Karhutla dan Ancaman Penyakit Saluran Pernapasan

Hanif • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 09:28 WIB
Ilustrasi - Petugas berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Antara)
Ilustrasi - Petugas berjuang melawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Antara)

Oleh: Ns. Haryanto, S.Kep, MSN., Ph.D*

KEBAKARAN hutan dan lahan atau karhutla masih menjadi ancaman serius bagi masyarakat, terutama di daerah yang memiliki kawasan hutan dan lahan gambut salah satunya Kalimantan Barat. Ketika musim kemarau berlangsung lama, lahan menjadi kering dan mudah terbakar. Api yang awalnya kecil dapat menyebar dengan cepat, sedangkan kebakaran pada lahan gambut sering kali sulit dipadamkan karena api dapat menjalar hingga ke lapisan bawah tanah.

Karhutla tidak hanya merusak hutan, menghilangkan habitat satwa, dan mengganggu aktivitas ekonomi. Asap yang dihasilkannya juga dapat menimbulkan masalah kesehatan masyarakat, khususnya gangguan pada saluran pernapasan. Bahkan, asap dapat terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh dari lokasi kebakaran sehingga dampaknya dirasakan oleh masyarakat secara luas.

 

Mengapa Asap Karhutla Berbahaya?

Asap karhutla mengandung campuran partikel dan gas berbahaya, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, sulfur dioksida, senyawa organik volatil, serta partikel halus PM₂.₅. Partikel PM₂.₅ memiliki ukuran sangat kecil, yakni kurang dari 2,5 mikrometer, sehingga tidak mudah terlihat oleh mata.

Karena ukurannya yang sangat kecil, PM₂.₅ dapat melewati mekanisme penyaringan alami pada hidung dan masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru. Sebagian partikel bahkan dapat masuk ke dalam aliran darah. Oleh karena itu, dampak asap karhutla bukan hanya berupa batuk atau tenggorokan gatal, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi paru-paru, jantung, dan organ tubuh lainnya.

Paparan asap dalam waktu singkat dapat menyebabkan mata perih dan berair, hidung tersumbat, tenggorokan kering, batuk, sakit kepala, suara serak, sesak napas, dan tubuh mudah lelah. Sementara itu, paparan dalam konsentrasi tinggi atau secara berulang dapat menimbulkan peradangan saluran napas, menurunkan fungsi paru-paru, dan memperburuk penyakit yang sebelumnya telah diderita.

 

Ancaman terhadap Saluran Pernapasan

Saluran pernapasan merupakan bagian tubuh yang pertama kali berhadapan langsung dengan asap karhutla. Ketika asap terhirup, partikel dan zat kimia di dalamnya dapat mengiritasi lapisan saluran napas. Tubuh kemudian merespons dengan meningkatkan produksi lendir dan memicu peradangan. Kondisi tersebut menimbulkan batuk, dahak, rasa berat di dada, serta kesulitan bernapas.

Pada penderita asma, paparan asap dapat memicu penyempitan saluran napas dan menyebabkan serangan asma. Penderita dapat mengalami batuk, napas berbunyi atau mengi, dada terasa berat, dan sesak napas. Sementara itu, pada penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), asap dapat memperburuk gejala dan meningkatkan risiko perawatan di rumah sakit.

Asap karhutla juga sering dikaitkan dengan meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Perlu dipahami bahwa asap tidak selalu secara langsung menyebabkan infeksi. Namun, iritasi dan peradangan akibat asap dapat mengganggu mekanisme pertahanan alami saluran pernapasan. Akibatnya, seseorang menjadi lebih rentan terhadap berbagai gangguan dan infeksi pernapasan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa partikel halus merupakan salah satu ancaman utama dalam asap kebakaran. Paparannya dapat menyebabkan maupun memperburuk penyakit paru-paru dan penyakit kardiovaskular. Karena itu, karhutla harus dipandang sebagai persoalan lingkungan sekaligus sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat.

 

Siapa yang Paling Berisiko?

Meskipun seluruh masyarakat dapat mengalami dampak asap karhutla, beberapa kelompok menghadapi risiko yang lebih besar. Kelompok tersebut meliputi bayi, anak-anak, lansia, ibu hamil, perokok, serta penderita asma, PPOK, penyakit jantung, diabetes, dan penyakit kronis lainnya.

