PONTIANAK POST - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi ancaman serius di Kalimantan Barat. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada 30 Agustus 2026, terdeteksi 7.374 titik panas atau hotspot di wilayah Kalbar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 466 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, 6.828 titik berkepercayaan menengah, dan 80 titik berkepercayaan rendah. Data tersebut merupakan hasil deteksi sensor VIIRS dan MODIS pada satelit NOAA20, S-NPP, Terra, dan Aqua.
Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan hotspot berkepercayaan tinggi terbanyak, yakni 199 titik. Berikutnya Melawi 84 titik, Kubu Raya 54 titik, Kayong Utara 50 titik, Kapuas Hulu 22 titik, Sintang 18 titik, dan Mempawah 15 titik.
Baca Juga: Perhiptani Kalbar Dorong Petani Olah Lahan Tanpa Bakar untuk Cegah Karhutla
Hotspot berkepercayaan tinggi juga terdeteksi di Kota Singkawang sebanyak tujuh titik, Sanggau dan Landak masing-masing lima titik, Sekadau empat titik, Bengkayang dua titik, serta Sambas satu titik.
Kondisi tersebut diperparah belum adanya hujan di wilayah Kalbar. Berdasarkan pengolahan data GSMaP dengan pembaruan 30 Agustus 2026 pukul 07.00 WIB, tidak tercatat hujan ringan hingga ekstrem di wilayah Kalbar.
Kabut asap juga berdampak terhadap jarak pandang. Pengamatan BMKG pada 30 dan 31 Agustus menunjukkan jarak pandang kurang dari satu kilometer di Mempawah, Pontianak, Melawi, Sambas, Ketapang, dan Kubu Raya.
Konsentrasi partikulat PM2.5 di sejumlah wilayah juga berada pada level mengkhawatirkan. Di Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, konsentrasi maksimum harian PM2.5 mencapai 843,2 mikrogram per meter kubik (µg/m³) atau kategori berbahaya. Rata-rata hariannya mencapai 349,3 µg/m³ dan juga masuk kategori berbahaya.
Baca Juga: Sanggau Tanggap Darurat Karhutla: 10.089 Hotspot Ditemukan, Pasukan Brimob dan TNI Dikerahkan
Di Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, konsentrasi maksimum PM2.5 tercatat 537 µg/m³ atau kategori berbahaya. Rata-rata hariannya mencapai 176,3 µg/m³ atau sangat tidak sehat.
Sementara di Kecamatan Sungai Tebelian, Kabupaten Sintang, konsentrasi maksimum mencapai 459,3 µg/m³ atau kategori berbahaya, dengan rata-rata harian 194,1 µg/m³ atau sangat tidak sehat.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan operasi penanganan karhutla terus dilakukan. Pada Senin (31/8), operasi pemadaman satgas darat dan udara difokuskan di kawasan Lintang Batang, Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.
“Disampaikan dengan rekan-rekan untuk hari ini (Senin) operasi pemadaman oleh satgas darat, dan udara difokuskan ke Lintang Batang (Ambawang, Kabupaten Kubu Raya),” katanya.
Di Kabupaten Kubu Raya, Direktorat Samapta Polda Kalbar juga mengerahkan 24 personel dalam Operasi Kepolisian Kontingensi Aman Nusa II Karhutla Kapuas 2026, Senin (31/8).
Tim yang dipimpin Kasubdit Gasum Ditsamapta Polda Kalbar AKBP Syarif Edi tersebut menemukan satu titik karhutla di Desa Simpang Kanan, Dusun Kampung Baru, Kecamatan Sungai Ambawang.
Petugas kemudian melakukan pemadaman, pembasahan atau pendinginan, serta pelokalisiran api untuk mencegah kebakaran meluas.
Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengatakan kesiapsiagaan terus ditingkatkan, terutama di wilayah yang rawan karhutla.
“Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama melakukan pencegahan Karhutla. Apabila masyarakat menemukan adanya titik api atau kebakaran, segera laporkan ke kantor kepolisian terdekat atau hubungi Call Center Polri 110 agar dapat segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Di Kota Pontianak, jumlah hotspot juga mengalami peningkatan dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data BMKG Kalbar, satu hotspot berkepercayaan sedang terdeteksi pada 28 Agustus.
Jumlah tersebut meningkat menjadi empat titik pada 29 Agustus dan kembali melonjak menjadi 10 titik pada 30 Agustus. Pada 31 Agustus, satu hotspot terdeteksi dalam pemantauan 24 jam terakhir saat Sistem Pemantauan Karhutla diakses pukul 13.30 WIB.
Peningkatan hotspot tersebut seiring dengan munculnya sejumlah kebakaran lahan, di antaranya kawasan Parit Demang Dalam hingga Jalan Parit Juantak atau Jalan Perdana Ujung.
Branch Manager Rumah Zakat Kalbar, Asrul Putra Nanda, mengatakan kebakaran lahan di Parit Demang Dalam pada Jumat (28/8) membutuhkan respons cepat karena titik api berada dekat rumah dan permukiman warga.
“Kondisi menjadi perhatian karena titik api berada di area yang mendekati rumah dan permukiman warga, sehingga membutuhkan respons cepat untuk mencegah api menjalar dan mengancam keselamatan masyarakat,” katanya.
Pemadaman dilakukan bersama-sama dengan mempertimbangkan kondisi lahan, arah angin, kepulan asap, akses menuju titik api, dan ketersediaan sumber air. Panas, asap pekat, lahan kering, serta medan yang sulit menjadi tantangan petugas dan relawan.
Jajaran Polsek Pontianak Selatan juga melakukan groundcheck dan penanganan karhutla di sejumlah lokasi, Minggu (30/8). Di antaranya Jalan Parit Demang Dalam serta Jalan Parit Juantak atau Jalan Perdana Ujung.
Kapolsek Pontianak Selatan AKP Inayatun Nurhasanah mengatakan pengecekan dilakukan untuk memastikan kondisi titik panas sekaligus mengambil langkah penanganan agar api tidak meluas.
Selain pemadaman, personel memberikan imbauan kepada warga dan pemilik lahan agar tidak melakukan pembakaran.
“Warga diingatkan agar tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, terlebih pada musim kemarau yang dapat menyebabkan api dengan cepat menjalar dan sulit dikendalikan,” katanya.
Menurut Inayatun, penanganan karhutla harus dilakukan dengan mengutamakan pencegahan dan edukasi, tidak hanya ketika kebakaran sudah terjadi.
“Kami mengimbau warga dan pemilik lahan agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar karena dapat menimbulkan kebakaran yang meluas dan berdampak terhadap lingkungan serta kesehatan masyarakat,” ujarnya. (bar/sti)
Editor : Hanif