PONTIANAK POST – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat mulai berdampak terhadap permintaan sejumlah produk kesehatan. Masker medis hingga alat bantu pernapasan seperti nebulizer mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa pekan terakhir.
Owner Apotek Agung sekaligus Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) Kalimantan Barat, Sukamto, mengatakan permintaan masker medis meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan hari normal.
“Persediaan di apotek juga sering kehabisan karena kami dominan mendistribusikan masker produk dari luar Kalbar,” ujarnya, Selasa (8/9).
Baca Juga: Aji Mumpung Penjual Nakal, Viral Masyarakat Keluhkan Harga Masker Melonjak saat Erupsi GAK
Menurutnya, masker medis menjadi jenis yang paling banyak dicari masyarakat karena harganya relatif terjangkau. Masker dengan spesifikasi tiga lapis dinilai sudah cukup untuk membantu menyaring asap dan partikel sehingga tidak langsung masuk ke saluran pernapasan.
Lonjakan permintaan tersebut membuat pihak apotek sempat kewalahan, terutama karena banyaknya permintaan dari korporasi. Namun, kekosongan stok dapat segera diatasi karena pasokan dari Jakarta masih berjalan lancar.
“Kondisi ini berbeda dengan zaman Covid-19, di mana supply dari Jakarta juga sangat terbatas,” ucapnya.
Sukamto yang juga menjabat Ketua Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Kalbar itu mengatakan, hingga kini belum terjadi kenaikan harga masker meski permintaannya melonjak.
Baca Juga: Menangkal Bahaya Kabut Asap di Rumah: Seberapa Efektif Penggunaan Air Purifier?
“Untuk harga sampai saat ini tidak ada perubahan sama sekali. Masker yang kami distribusikan masih dijual sama dengan harga sebelum bencana karhutla karena memang tidak ada kenaikan harga dari distributor,” katanya.
Selain masker, peningkatan permintaan juga terjadi pada sejumlah alat dan produk kesehatan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Permintaan nebulizer atau alat bantu untuk penderita asma serta tabung oksigen meningkat hampir 30 persen. Kondisi tersebut seiring meningkatnya kasus asma dan infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan kondisi udara akibat kabut asap.
“Untuk obat-obatan asma juga cukup meningkat permintaannya dan vitamin-vitamin, terutama vitamin C, juga meningkat hampir 30 persen,” ujarnya.
Meski permintaan sejumlah produk kesehatan meningkat, Sukamto mengatakan jumlah kunjungan masyarakat ke apotek tidak serta-merta mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, masyarakat justru cenderung membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara memburuk. Warga memilih keluar rumah hanya untuk keperluan yang dianggap penting.
Di sisi lain, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap, GP Farmasi Kalbar bersama Gakeslab Kalbar berencana menggelar aksi sosial dalam pekan ini. Kegiatan tersebut berupa pembagian sekitar 2.000 paket yang terdiri dari masker dan vitamin C, sekaligus kampanye edukasi kepada masyarakat mengenai upaya menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang baik.
“Kami ingin memberikan edukasi dan membantu masyarakat sebagai wujud kepedulian kami selaku pengusaha farmasi dan alat kesehatan di Kalbar,” pungkasnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair