Ketapang Dominasi Luasan Karhutla Kalbar, Lahan Terbakar Capai 12.443 Hektare

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 14:45 WIB
Lokasi Karhutla di Kecamatan Kendawangan, Minggu (30/8) mendapat peninjauan Bupati Ketapang, Alexander Wilyo. (ISTIMEWA)
Lokasi Karhutla di Kecamatan Kendawangan, Minggu (30/8) mendapat peninjauan Bupati Ketapang, Alexander Wilyo. (ISTIMEWA)

PONTIANAK POST – Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat masih menjadi perhatian serius. Meski jumlah titik panas (hotspot) menunjukkan penurunan pada 7 September 2026, kondisi asap masih mempengaruhi jarak pandang, khususnya di Pontianak.

Berdasarkan data BMKG dari laporan briefing malam Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Senin (7/9) malam, tercatat 28 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di Kalbar. Sementara total hotspot yang terdeteksi baik tingkat kepercayaan rendah, menengah, hingga tinggi totalnya ada 1.051.

Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Kalbar, Daniel mengatakan penanganan karhutla tetap membutuhkan operasi daratdan dukungan udara. Terlebih, kondisi cuaca di sejumlah wilayah masih belum sepenuhnya mendukung upaya pemadaman.

Baca Juga: Hadapi Kekeringan dan Karhutla, Pemkab Kubu Raya Gelar Salat Istisqa Bersama Masyarakat

Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah ialah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, menurut Daniel, operasi tersebut tidak bisa dilakukan setiap saat karena sangat bergantung pada pertumbuhan awan konvektif. “Karena, OMC itu bisa dilakukan di suatu wilayah kalau ada pertumbuhan awan konvektif. Kalau tidak ada, ya tidak bisa. Jadi sifatnya tentatif,” kata Daniel.

Berdasarkan prakiraan BMKG yang diterima BPBD Kalbar pada 7 September, terdapat potensi pertumbuhan awan konvektif di Kapuas Hulu, Sintang, Sekadau, Sanggau, dan Sambas. Namun, keberadaan awan tersebut tidak serta-merta membuat hujan turun merata di seluruh wilayah kabupaten.

Daniel menjelaskan hujan hasil penyemaian awan juga dapat bersifat lokal. Awan konvektif bisa tumbuh di satu kecamatan, sedangkan wilayah lain dalam kabupaten yang sama belum tentu mendapatkan hujan. “Belum tentu juga ini satu kabupaten Kapuas Hulu itu bisa hujan merata,” ujarnya.

Ancaman karhutla juga masih terasa dari kondisi udara. Kementerian Kehutanan mencatat berdasarkan pemantauan BMKG pada Selasa (8/9) pagi, jarak pandang di Pontianak sekitar 1,7 kilometer dengan kondisi berasap. Sehari sebelumnya, pada malam 6 September, jarak pandang Pontianak sekitar dua kilometerdan juga dilaporkan berasap.

Baca Juga: Karhutla Kalbar Belum Tuntas, OMC Diperpanjang dan Suntik Gambut Diterapkan

Data laporan harian Posko Tanggap Darurat BPBD Kalbar juga menunjukkan kondisi kualitas udara sempat memburuk di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan PM2,5 pada 7 September, Kecamatan Jongkat, Mempawah, mencatat nilai maksimum harian 507,8 µg/m³dan masuk kategori berbahaya.

Kecamatan Sungai Raya, Kubu Raya, mencapai 631,5 µg/m³, juga dalam kategori berbahaya. Sementara Sungai Tebelian, Sintang, tercatat 170 µg/m³ atau kategori sangat tidak sehat. Kondisi jarak pandang juga terdampak asap. Dalam laporan yang sama, rata-rata jarak pandang kurang dari satu kilometer tercatat di Mempawah, Sambas, Melawi, Ketapang, Kubu Raya, Pontianak, dan Singkawang akibat kabut asap.

Di sisi lain, data Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (PKH) Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla di Kalbar periode Januari hingga Juli 2026 mencapai 38.310,89 hektare. Kabupaten Ketapang menjadi daerah dengan luasan karhutla terbesar, yakni 12.443,79 hektare. Berikutnya Kubu Raya 8.614,31 hektare, Mempawah 6.144,98 hektare, Kayong Utara 4.228,10 hektare, dan Sambas 2.318,48 hektare.

Baca Juga: Hujan Turun di Sambas, tetapi Kabut Asap Karhutla Masih Menyelimuti Sejumlah Wilayah

Jika dilihat berdasarkan periode bulanan, luas karhutla tertinggi terjadi pada Maret 15.064,49 hektaredisusul Juli dengan 9.628,90 hektare. Pada Januari tercatat 4.691,32 hektare, Februari 6.170,52 hektare, April 2.146,10 hektare, Mei 247,55 hektare, dan Juni 362,02 hektare. Totalnya mencapai 38.310,89 hektare.

Dari total tersebut, 21.618,59 hektare berada di kawasan non hutandan 16.692,29 hektare di kawasan hutan. Berdasarkan jenis tanah, sebanyak 20.795,29 hektare merupakan gambutdan 17.515,59 hektare mineral.

Data tersebut menunjukkan Ketapang menjadi daerah dengan luasan karhutla paling besar di Kalbar. Di daerah tersebut, luas lahan terbakar mencapai 12.443,79 hektare, terdiri dari 5.051,64 hektare kawasan non hutandan 7.392,15 hektare kawasan hutan.

Daniel menjelaskan, penanganan karhutla di Kalbar juga mendapat dukungan pemerintah pusat. Dalam laporan Posko Tanggap Darurat BPBD Kalbar, BNPB memberikan dukungan dua unit helikopterdan satu pesawat Cessna Grand Caravan untuk patroli udara.

