PONTIANAK POST – Kabar buruk dan baik datang bersamaan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk Kalimantan Barat. Dalam waktu dekat, Kalbar masih menghadapi musim kemarau dengan curah hujan rendah dan ancaman kekeringan. Namun, kondisi tersebut diprediksi berangsur membaik menjelang akhir 2026.
Berdasarkan Analisis Dinamika Atmosfer Dasarian II Agustus 2026 yang dirilis BMKG pada 24 Agustus, Kalbar termasuk wilayah yang masih mengalami musim kemarau. Secara nasional, 559 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia masih berada dalam periode kemarau.
Untuk Dasarian III Agustus hingga Dasarian II September 2026, BMKG memprediksi curah hujan umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah, yakni 0–150 milimeter per dasarian. Sebagian besar Pulau Kalimantan, termasuk Kalbar, diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah atau kurang dari 50 milimeter per dasarian.
Kondisi tersebut sejalan dengan peringatan Gubernur Kalbar Ria Norsan agar masyarakat tidak lengah menghadapi musim kemarau. Saat mendampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau karhutla di Desa Rasau Jaya 3, Kabupaten Kubu Raya, Senin (24/8), Norsan mengatakan kondisi cuaca yang semakin kering membuat potensi kebakaran tetap harus diwaspadai.
“Meski terjadi penurunan, kami mengingatkan agar tidak lengah karena puncak El Niño diprediksi BMKG terjadi pada September,” kata Norsan.
Menurut Norsan, kondisi cuaca yang kering, luasnya lahan gambut, serta masih adanya aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi tantangan dalam pengendalian karhutla.
Ia mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar selama periode kemarau panjang.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tidak membakar lahan pada saat musim kemarau panjang ini. Kondisi cuaca sekarang panas tinggi, jadi jangan membakar lahan dulu,” ujarnya.
Titik Panas Turun, Warga Diminta Tak Lengah
Peringatan Norsan disampaikan ketika titik panas di Kalbar justru menunjukkan penurunan signifikan.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) yang disampaikan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, titik panas di Kalbar turun dari sebelumnya lebih dari 2.000 titik menjadi 28 titik.
Sebanyak 16 titik berada di Kabupaten Ketapang, 11 titik di Melawi, dan satu titik di Kubu Raya.
Penurunan tersebut menjadi kabar baik di tengah kondisi cuaca yang masih kering. Namun, pemerintah mengingatkan penurunan titik panas tidak boleh diterjemahkan sebagai berakhirnya ancaman karhutla.
Terlebih, asap masih ditemukan di sejumlah lokasi akibat pembakaran tidak sempurna di lahan gambut.
Saat meninjau Desa Rasau Jaya 3, Raja Juli menemukan api telah padam, tetapi asap masih keluar dari dalam tanah gambut. Kondisi itu membuat proses pendinginan dan pemadaman harus terus dilakukan.
“Gambut memang paling sulit dipadamkan karena apinya bisa berada di bawah permukaan dan produksi asapnya sangat luar biasa,” kata Raja Juli.
Karena itu, ia juga mengingatkan masyarakat dan korporasi tidak membuka lahan dengan cara membakar selama kondisi cuaca kering.
Kabar Baik Mulai Oktober
Di tengah ancaman tersebut, prakiraan BMKG memberikan secercah harapan.
Peluang curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan masih cukup tinggi di Kalbar bagian selatan pada September 2026. Namun, Kalbar tidak lagi tercantum dalam wilayah dengan peluang tinggi mengalami kondisi tersebut pada Oktober dan November.
Kondisi lebih menggembirakan diproyeksikan pada Desember 2026 hingga Februari 2027.
BMKG tidak mencatat adanya wilayah yang berpeluang tinggi mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan pada tiga bulan tersebut.
Bagi Kalbar, proyeksi itu menjadi sinyal positif setelah wilayah ini menghadapi periode kemarau dan ancaman karhutla. Hujan yang lebih memadai diharapkan membantu meningkatkan kelembapan lahan dan ketersediaan air sekaligus menurunkan risiko kebakaran.
