PONTIANAK POST – Jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan data terbaru yang disampaikan Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, hotspot di Kalbar tersisa 28 titik. Namun, kondisi di lapangan belum sepenuhnya aman karena asap masih terlihat di sejumlah lokasi.
Hal itu disampaikan Raja Juli saat meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Rasau Jaya Satu, Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8).
Dalam kunjungan kerja tersebut, Raja Juli juga didampingi Kasdam XII/Tanjungpura, Brigjen TNI Bambang Sujarwo. Peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi karhutla sekaligus mengevaluasi penanganan yang dilakukan tim gabungan Satgas Karhutla.
Baca Juga: Titik Api Anjlok dari 2.000 ke 28, Ini Strategi Pasukan Gabungan Tekan Karhutla Kalbar
Raja Juli mengatakan penurunan hotspot tidak boleh menjadi alasan bagi seluruh pihak untuk menurunkan kewaspadaan. Sebab, kondisi karhutla sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu.
“Di Kalimantan Barat ini hotspot-nya sekali lagi sudah turun, tinggal 28. Tapi seperti teman-teman media lihat di sini, tidak ada lagi apinya, tapi asapnya masih tetap ada,” kata Raja Juli saat meninjau lokasi.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla belum selesai meski jumlah titik panas mengalami penurunan.
Raja Juli juga menyebut berdasarkan data pada malam sebelumnya hingga pukul 23.59 WIB, persebaran titik api di Kalimantan telah bergeser. Karena itu, pemantauan dan penanganan harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Baca Juga: Kabut Asap Masih Kuat, Kecamatan Tangaran Dirikan Posko Karhutla
“Turunnya angka titik panas atau hotspot ini tidak membuat kita abai, tidak waspada. Karena datanya sekali lagi sangat dinamis,” tegasnya.
Sementara itu, Kasdam XII Tanjungpura, Brigjen TNI Bambang Sujarwo menegaskan komitmen Kodam XII Tanjungpura dalam mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Barat.
Menurut Bambang, personel Satgas Karhutla dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) telah disiagakan di sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
“Kodam XII/Tpr berkomitmen penuh mendukung upaya penanggulangan karhutla di Kalbar. Kami telah menyiagakan personel Satgas dan alutsista di berbagai titik rawan untuk melakukan pemadaman darat maupun pencegahan dini,” ujarnya.
Bambang menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Sinergi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni dan unsur terkait lainnya diperlukan untuk mempercepat pemadaman sekaligus mencegah api meluas.
“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Sinergi semua pihak adalah kunci utama agar titik api dapat dipadamkan secara cepat dan tidak meluas,” tegasnya. (ash)
Editor : Miftahul Khair