Kabut Asap Mulai Ganggu Pelayaran di Sungai Kapuas, Nakhoda Konsentrasi Tinggi

haryadi klik • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 22:47 WIB
KABUT ASAP: KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. (HARYADI/PONTIANAK POST)
KABUT ASAP: KM Sukadana Raya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Pontianak. Kabut asap karhutla mulai mengganggu jarak pandang pelayaran di Sungai Kapuas. (HARYADI/PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST – Kabut asap mulai menyelimuti alur Sungai Kapuas. Dari atas kapal, jarak pandang yang biasanya cukup leluasa kini menjadi terbatas, terutama ketika pelayaran berlangsung malam hari. Nahkoda pun harus mengurangi kecepatan dan meningkatkan konsentrasi untuk membaca alur sungai serta mengantisipasi kapal lain.

Kondisi itu dirasakan Ramli, nahkoda KM Sukadana Raya yang melayani rute Pontianak–Kayong Utara. Saat ditemui Pontianak Post ketika kapalnya bersandar di Dermaga Kapuas Indah, Rabu (26/8), Ramli mengatakan kabut asap mulai mengganggu pelayaran di sepanjang alur Sungai Kapuas.

“Jarak pandang di sungai sudah mulai terbatas, apalagi saat malam kondisinya sangat terbatas sehingga butuh konsentrasi saat berlayar,” ujar Ramli, Rabu (26/8).

Kecepatan Kapal Harus Dikurangi

Kabut asap tidak hanya membuat pandangan nahkoda terbatas. Kondisi tersebut juga berdampak pada waktu tempuh kapal.

Dalam kondisi normal, perjalanan Pontianak–Kayong Utara atau sebaliknya dapat ditempuh sekitar 18 jam. Namun, ketika kabut asap mengganggu jarak pandang, kapal harus melaju lebih lambat sehingga perjalanan bisa mencapai 24 jam atau lebih.

“Kalau kapal berjalan lambat, waktu tempuh menjadi lama dan berpengaruh pada kondisi bahan bakar kapal klotok,” katanya.

Ramli mengatakan KM Sukadana Raya mengangkut penumpang sekaligus berbagai jenis barang. Kapal tersebut berlayar secara rutin setiap tiga hari sekali.

Dengan jadwal tersebut, kabut asap berpotensi memengaruhi bukan hanya waktu perjalanan, tetapi juga operasional angkutan sungai yang menjadi salah satu jalur transportasi masyarakat dan distribusi barang.

Andalkan Pengalaman Saat Masuk Alur Sungai

Bagi Ramli, kondisi kabut asap membuat pengalaman membaca alur sungai menjadi semakin penting. Saat melintasi Sungai Kapuas, dia masih mengandalkan penguasaan terhadap alur dan pengalaman berlayar.

Ia belum menggunakan perangkat navigasi khusus untuk melewati alur sungai. Namun, situasinya berbeda ketika kapal memasuki kawasan pesisir.

“Kalau melewati alur Sungai Kapuas saya masih tidak menggunakan alat navigasi. Namun, kalau sudah melintasi pesisir, perlu menggunakan GPS sebagai pemandu berlayar agar lebih mudah saat kondisi kabut asap,” jelasnya.

Kondisi tersebut membuat pelayaran malam membutuhkan perhatian lebih. Jarak pandang yang berkurang mempersempit waktu nahkoda untuk mengenali kondisi di depan kapal.

BMKG: Jarak Pandang Bisa Hanya 1 Kilometer

Gangguan jarak pandang tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG Maritim Dwikora. Prakirawan BMKG Maritim Dwikora Arrumi mengatakan kondisi udara kabur masih berpotensi terjadi di bantaran Sungai Kapuas dan wilayah sekitarnya akibat dampak karhutla.

Jarak pandang diprakirakan berada pada kisaran 1–5 kilometer. Kondisi serupa juga berpotensi terjadi di wilayah pesisir Kalimantan Barat.

“Jarak pandang terendah, yakni kurang dari 1 kilometer, diprakirakan terjadi di wilayah perairan Ketapang,” ujar Arrumi.

Bagi kapal yang bergerak dari Pontianak menuju wilayah selatan Kalimantan Barat, kondisi tersebut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pelayaran.

Angin Kencang dan Gelombang Ikut Diwaspadai

Selain jarak pandang, kondisi laut juga perlu diperhatikan. BMKG memperkirakan gelombang di pesisir Kalimantan Barat berada dalam kategori tenang hingga sedang.

Gelombang setinggi 1,25–2,5 meter berpotensi terjadi pada 26–29 Agustus di perairan Kubu Raya, Kayong Utara, dan Ketapang.

Angin di perairan utara dan selatan Kalimantan Barat diprakirakan bergerak dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 1–25 knot.

“Perlu diwaspadai potensi angin dengan kecepatan lebih dari atau sama dengan 25 knot yang diprakirakan terjadi pada 26–29 Agustus 2026 di perairan Sambas hingga perairan Ketapang,” kata Arrumi.

Cuaca dalam tiga hari ke depan diprakirakan berkisar dari berawan, udara kabur, hingga hujan ringan. Potensi hujan ringan diprakirakan terjadi di perairan Sambas pada 26 Agustus.

Pelayaran Berhadapan dengan Dua Risiko

Di Sungai Kapuas, persoalan utama saat ini bukan hanya kondisi alur sungai, tetapi kemampuan nahkoda melihat dan merespons situasi di depannya.

Kabut asap membuat jarak pandang menyusut. Di wilayah pesisir, kondisi angin dan gelombang juga harus diperhitungkan.

Bagi kapal penumpang dan barang yang rutin bergerak setiap beberapa hari, tambahan waktu perjalanan berarti konsekuensi operasional. Bagi penumpang, perjalanan yang semestinya sekitar 18 jam bisa menjadi 24 jam atau lebih.

Sementara bagi nahkoda seperti Ramli, kabut asap berarti satu hal yang harus dilakukan sepanjang perjalanan: lebih pelan, lebih waspada, dan lebih banyak mengandalkan pengalaman.

 

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
jarak pandang kapal kabut asap Sungai Kapuas pelayaran Sungai Kapuas karhutla Kalimantan Barat. kabut asap Pontianak BMKG Maritim Dwikora