Niatnya ingin sehat. Bangun pagi, mengenakan sepatu olahraga, lalu berjalan kaki atau jogging di tengah udara pagi. Namun ketika kabut asap menyelimuti kota, kebiasaan yang selama ini dianggap sehat itu justru bisa berubah menjadi persoalan kesehatan.
Semakin berat olahraga, semakin cepat dan dalam seseorang bernapas. Artinya, ketika udara mengandung asap dan partikel halus, jumlah udara yang masuk ke paru-paru juga semakin banyak.
Inilah yang sering luput diperhatikan masyarakat.
Kabut asap bukan sekadar membuat udara terlihat keruh atau mata terasa pedih. Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Paparan partikel ini dapat memperburuk gangguan pernapasan dan penyakit jantung, bahkan dikaitkan dengan risiko serangan jantung dan stroke.
Karena itu, olahraga di tengah udara berasap bukan sekadar persoalan “kuat atau tidak kuat”.
Bagi orang yang sedang jogging, misalnya, kebutuhan oksigen meningkat. Napas menjadi lebih cepat dan dalam. Jika dilakukan ketika udara penuh asap, tubuh berpotensi menerima paparan polutan lebih besar dibandingkan ketika seseorang hanya duduk atau beraktivitas ringan.
AirNow bahkan secara khusus menyarankan masyarakat menghindari aktivitas berat seperti berlari ketika udara terlihat atau tercium berasap dan menunggu sampai kualitas udara membaik sebelum melakukan aktivitas luar ruangan.
Yang Lebih Perlu Waspada Justru Orang Tua
Kebiasaan olahraga pagi banyak dilakukan masyarakat usia lanjut. Jalan kaki mengelilingi kawasan permukiman, bersepeda, senam hingga jogging menjadi rutinitas untuk menjaga tubuh tetap bugar.
Namun usia juga membuat tubuh lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara.
Orang dewasa lanjut usia termasuk kelompok yang lebih berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan asap. Partikel halus PM2.5 dapat memperburuk penyakit jantung dan paru serta berhubungan dengan gangguan kardiovaskular.
Jadi, bukan olahraganya yang salah. Waktunya yang perlu dipilih.
Ketika udara pagi terlihat berkabut, berbau asap atau kualitas udara sedang buruk, memaksakan diri berlari di luar rumah bukanlah ukuran kedisiplinan.
Menunda jogging bukan berarti malas. Justru bisa menjadi keputusan yang lebih sehat.
Olahraga dapat dipindahkan ke dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih. Aktivitas juga bisa dilakukan ketika kualitas udara sudah membaik.
Sebab, ada satu prinsip sederhana yang sering terlupakan:
Olahraga memang membuat tubuh lebih sehat. Tetapi olahraga di udara yang tercemar membuat tubuh harus bekerja lebih keras menghadapi polutan.
Masyarakat juga perlu membiasakan diri memeriksa kualitas udara sebelum berolahraga, bukan hanya melihat jam atau cuaca. Kondisi asap dapat berubah sepanjang hari.
Dan yang paling penting, jangan merasa aman hanya karena tubuh masih terasa kuat.
Tidak batuk bukan berarti udara yang dihirup aman. Tidak sesak bukan berarti paru-paru tidak terpapar.
Terlebih bagi kelompok lanjut usia, penderita penyakit jantung atau paru, serta mereka yang memiliki faktor risiko kesehatan lainnya, kehati-hatian perlu ditingkatkan.**
Editor : Salman Busrah