas
Sementara itu, kabut asap di Kabupaten Sambas semakin pekat pada Jumat (21/8). Sejumlah pengendara mengaku kondisi tersebut mulai mengganggu jarak pandang. Putra, salah seorang pengendara, mengatakan asap semakin tebal saat melintas dari Kubung menuju Kartiasa hingga Kota Sambas.
“Saat kami lewat di wilayah Kubung, kemudian ke Kartiasa dan masuk Kota Sambas, asap semakin kuat sehingga menurunkan jarak pandang,” katanya. Ia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian bersama karena jarak pandang yang menurun dapat membahayakan keselamatan pengguna jalan.
Karhutla Jadi Perhatian ASEAN
Abdullah mengatakan pemerintah Indonesia telah melakukan penanganan karhutla secara nasional sejak Juni 2026. Upaya tersebut meliputi kesiapsiagaan, deteksi dini, penanganan awal hingga pemadaman.
Baca Juga: BMKG: Asap Karhutla Ketapang dan Kayong Utara Berpotensi Terbawa ke Pontianak hingga Malaysia
Namun, titik api masih ditemukan di sejumlah wilayah, terutama Sumatera dan Kalimantan. Kondisi tersebut, menurutnya, tidak terlepas dari pengaruh El Nino dan perubahan iklim. Ia menilai persoalan asap lintas batas perlu ditangani melalui kerja sama yang lebih kuat antara Indonesia dan Malaysia, termasuk melalui ASEAN.
Penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Kedua negara juga perlu memperkuat pencegahan agar dampak asap tidak terus mengganggu kesehatan, pendidikan dan aktivitas masyarakat di wilayah perbatasan. (fah)
Editor : Hanif