Anak-anak lebih rentan karena paru-parunya masih berkembang, lebih sering beraktivitas di luar, dan menghirup udara lebih banyak dibandingkan ukuran tubuhnya. Lansia juga berisiko karena fungsi organ tubuh mulai menurun dan mereka lebih sering mengalami penyakit penyerta.

Petugas pemadam kebakaran, pekerja perkebunan, pengemudi, pedagang kaki lima, dan masyarakat yang bekerja di luar ruangan juga menghadapi paparan yang lebih tinggi. Mereka membutuhkan perlindungan khusus karena harus berada di luar rumah lebih lama.

Melindungi Diri dari Paparan Asap

Langkah perlindungan yang paling utama adalah mengurangi paparan. Masyarakat perlu memantau informasi kualitas udara dan mengikuti imbauan pemerintah. Ketika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar rumah, terutama olahraga dan pekerjaan fisik berat, sebaiknya dikurangi.

Pintu dan jendela perlu ditutup untuk mengurangi masuknya asap. Apabila tersedia, gunakan pendingin udara dalam mode sirkulasi internal atau alat penyaring udara. Hindari menambah pencemaran udara di dalam rumah melalui asap rokok, pembakaran sampah, serta aktivitas memasak yang menghasilkan banyak asap.

Jika harus keluar rumah, masyarakat dianjurkan menggunakan masker yang ukurannya sesuai dan terpasang rapat menutupi hidung, mulut, serta dagu. Masker dapat mengurangi paparan partikel apabila digunakan dengan benar, tetapi tidak melindungi penggunanya dari semua gas berbahaya, termasuk karbon monoksida.

Masyarakat juga perlu menjaga kecukupan cairan, mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat dengan cukup, serta mandi dan mengganti pakaian setelah beraktivitas di luar rumah. Penderita asma atau penyakit paru kronis harus memastikan obat rutinnya tersedia dan tetap digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Antibiotik tidak boleh dikonsumsi sembarangan karena tidak semua batuk atau gangguan pernapasan disebabkan oleh infeksi bakteri.

Kenali Tanda Bahaya

Keluhan ringan akibat asap umumnya dapat membaik setelah seseorang menjauhi sumber paparan. Namun, pertolongan medis harus segera dicari apabila muncul sesak napas berat, napas sangat cepat, napas berbunyi, sulit berbicara, nyeri dada, batuk yang tidak berhenti, kebingungan, penurunan kesadaran, atau bibir dan ujung jari tampak kebiruan.

Pada anak-anak, tanda bahaya dapat berupa napas cepat, tarikan dinding dada, sulit minum, tubuh sangat lemah, atau perubahan warna bibir menjadi kebiruan. Penderita asma juga harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan apabila serangannya tidak membaik setelah menggunakan obat pelega sesuai dengan anjuran dokter.

 

Pencegahan Harus Dimulai dari Sumbernya

Penggunaan masker dan pembatasan aktivitas hanyalah upaya untuk mengurangi dampak. Pencegahan terbaik tetap dilakukan dengan menghentikan kebakaran sejak dari sumbernya. Masyarakat tidak boleh membuka lahan atau membersihkan kebun dengan membakar. Pembakaran sampah, pembuangan puntung rokok sembarangan, dan penggunaan api di sekitar lahan kering juga harus dihindari.

Pemerintah, perusahaan, dan masyarakat perlu bekerja sama melakukan patroli, mendeteksi titik panas secara dini, menjaga tata air di lahan gambut, menyediakan ruang publik dengan udara bersih, serta menyiapkan pelayanan kesehatan bagi daerah terdampak. Karhutla bukan sekadar peristiwa munculnya api dan kabut asap. Di balik asap tersebut terdapat ancaman terhadap kesehatan, pendidikan, produktivitas, dan kehidupan masyarakat. Setiap kebakaran yang berhasil dicegah berarti melindungi ribuan orang dari paparan udara yang berbahaya.

Oleh karena itu, pesan yang harus terus disampaikan adalah cegah apinya, hindari asapnya, dan lindungi pernapasan kita. Udara bersih merupakan kebutuhan dasar sekaligus hak setiap manusia. Menjaga hutan dan lahan berarti menjaga kesehatan serta masa depan generasi berikutnya.**

 

*Penulis adalah dosen Institut Teknologi dan Kesehatan Muhammadiyah Kalimantan Barat.

Editor : Hanif
PM2.5 Kesehatan Pernapasan kalimantan barat karhutla kabut asap