PONTIANAK POST – Kepolisian memperkuat pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menyusul masih ditemukannya lahan terbakar dan bara api di kawasan gambut.
Polresta Pontianak meningkatkan patroli sekaligus menyiapkan pembangunan enam sumur di titik rawan, sementara Polda Kalbar mengerahkan personel untuk memastikan pendinginan karhutla di Kubu Raya benar-benar tuntas.
Kapolresta Pontianak Kombes Pol Endang Tri Purwanto mengatakan patroli intensif dilakukan sebagai langkah preventif untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini. Pada Rabu (26/8), patroli menyasar sejumlah wilayah rawan di Kecamatan Pontianak Tenggara, di antaranya Jalan Paris 2, Jalan Sepakat, dan Jalan Parit Demang.
Baca Juga: Cegah Karhutla, Polsek Sekayam Patroli ke Hutan dan Perkebunan Sambil Edukasi Warga
“Kami bersama instansi terkait terus melakukan patroli dan pemantauan di wilayah rawan Karhutla. Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan serta segera melaporkan apabila menemukan adanya titik api,” ujar Endang, Rabu (26/8).
Selain patroli, Polresta Pontianak menyiapkan pembangunan enam sumur sebagai sumber air untuk mendukung pemadaman dan pembasahan lahan di kawasan rawan karhutla.
Endang mengatakan tiga sumur akan dibangun di wilayah Kecamatan Pontianak Selatan dan Tenggara, sedangkan tiga lainnya berada di Kecamatan Pontianak Utara.
“Kesiapsiagaan dan sinergitas harus terus ditingkatkan. Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi kebakaran besar, tetapi melakukan pencegahan dan penanganan sejak dini,” tegasnya.
Baca Juga: 29 Sumur Bor Disiapkan untuk Hadapi Karhutla Bengkayang
Upaya pencegahan juga diperkuat Polda Kalbar. Kapolda Kalbar Irjen Pol Alberd Teddy Benhard Sianipar turun langsung mengecek penanganan karhutla di Jalan Parit Seruat, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (25/8) sore.
Groundchecking dilakukan di dua titik lokasi kebakaran. Dari pengecekan tersebut, Alberd menyebut sekitar 20 hektare lahan terbakar.
Meski api utama telah dipadamkan, petugas masih menemukan sisa bara atau smoke spot di dalam gambut. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kebakaran kembali apabila proses pendinginan tidak dilakukan secara maksimal.
“Dari hasil pengecekan langsung di lapangan hari ini, kita melihat ada sekitar 20 hektare lahan yang terbakar di kawasan ini. Meskipun api utama sudah sempat dipadamkan, kita masih menemukan adanya sisa-sisa bara api (smoke spot) di dalam gambut yang berpotensi membesar kembali jika tidak segera ditangani secara intensif,” kata Alberd.
Personel gabungan dari Polda Kalbar dan bantuan BKO kemudian dikerahkan untuk melakukan pendinginan hingga lokasi dinyatakan benar-benar aman.
Selain mengecek penanganan api, Alberd berdialog dengan masyarakat sekitar untuk mengetahui kondisi warga yang terdampak kebakaran sekaligus menyerap informasi dari lapangan.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca panas dan kering.
“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat di Kalimantan Barat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca panas dan kering seperti saat ini,” ujarnya.
Alberd menegaskan karhutla tidak hanya merusak ekosistem, tetapi juga berpotensi mengancam kesehatan masyarakat. Karena itu, masyarakat diminta segera melaporkan aktivitas pembakaran atau indikasi kebakaran agar dapat ditangani sejak awal.
“Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi kebakaran besar, tetapi melakukan pencegahan dan penanganan sejak dini,” kata Endang.(sti/bar/r)
Editor : Hanif