Namun, kondisi tersebut belum menjadi alasan untuk mengendurkan pencegahan karhutla.
El Niño Masih Sangat Kuat
Sebab, dinamika atmosfer saat ini masih menunjukkan kondisi El Niño yang kuat.
BMKG mencatat nilai SSTA di wilayah Nino3.4 pada Dasarian II Agustus mencapai +2,99, meningkat dibandingkan Juli yang berada di angka +2,20. Kondisi tersebut menunjukkan El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) dasarian tercatat +0,394, naik dari +0,242 pada Juli.
Dinamika tersebut menjadi faktor yang tetap harus diperhatikan dalam membaca perkembangan cuaca dan curah hujan di Indonesia.
Karena itu, meski terdapat proyeksi membaiknya kondisi hujan menjelang akhir tahun, kewaspadaan terhadap kekeringan dan karhutla tetap diperlukan dalam beberapa bulan ke depan.
Hujan Rendah Masih Mendominasi
Pada Dasarian II Agustus 2026, curah hujan di Indonesia sebagian besar masih berada pada kategori rendah. BMKG mencatat 90,29 persen wilayah berada pada kategori curah hujan rendah, 9 persen menengah, dan hanya 0,71 persen yang masuk kategori tinggi.
Dari sisi sifat hujan, sebanyak 88,61 persen wilayah berada di bawah normal. Sebanyak 4,70 persen berada pada kondisi normal, 3,18 persen atas normal, dan 3,51 persen jauh di atas normal.
Gambaran tersebut menunjukkan kondisi kering masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.
Untuk Kalbar, situasi ini penting diperhatikan karena musim kemarau beriringan dengan meningkatnya risiko kebakaran lahan.
Operasi Udara Diperkuat
Pemerintah juga memperkuat penanganan karhutla di Kalbar.
Saat ini tujuh helikopter water bombing dikerahkan untuk mendukung pemadaman dari udara, terutama di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Dua helikopter patroli digunakan untuk memantau perkembangan karhutla di sejumlah wilayah.
Selain itu, satu pesawat dikerahkan untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna meningkatkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan.
Raja Juli mengatakan penurunan titik panas merupakan hasil kerja bersama TNI, Polri, BNPB, BPBD, Manggala Agni, BMKG, hingga Masyarakat Peduli Api.
Menurut dia, penanganan karhutla juga telah didukung sekitar 200 kali aksi pemadaman melalui operasi udara.
Infrastruktur Pencegahan Harus Tetap Siap
Norsan meminta seluruh pihak memperkuat koordinasi, pertukaran data, patroli terpadu, verifikasi lapangan, serta pemadaman sedini mungkin sebelum api meluas.
Perusahaan berbasis lahan juga diminta memenuhi kewajibannya dalam pencegahan dan pengendalian karhutla, termasuk menyiapkan personel dan sarana prasarana pemadaman, menjaga wilayah konsesi, serta mengelola tata air, khususnya di lahan gambut.
Menurut Norsan, karhutla bukan hanya persoalan kerusakan hutan dan ekosistem gambut. Kabut asap juga dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan, perekonomian, transportasi, dan kehidupan sosial.
Karena itu, ia menilai penanganan karhutla harus menjadi tanggung jawab bersama pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat.
Ada Harapan di Ujung Tahun
Dengan kondisi saat ini, Kalbar masih harus melewati periode rawan dalam beberapa pekan ke depan. Penurunan titik panas menjadi kabar baik, tetapi kondisi kemarau dan prediksi hujan rendah hingga September membuat kewaspadaan tetap diperlukan.
Di sisi lain, prakiraan BMKG mengenai berkurangnya peluang hujan sangat rendah mulai Oktober dan kondisi yang lebih basah pada Desember 2026 hingga Februari 2027 memberikan harapan baru.
Kabar buruknya, Kalbar masih harus melewati musim kering. Kabar baiknya, kondisi sangat kering diprediksi tidak berlanjut hingga awal 2027.
Tantangannya kini adalah memastikan penurunan titik panas terus dipertahankan hingga hujan benar-benar kembali dan ancaman karhutla mereda. *
Editor : Aristono Edi Kiswantoro