PONTIANAK POST – Jutaan liter air telah dijatuhkan dari udara untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, api di lahan gambut belum mudah ditaklukkan karena sumber air di sekitar titik kebakaran mulai menyusut dan semakin jauh dari lokasi api.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 4,6 juta liter air telah digunakan dalam operasi water bombing hingga Rabu (26/8). Operasi tersebut dilakukan di enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Barat yang mencatat 2.610 hotspot, tertinggi dibanding lima provinsi lainnya.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan karakteristik lahan gambut menjadi salah satu kendala utama pemadaman. Gambut yang terbakar membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
“Karakteristiknya adalah gambut, sehingga memang sulit untuk diatasi. Gambut yang terbakar tentu membutuhkan air yang banyak, dan sumber air saat ini sudah menyusut dan jauh dari beberapa titik-titik api,” kata Berton di Jakarta, Rabu (26/8).
Air Makin Sulit Ditemukan
Persoalan ketersediaan air membuat penanganan karhutla tidak cukup hanya mengandalkan operasi udara. Petugas di lapangan harus mencari sumber air yang masih tersedia untuk mendukung pemadaman sekaligus proses pendinginan.
BNPB menyebut sejumlah langkah dilakukan untuk mengatasi persoalan tersebut. Di antaranya pembuatan sumur bor dan pembukaan kanal agar air dapat dialirkan lebih dekat ke lokasi kebakaran.
“Namun demikian kami juga masih tetap melakukan berbagai upaya tentu atas kesulitan ketersediaan air dengan cara melakukan sumur bor maupun membuka kanal-kanal sehingga kanal-kanal tersebut bisa mengalirkan air ke tempat titik api terdekat,” ujar Berton.
Selain ketersediaan air, cuaca turut mempersulit operasi. Jarak pandang yang terbatas dapat menghambat penerbangan dan pelaksanaan pemadaman melalui udara.
Kalbar Paling Banyak Hotspot
Dari enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan, Kalimantan Barat mencatat jumlah hotspot terbanyak. BNPB mencatat 2.610 hotspot di Kalbar, disusul Kalimantan Tengah 2.110 titik dan Sumatera Selatan 1.438 titik.
Selanjutnya, Kalimantan Selatan tercatat 817 hotspot, Riau 225 titik, dan Jambi 134 titik.
Besarnya jumlah hotspot membuat penanganan dilakukan melalui dua jalur, yakni operasi darat dan udara. Operasi darat tetap menjadi metode utama, sementara operasi udara digunakan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses dari permukaan.
“Di semua lokasi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, ini semua dilakukan pemadam ground check, pemadaman, kemudian pendinginan,” kata Berton.
Hujan Mulai Membantu
Selain pemadaman, pemerintah juga menjalankan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang hujan di wilayah terdampak karhutla.
Berton menyebut hujan telah turun di sejumlah kabupaten di Kalimantan Barat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi tersebut, menurut dia, merupakan salah satu hasil dari operasi modifikasi cuaca yang dilakukan pemerintah.
“Dari kemarin di beberapa kabupaten di Kalimantan Barat sudah ada hujan, ini karena kerja dari operasi modifikasi cuaca,” ujarnya.
Namun, hujan belum serta-merta mengakhiri ancaman karhutla. Kondisi lahan yang kering tetap membutuhkan pemantauan dan pendinginan untuk mencegah api kembali muncul.
Di tengah kondisi tersebut, BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak menambah sumber api baru. Warga diminta tidak melakukan pembakaran, termasuk membuang puntung rokok sembarangan yang berpotensi memicu kebakaran.
Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah terdampak asap, kewaspadaan juga tetap diperlukan dengan mengikuti arahan petugas di lapangan.
Karhutla akhirnya bukan hanya persoalan memadamkan api. Ketika gambut mengering dan sumber air menyusut, upaya pemadaman berubah menjadi perlombaan untuk mempertahankan air sekaligus mencegah api kembali menyala.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro