PONTIANAK – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Supadio Pontianak, Kamis (3/9). Jarak pandang yang anjlok hingga hanya sekitar 100–200 meter membuat sejumlah penerbangan tidak dapat beroperasi normal.
Gangguan bahkan terjadi pada penerbangan yang hendak mendarat di Supadio. Pesawat yang membawa Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama rombongan gagal mendarat karena kondisi jarak pandang dinilai tidak aman untuk penerbangan.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengatakan jarak pandang di sekitar bandara saat itu hanya sekitar 100 meter. Kondisi tersebut membuat pilot tidak berani melakukan pendaratan.
“Di tempat kita ini beliau batal datang karena kabut asap dan jarak pandang hanya bisa 100 meter saja. Sehingga pesawat tidak berani untuk landing,” kata Ria Norsan, Kamis.
Kunjungan Menteri Kehutanan ke Kalbar pun terpaksa ditunda. Raja Juli sebelumnya dijadwalkan meninjau sejumlah lokasi terdampak karhutla, termasuk kawasan Limbung, sekitar SMA Negeri 4, dan Rasau Jaya.
Gangguan penerbangan tidak hanya terjadi pada pesawat yang membawa rombongan Menteri Kehutanan.
Manager Operasi Bandara Supadio Pontianak Muhammad Arifin mengatakan hingga pukul 10.35 WIB, sedikitnya dua penerbangan terdampak kondisi asap dan rendahnya jarak pandang. Salah satunya penerbangan Garuda Indonesia dari Jakarta menuju Pontianak yang tidak dapat mendarat dan akhirnya kembali ke Jakarta.
“Per hari ini sudah ada dua penerbangan yang terdampak dari asap ini, khususnya jarak pandang,” kata Arifin.
Menurut dia, kondisi visibility di sekitar bandara berada di kisaran 200 meter. Dengan kondisi tersebut, operasional penerbangan baik keberangkatan maupun kedatangan belum dapat diakomodasi secara normal.
“Karena kondisi cuaca di-support dengan visibility yang rendah, jadi operasional penerbangan baik berangkat maupun datang itu belum bisa kita akomodir,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat penumpang yang berada di Bandara Supadio harus menghadapi ketidakpastian jadwal penerbangan. Sejumlah calon penumpang memilih menunda keberangkatan sembari menunggu kondisi jarak pandang membaik.
Kabut asap pekat juga telah mengganggu aktivitas penerbangan Supadio sejak sehari sebelumnya. Pada Rabu (2/9), kondisi asap yang menyelimuti kawasan bandara menyebabkan aktivitas penerbangan dari dan menuju Pontianak ikut terhenti.
Gangguan kali ini menunjukkan dampak karhutla mulai semakin luas. Persoalan asap tidak lagi hanya menyangkut kualitas udara dan kesehatan masyarakat, tetapi telah menghambat konektivitas udara Kalbar.
Kondisi tersebut menjadi semakin ironis ketika Menteri Kehutanan yang dijadwalkan datang ke Kalbar untuk melihat langsung penanganan karhutla justru gagal mendarat akibat asap yang ditimbulkan kebakaran lahan.
Pemerintah Provinsi Kalbar menyatakan kunjungan Menhut masih diupayakan dapat dilanjutkan apabila kondisi cuaca dan jarak pandang membaik. Agenda tersebut antara lain peninjauan lapangan dan rapat koordinasi penanganan karhutla.
Sementara itu, keselamatan penerbangan tetap menjadi pertimbangan utama. Pesawat tidak dapat dipaksakan melakukan pendaratan ketika jarak pandang berada jauh di bawah kondisi yang dipersyaratkan.
Gangguan penerbangan ini menjadi sinyal semakin seriusnya dampak karhutla di Kalbar. Jika kondisi asap dan visibility rendah terus bertahan, bukan hanya jadwal penerbangan yang terancam terganggu, tetapi mobilitas masyarakat dan agenda pemerintahan melalui jalur udara juga ikut terdampak.
Editor : Salman Busrah