Oleh Syafaruddin Daeng Usman*
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
KABAR duka itu datang menjelang salat Zuhur. Nazirin bin Abdulhamid, sahabat yang kami kenal santun, tegas, dan piawai berorganisasi, telah berpulang ke haribaan-Nya.
Saya mengenal almarhum ketika memimpin redaksi Tabloid Mimbar Untan. Nazirin menjadi salah seorang staf redaksi yang secara khusus meliput kegiatan Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura.
Kami juga berhimpun di Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Pontianak (Forkumakap), organisasi mahasiswa asal Kabupaten Pontianak—kini Kabupaten Mempawah. Sepingat saya, Nazirin berasal dari Segedong.
Saya bersama Nur Iskandar cukup sering berinteraksi dengannya. Nazirin merupakan sosok yang gesit dan energik. Bekal pendidikan hukum membuatnya piawai mengurai pasal serta aturan, meski tidak menekuni profesi sebagai praktisi hukum.
Pada masa gerakan Reformasi 1998, Nazirin dikenal sebagai aktivis yang lihai berorasi. Ketika menjadi pewarta Harian Akcaya, saya kerap mewawancarainya dalam berbagai aksi dan kegiatan mahasiswa.
Di lapangan, kami kerap bertemu dengan para aktivis lain yang memilih jalur diplomasi untuk menyuarakan reformasi, seperti Jumadi dan Muhammad Chandra Jamaludin. Kenangan itu juga membawa ingatan kepada rekan-rekan seperjuangan yang lebih dahulu berpulang, di antaranya Supardi A Kadir, Viryan Azis, dan Muhammad Tauhid.
Kedekatan kami terus terjalin karena istri saya merupakan teman seangkatan kuliah Nazirin, bersama Muda Mahendrawan, Heru Suwono, dan sejumlah nama lainnya.
Satu kenangan yang membekas terjadi ketika kami meliput persidangan di Pengadilan Negeri untuk Mimbar Untan. Nazirin mengikuti jalannya sidang dengan serius, lalu menulis laporan yang tajam dan kritis.
Sayangnya, reportase tersebut tidak dapat diterbitkan. Saat itu, sensor terhadap pers pada masa Orde Baru masih sangat kuat. Kendati demikian, tulisan tersebut memperlihatkan ketelitian Nazirin dalam memahami persoalan hukum sekaligus keberaniannya menyampaikan kritik.
Kecakapannya berorganisasi kemudian terlihat ketika ia menjadi komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Barat. Berbekal pengalaman sebagai aktivis lapangan, Nazirin lincah mengelola penyelenggaraan pemilu di Kalbar.
Dalam beberapa waktu terakhir, kondisi kesehatannya terus menurun akibat strok yang cukup lama diderita. Beberapa hari sebelum kepergiannya, saya dan istri berniat kembali menjenguk. Saya juga sempat berbincang dengan Muhammad Akif, teman seangkatan kuliah yang kini menjabat Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak. Kami merencanakan kunjungan bersama.
Namun, takdir berkata lain. Kami akhirnya datang bukan untuk menjenguk, melainkan melayat dan mengantarkan kepergian seorang sahabat.
Nazirin Hamid mengembuskan napas terakhir pada Senin, 7 September, pukul 12.34, bertepatan dengan berkumandangnya azan Zuhur. Kini, namanya tinggal dalam kenangan, bersama jejak pengabdian, amal kebaikan, dan ibadahnya.
Beristirahatlah dengan lapang dan tenang, Bang Rin. Semoga sakit yang pernah diderita menjadi penggugur kekhilafan dan menambah pahala dalam perjalanan menuju jannah-Nya.
Selamat jalan, sahabat.
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.
*) Syafaruddin Daeng Usman, Redaksi Tabloid Mimbar Untan 1992–1998)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro