Hotspot Kalbar Melonjak 453 Titik, BNPB Ingatkan Warga Waspada Karhutla

Uray Ronald • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 19:03 WIB
Ilustrasi - Petugas berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Antara)
Ilustrasi - Petugas berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Antara)

 

PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia masih belum sepenuhnya padam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan peningkatan jumlah titik panas atau hotspot di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah pada Minggu (30/8).

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah hotspot di Kalimantan Barat meningkat menjadi 453 titik. Namun, jumlah titik api di provinsi ini justru turun menjadi 16 titik.

"Kalimantan Barat kita melihat di sini bahwa hotspot hari ini memang bertambah lagi. Hari ini sebanyak 453 titik untuk titik panas. Dan untuk titik apinya berturut-turut turun menjadi 16. Yang tadinya 23 titik, sekarang jadi 16. Kita berharap di lain waktu juga seperti ini bisa terjadi dan di provinsi-provinsi yang lain," kata Berton dalam konferensi pers daring, Minggu (30/8).

Baca Juga: Jepang Kirim Kapal Bawa 350 Personel dan 3 Helikopter untuk Bantu Atasi Karhutla Indonesia

Hotspot Kalimantan Tengah Capai 876 Titik 

Perkembangan berbeda terjadi pada sejumlah wilayah Kalimantan lainnya. BNPB mencatat jumlah titik api di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan mengalami penurunan.

Namun, jumlah hotspot di Kalimantan Tengah justru meningkat hingga 876 titik. Sementara itu, hotspot di Kalimantan Selatan turun sebanyak 279 titik.

"Demikian juga di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, terjadi penurunan titik api. Namun di Kalimantan Tengah, titik panas bertambah 876 titik. Sedangkan di Kalimantan Selatan malah turun sebanyak 279 titik. Jarak pandang relatif rendah, antara 1 sampai 1,5 kilometer," ujar Berton.

Kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah tersebut turut menjadi perhatian dalam pemantauan karhutla.

Baca Juga: BNPB Perkuat OMC, Berharap Hujan untuk Atasi Karhutla Kalbar

Karhutla di Sumatra Masih Dipantau 

Selain wilayah Kalimantan, BNPB memantau perkembangan karhutla di sejumlah provinsi di Sumatra, termasuk Riau, Sumatera Selatan, dan Jambi.

Di Riau, jumlah hotspot turun satu titik. Namun, jumlah titik api meningkat lima titik menjadi 12 titik.

"Di Riau, kami mencatat bahwa terjadi penurunan titik panas sebesar 1 dan peningkatan titik api sebesar 5 menjadi 12 titik api. Dan jarak pandang hanya 5 kilometer," kata Berton.

Hotspot Sumatera Selatan Menurun 

Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot mengalami penurunan signifikan menjadi 804 titik. Namun, jumlah titik api bertambah delapan titik menjadi 18 titik.

Jarak pandang di wilayah tersebut tercatat sekitar 2,4 kilometer.

"Di Sumatera Selatan, titik panas signifikan berkurang menjadi 804 titik. Sedangkan titik apinya bertambah 8 menjadi 18 titik. Jarak pandang 2,4 kilometer," ujarnya.

Sementara itu, di Jambi tercatat 135 titik panas. Jumlah titik api di wilayah tersebut tidak mengalami perubahan. Jarak pandang di Jambi tercatat sekitar 3,5 kilometer.

Baca Juga: Presiden Prabowo Minta Babinsa Edukasi Warga Cegah Karhutla

BNPB Minta Warga Pantau Kualitas Udara 

BNPB mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan informasi mengenai hotspot dan titik api dalam memantau kondisi karhutla.

Masyarakat juga diminta memperhatikan perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing.

Berton mengatakan informasi lebih terperinci mengenai kondisi karhutla dapat diperoleh melalui Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi).

"Kami berharap Bapak, Ibu sekalian, saudara-saudara yang kita cintai, bahwa informasi seperti ini lebih detail dapat diambil dari Sipongi," tuturnya.

Selain informasi karhutla, masyarakat diminta memperhatikan kondisi pencemaran udara melalui informasi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diterbitkan Kementerian Lingkungan Hidup.

Menurut Berton, informasi kualitas udara penting agar masyarakat dapat mengetahui kondisi udara di wilayah masing-masing.

"Dan Bapak, Ibu tentu bisa memperoleh kategori-kategori standar udara, Indeks Standar Udara, seperti sehat, tidak sehat, bahkan sampai berbahaya," ujarnya.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan 

BNPB mengimbau masyarakat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi kualitas udara.

Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat atau berbahaya, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan.

"Kami senantiasa menyampaikan agar aktivitas di luar rumah diperkecil. Dan kalaupun sudah harus keluar rumah, pakai masker," pungkas Berton.

Kualitas Udara Pontianak Masuk Kategori Berbahaya

Data resmi AQMS Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup di Stasiun Pontianak Tenggara mencatat ISPU PM2,5 mencapai 715 pada 30 Agustus 2026 pukul 01.00 WIB.

Parameter PM2,5 menjadi parameter kritis dalam pengukuran tersebut. ISPU PM2,5 selama periode 24 jam tercatat memiliki nilai maksimum 720, minimum 348, dan rata-rata 568.

Angka tersebut menunjukkan kondisi pencemaran udara yang sangat buruk di Pontianak Tenggara pada saat pengukuran. *

Editor : Uray Ronald
Sumber : Jawapos
Hotspot Kalimantan Barat karhutla Kalimantan BNPB karhutla titik api Kalbar