PONTIANAK POST - Melimpahnya hasil panen nanas di Desa Mekar Baru, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, kini tidak lagi menyisakan masalah penumpukan sampah. Masyarakat di desa itu melakukan aksi nyata dengan mengoptimalkan potensi pangan lokal sekaligus mereduksi limbah rumah tangga.
Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Pontianak mendorong Tim Penggerak (TP) PKK Desa Mekar Baru merealisasikan hal ini dengan menggelar pelatihan dan demonstrasi pengolahan nanas berbasis zero waste.
Selama ini, Desa Mekar Baru dikenal memiliki hasil pertanian nanas yang sangat melimpah. Namun, melimpahnya hasil panen tersebut menyisakan tantangan tersendiri; bagian kulit dan ampas nanas masih sering dibuang begitu saja tanpa pengolahan lebih lanjut sehingga berpotensi mencemari lingkungan sebagai limbah.
Baca Juga: Cegah Abrasi Pesisir Mempawah, Mahasiswa KKN UMP dan Gemawan Tanam 391 Bibit Mangrove
Dalam program pemberdayaan ini, tidak hanya aspek keterampilan pengolahan pangan yang ditekankan, melainkan juga manajemen administrasi keuangan. Mahasiswa KKN Kelompok 80 turut memberikan edukasi mengenai pencatatan kas sederhana kepada pengurus PKK Desa Mekar Baru. Pendampingan ini bertujuan membantu para pengurus dalam mengelola keuangan kegiatan organisasi secara lebih tertib, transparan, dan akuntabel di masa mendatang.
Ketua KKN Kelompok 80 Universitas Muhammadiyah Pontianak, Sofia Awalia Saputri, bersama para anggotanya memandu langsung jalannya demonstrasi praktis. Rabiah, salah satu anggota KKN Kelompok 80 yang bertindak sebagai pemateri, menyampaikan bahwa penerapan pengolahan zero waste ini ditujukan untuk merombak cara pandang masyarakat terhadap bahan pangan.
"Potensi nanas di Desa Mekar Baru sangat besar. Melalui konsep zero waste, kita bersama Ibu-Ibu PKK mengolah sari buahnya menjadi sirup, daging buahnya menjadi manisan, ampas dan seratnya menjadi selai, serta kulit nanas yang bersih dapat difermentasi menjadi minuman tepache. Dengan demikian, bagian-bagian nanas yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai guna,” jelas Rabiah.
Elly Trisnawati, Dosen Pendamping Lapangan (DPL) KKN Kelompok 80 menekankan pentingnya inisiatif berbasis potensi lokal sebagai sarana bagi mahasiswa untuk menyumbangkan keilmuannya demi kemaslahatan masyarakat sekitar secara nyata.
Pelatihan pengolahan zero waste tidak hanya mengajarkan pemanfaatan potensi lokal secara menyeluruh, tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat terhadap keberlanjutan lingkungan dan efisiensi penggunaan bahan.
“Selain itu, edukasi pencatatan kas sederhana diharapkan dapat membantu pengurus PKK mengelola keuangan kegiatan secara lebih rapi, transparan, dan terstruktur,” ujar Elly Trisnawati.
Dalam momen ini, kader PKK tidak sekadar menyimak materi teoritis, melainkan ikut andil secara langsung dalam proses pengolahan nanas. Mereka mempraktikkan langsung mulai dari pemilahan buah nanas berkualitas, teknik pengupasan kulit nanas yang bersih, pengambilan sari buah untuk diolah menjadi sirup manis, pembuatan manisan dari daging buah, pemanfaatan ampas serat menjadi selai nanas yang lezat, hingga persiapan kulit nanas sebagai bahan baku minuman fermentasi khas Meksiko, tepache.
Melalui kegiatan ini, pihaknya menaruh harapan besar agar keterampilan pengolahan nanas secara menyeluruh ini tidak berhenti sebagai seremonial belaka. Keterampilan ini diharapkan dapat terus diterapkan secara konsisten dan mandiri oleh warga Desa Mekar Baru.
Inovasi pengolahan berbasis ramah lingkungan ini diproyeksikan mampu mendongkrak nilai tambah komoditas pertanian lokal, sekaligus menstimulasi terbukanya unit-unit usaha kreatif baru yang menopang ketahanan ekonomi keluarga. (sti/ser)
Editor : Miftahul Khair