Kasus ISPA Kalbar Tembus 151 Ribu akibat Karhutla, Kemenkes Kirim Bantuan Nakes dan Logistik

Uray Ronald • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:37 WIB
Pemandangan kabut asap yang sangat pekat. (DOK ANTARA)
Pemandangan kabut asap yang sangat pekat. (DOK ANTARA)

 

PONTIANAK POST – Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap kesehatan warga Kalimantan Barat terus menjadi perhatian. Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 151 ribu kasus ISPA di Kalbar sejak Januari 2026, dengan lonjakan tertinggi terjadi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari dampak karhutla yang melanda tujuh provinsi di Indonesia. Untuk merespons krisis kesehatan akibat kabut asap, Kementerian Kesehatan mengerahkan 314 tenaga kesehatan serta mendistribusikan ratusan ribu logistik kesehatan ke sejumlah wilayah terdampak.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Agus Jamaludin, mengatakan tenaga kesehatan yang dikerahkan terdiri atas dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog. 

"Sebagai upaya mitigasi kesehatan akibat karhutla, kami telah memobilisasi sejumlah 314 tenaga kesehatan yang terdiri dari dokter, perawat, bidan, dan epidemiolog dengan konsentrasi utama di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan," kata Agus Jamaludin di Jakarta, Minggu (23/8).

Baca Juga: Mulai Senin 24 Agustus, Sekolah Pontianak Kembali Daring, Udara Tak Sehat

ISPA Kalbar Lebih dari 151 Ribu Kasus

Berdasarkan data Kemenkes per Jumat (21/8), Kalimantan Barat menjadi salah satu dari tujuh provinsi terdampak karhutla. Selain Kalbar, wilayah terdampak meliputi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Di Kalimantan Barat, lebih dari 151 ribu kasus ISPA tercatat sejak Januari 2026. Lonjakan tertinggi dilaporkan terjadi di Pontianak, Kubu Raya, dan Mempawah.

Tren gangguan kesehatan akibat kabut asap juga dilaporkan di sejumlah wilayah lain. Selain ISPA, kasus asma dan iritasi turut ditemukan.

Di tingkat nasional, lebih dari tiga juta warga di 37 kabupaten/kota disebut terpapar langsung kabut asap akibat karhutla. Enam dari tujuh provinsi terdampak telah menetapkan status siaga darurat bencana seiring kemarau panjang yang berlangsung sejak awal 2026.

Meski dampak kesehatan terus dipantau, belum ada laporan korban jiwa akibat bencana asap tersebut.

Logistik Kesehatan Diperkuat

Untuk mendukung penanganan dampak kesehatan karhutla, Kemenkes mendistribusikan berbagai perlengkapan medis dan obat-obatan.

Secara keseluruhan, logistik yang telah disalurkan meliputi 278.940 buah masker, 56 unit Oxygen Concentrator (OC), 40 buah face shield, 1.000 pasang sarung tangan medis (handscoon), 36 tabung Oxycan, delapan set alat pelindung diri (APD), 33 dus pemberian makanan tambahan (PMT), serta obat-obatan dan vitamin.

Khusus di Kalimantan Barat, program "Oase Udara" dijalankan di fasilitas kesehatan untuk memastikan ketersediaan oksigen bagi warga yang mengalami sesak napas.

Sementara itu, di titik rawan seperti Kabupaten Barito Utara, Barito Timur, dan Kota Palangkaraya, pemerintah telah mendirikan pos kesehatan dan ruang oksigen.

Baca Juga: Wamen LH Dorong Perusahaan Bangun Sekat Kanal di Kalbar, Antisipasi Kebakaran Lahan Gambut

Warga Diminta Waspadai Dampak Asap

Puncak musim kemarau diprediksi masih berlangsung hingga September 2026. Kemenkes mengimbau masyarakat di zona merah karhutla membatasi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker ketika berada di luar.

Masyarakat juga diminta rutin memantau indeks kualitas udara melalui aplikasi, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memperbanyak konsumsi air putih.

Jika mengalami gejala gangguan pernapasan, masyarakat diimbau segera mendatangi fasilitas kesehatan.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Antara
kabut asap Kalbar ISPA Kalimantan Barat kasus ISPA Kalbar Kemenkes karhutla karhutla kalbar