PONTIANAK POST – Sebanyak 3.759 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat berdasarkan pemantauan sepanjang Kamis (20/8). Jumlah tersebut belum dapat disebut sebagai titik api karena masih harus diverifikasi dan divalidasi di lapangan, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah mulai berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan titik panas yang terdeteksi satelit merupakan indikasi anomali suhu dan tidak otomatis menunjukkan adanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Saya sampaikan bahwa kita jangan sampai gagal memahami, bahwa 3.000 lebih titik panas yang ada di laporan briefing pagi tanggal 21 Agustus 2026 itu belum tentu api,” kata Daniel, Jumat (21/8).
Baca Juga: Kabut Asap Ganggu Jarak Pandang Kapal Angkutan Barang di Pontianak
Menurut Daniel, Satgas Darat dan Satgas Udara telah didorong melakukan verifikasi serta validasi terhadap titik panas tersebut. Hasil pemeriksaan akan menentukan jumlah titik yang benar-benar merupakan titik api.
“Karena di satelit pantulan dari benda tertentu itu terbaca titik panas. Jadi titik panas belum tentu api,” jelasnya.
Berdasarkan data briefing BPBD Kalbar, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan titik panas terbanyak, yakni 1.795 titik. Selanjutnya Sanggau 466 titik, Landak 268 titik, Kubu Raya 254 titik, Kayong Utara 200 titik, Melawi 190 titik dan Sekadau 150 titik.
Titik panas lainnya terdeteksi di Kapuas Hulu sebanyak 126 titik, Sintang 111 titik, Bengkayang 95 titik, Sambas 59 titik, Mempawah 44 titik dan Kota Singkawang satu titik. Sementara Kota Pontianak tidak terdeteksi titik panas.
Baca Juga: Kabut Asap Kian Pekat: Jarak Pandang di Bawah 1 Km, Penerbangan di Supadio Makin Banyak Delay
Data tersebut diperoleh melalui deteksi hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada sejumlah satelit. Pemantauan satelit menunjukkan lokasi yang mengalami anomali suhu panas dibandingkan wilayah sekitarnya, tetapi tidak seluruh wilayah dapat terpantau karena terkendala awan maupun blank zone.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar wilayah Kalbar berada dalam kondisi waspada terhadap kemudahan terjadinya karhutla. Berdasarkan informasi BMKG dalam briefing BPBD, potensi kemudahan karhutla terjadi di sebagian besar wilayah Kalbar pada 21-27 Agustus 2026.
Citra satelit Himawari-9 pada 21 Agustus pukul 06.20 WIB juga menunjukkan belum adanya pertumbuhan awan konvektif di wilayah kabupaten/kota di Kalbar.
Kondisi cuaca tersebut turut berpengaruh terhadap kualitas udara. Data pemantauan pada 20 Agustus menunjukkan konsentrasi PM2.5 di sejumlah wilayah berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.
Di Jongkat, Kabupaten Mempawah, konsentrasi maksimum harian PM2.5 mencapai 148,8 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat. Nilai rata-rata harian tercatat 64,8 µg/m³, juga berada dalam kategori tidak sehat.
Kondisi lebih tinggi terpantau di Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Konsentrasi maksimum harian PM2.5 mencapai 254,1 µg/m³ atau kategori berbahaya, sedangkan rata-rata hariannya 121,5 µg/m³ dalam kategori tidak sehat.
Di Sintang, konsentrasi maksimum harian PM2.5 mencapai 309,1 µg/m³ atau kategori berbahaya. Sementara rata-rata hariannya mencapai 141,4 µg/m³ dan masuk kategori tidak sehat.
Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Sambas Makin Pekat, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat
Kabut asap juga mulai memengaruhi jarak pandang. Berdasarkan laporan BMKG, jarak pandang kurang dari satu kilometer terpantau di Kabupaten Ketapang dan Kubu Raya akibat kabut asap.
Menghadapi ancaman karhutla, Direktorat Samapta Polda Kalbar memanfaatkan teknologi Drone UAV VTOL untuk memperkuat pengawasan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Teknologi tersebut diuji dalam simulasi penanganan karhutla yang digelar Ditsamapta Polda Kalbar, Kamis (20/8). Drone digunakan untuk memperoleh gambaran kondisi wilayah dari udara, termasuk membantu mendeteksi dan memantau potensi titik api di lokasi yang sulit dijangkau personel.
Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan penggunaan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan dan efektivitas personel di lapangan.
Baca Juga: Ibu Kota Kalteng dan Kalsel Masih Berselimut Kabut Asap
“Penggunaan teknologi drone diharapkan dapat memperkuat pengawasan serta mempercepat respons dalam penanganan karhutla dan kegiatan kepolisian lainnya,” ujarnya.
Menurut Bambang, Drone UAV VTOL tidak hanya digunakan untuk mendukung penanganan karhutla, tetapi juga dapat dimanfaatkan dalam operasi pengamanan serta kegiatan pencarian dan pertolongan atau Search and Rescue (SAR).
Dalam simulasi tersebut, sembilan personel operator Drone UAV VTOL terlibat di bawah pimpinan AKP Herry Wanson. Pemanfaatan teknologi pemantauan udara tersebut diharapkan mempercepat deteksi dan respons ketika terjadi potensi karhutla maupun kondisi lain yang membutuhkan pemantauan dari udara.
Daniel kembali menegaskan, angka 3.759 titik panas belum dapat dijadikan patokan jumlah titik api. Verifikasi lapangan menjadi tahapan penting untuk memastikan lokasi yang benar-benar mengalami kebakaran dapat segera ditangani.
“Jadi untuk mengetahui berapa titik api sebenarnya dari tiga ribu itu, tentu nanti ada dalam laporan briefing malam,” pungkasnya. (bar)
Editor : Miftahul Khair