BMKG Deteksi 3.690 Titik Panas di Kalbar, Ketapang dan Kubu Raya Paling Mengkhawatirkan

Deny Hamdani • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 16:00 WIB
Sebaran jumlah data hotsporlt di Kalbar. (BMKG)
Sebaran jumlah data hotsporlt di Kalbar. (BMKG)

PONTIANAK POST — Sebaran titik panas (hotspot) di Kalimantan Barat masih menunjukkan angka tinggi. Data Stasiun Meteorologi Kelas I Supadio, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mencatat 3.690 titik panas terdeteksi sepanjang Kamis, 3 September 2026.

Data tersebut merupakan hasil pemantauan periode 03 September 2026 pukul 00.00 hingga 23.59 WIB menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA20, S-NPP, Terra, dan Aqua.  Dari total tersebut, sebanyak 3.370 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 258 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi, sedangkan 62 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah.

Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 2.135 titik. Angka tersebut terdiri atas 40 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 1.912 menengah, dan 183 tinggi. Posisi berikutnya ditempati Kubu Raya dengan 725 titik, terdiri atas 11 tingkat kepercayaan rendah, 681 menengah, dan 33 tinggi. Selanjutnya, Kayong Utara tercatat 326 titik, Melawi 146 titik, Kapuas Hulu 104 titik, dan Sintang 89 titik.

Sementara itu, Mempawah mencatat 71 titik, Sambas 32 titik, Sanggau 24 titik, Landak 13 titik, Bengkayang 10 titik, Sekadau 9 titik, serta Singkawang 6 titik. Kota Pontianak tercatat nihil titik panas dalam pemantauan tersebet

Jika dilihat berdasarkan tingkat kepercayaan tinggi, Ketapang juga menjadi wilayah dengan jumlah tertinggi, yakni 183 titik, disusul Kubu Raya sebanyak 33 titik dan Melawi 19 titik. Kayong Utara tercatat sembilan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi, Sintang enam titik, Kapuas Hulu empat titik, serta Singkawang dan Sambas masing-masing satu titik.

Tingginya konsentrasi hotspot di Ketapang dan Kubu Raya menjadi perhatian karena kedua wilayah tersebut menyumbang sebagian besar titik panas yang terdeteksi di Kalimantan Barat. BMKG Kalbar sendiri menyediakan pemantauan khusus sebaran titik panas sebagai bagian dari informasi kebakaran hutan dan lahan. Sistem tersebut mendeteksi anomali suhu panas dibandingkan kondisi di sekitarnya.

Dari release forecaster BMKG menjelaskan, hotspot merupakan indikasi anomali panas yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta berarti setiap titik merupakan kebakaran hutan atau lahan yang sedang berlangsung. Pemantauan dilakukan pada siang dan malam hari untuk masing-masing satelit. Namun, terdapat keterbatasan ketika wilayah tertutup awan atau berada dalam kondisi blank zone, sehingga titik panas di wilayah tersebut tidak dapat terdeteksi.

Karena itu, data hotspot perlu ditindaklanjuti dengan verifikasi lapangan untuk memastikan apakah anomali panas tersebut benar-benar merupakan kejadian kebakaran.

Ancaman Karhutla Masih Perlu Diwaspadai

Munculnya ribuan titik panas ini terjadi di tengah periode musim kemarau Kalimantan Barat. BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa puncak musim kemarau 2026 terjadi pada Agustus, sehingga kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan tetap diperlukan.

Di sisi lain, BMKG Kalbar masih memantau peluang hujan di sejumlah wilayah. Untuk periode 3–9 September 2026, sebagian besar wilayah Kalbar diprakirakan berpotensi mengalami hujan ringan, meski distribusinya tidak merata.

"Dengan jumlah 3.690 titik panas dalam satu hari pemantauan, penguatan patroli, pemantauan lapangan, dan respons cepat terhadap titik yang terindikasi sebagai kebakaran menjadi penting untuk mencegah api berkembang menjadi karhutla yang lebih luas," kata BMKG dalam keterangan resminya. (den)

Editor : Miftahul Khair
titik panas karhutla kalbar bmkg ketapang kubu raya