BNPB juga mendukung pelaksanaan OMC dengan satu unit Cessna Grand Caravan. Untuk pemadaman dari udara, BNPB mengerahkan lima unit helikopter water bombing.

Dukungan juga datang dari Kementerian Pertahanan berupa dua helikopter water bombing, Mabes TNI dua helikopter water bombing, serta TNI Angkatan Udara satu pesawat Cassa NC-212i (A-2117) untuk mendukung OMC.

Secara keseluruhan, pemerintah pada 7 September menyebut tetap mengerahkan 53 armada udara untuk mendukung penanganan karhutla di enam provinsi prioritas. Sebanyak 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung OMC, sedangkan 34 armada digunakan untuk water bombing.

Daniel menegaskan OMC hanya menjadi salah satu ikhtiar dalam menghadapi karhutla. Hujan alami dengan durasi cukup panjangdan intensitas memadai tetap menjadi harapan untuk membantu membasahi lahan secara lebih signifikan.

Sementara itu, masker medis hingga alat bantu bagi penderita asma seperti nebulizer mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa waktu terakhir.

Owner Apotek Agung sekaligus Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi (GP Farmasi) Kalimantan Barat, Sukamto, mengatakan permintaan masker medis meningkat hingga 10 kali lipat dibandingkan hari normal.

 “Persediaan di apotek juga sering kehabisan karena kami dominan mendistribusikan masker produk dari luar Kalbar,” ujarnya, Selasa (8/9).

Menurutnya, masker medis menjadi jenis yang paling banyak dicari masyarakat karena harganya relatif terjangkau. Masker dengan spesifikasi tiga lapis dinilai sudah cukup untuk membantu menyaring asap dan partikel sehingga tidak langsung masuk ke saluran pernapasan.

Lonjakan permintaan tersebut membuat pihak apotek sempat kewalahan, terutama karena banyaknya permintaan dari korporasi. Namun, kekosongan stok dapat segera diatasi karena pasokan dari Jakarta masih berjalan lancar.

 “Kondisi ini berbeda dengan zaman Covid-19, di mana supply dari Jakarta juga sangat terbatas,” ucapnya.

Sukamto yang juga menjabat Ketua Gabungan Perusahaan Alat-Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab) Kalbar itu mengatakan, hingga kini belum terjadi kenaikan harga masker meski permintaannya melonjak.

“Untuk harga sampai saat ini tidak ada perubahan sama sekali. Masker yang kami distribusikan masih dijual sama dengan harga sebelum bencana karhutla karena memang tidak ada kenaikan harga dari distributor,” katanya.

Selain masker, peningkatan permintaan juga terjadi pada sejumlah alat dan produk kesehatan yang berkaitan dengan gangguan pernapasan. Permintaan nebulizer atau alat bantu untuk penderita asma serta tabung oksigen meningkat hampir 30 persen. Kondisi tersebut seiring meningkatnya kasus asma dan infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan kondisi udara akibat kabut asap.

 “Untuk obat-obatan asma juga cukup meningkat permintaannya dan vitamin-vitamin, terutama vitamin C, juga meningkat hampir 30 persen,” ujarnya.

Meski permintaan sejumlah produk kesehatan meningkat, Sukamto mengatakan jumlah kunjungan masyarakat ke apotek tidak serta-merta mengalami kenaikan signifikan. Menurutnya, masyarakat justru cenderung membatasi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara memburuk. Warga memilih keluar rumah hanya untuk keperluan yang dianggap penting.

Di sisi lain, sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kabut asap, GP Farmasi Kalbar bersama Gakeslab Kalbar berencana menggelar aksi sosial dalam pekan ini. Kegiatan tersebut berupa pembagian sekitar 2.000 paket yang terdiri dari masker dan vitamin C, sekaligus kampanye edukasi kepada masyarakat mengenai upaya menjaga kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang baik.

 “Kami ingin memberikan edukasi dan membantu masyarakat sebagai wujud kepedulian kami selaku pengusaha farmasi dan alat kesehatan di Kalbar,” pungkasnya.

Sementara itu, Ahli epidemiologi dari Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin menekankan bahwa kabut asap bukan hanya persoalan bau tidak nyaman atau mata perih. Ancaman utama berasal dari campuran gas dan partikulat, terutama PM2,5. Partikel ini berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil, sehingga dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru. 

“WHO menempatkan partikulat sebagai ancaman utama kesehatan masyarakat dari asap kebakaran,” katanya. 

Paparan asap menurutnya dapat menimbulkan keluhan ringan seperti mata perih, hidung dan tenggorokan teriritasi, batuk, sakit kepala, dan rasa tidak nyaman saat bernapas. Pada paparan lebih berat, keluhan dapat berupa mengi, sesak napas, nyeri dada, serangan asma, hingga memperburuk penyakit jantung dan paru yang sudah ada. 

Lebih jauh ia menjelaskan, perlindungan kesehatan saat kabut asap adalah mengurangi sebanyak mungkin asap dan partikulat yang masuk ke tubuh. Langkah yang dapat dilakukan masyarakat seperti memantau informasi kualitas udara, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, hingga menggunakan masker.

“Masker harus terpasang dengan baik agar filtrasi efektif,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk menutup pintu dan jendela ketika asap di luar tinggi, dan bila memungkinkan dapat menggunakan pendingin udara pada mode resirkulasi. Ia juga mengingatkan agar segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak berat, mengi yang memburuk, nyeri dada, penurunan kesadaran, bibir tampak kebiruan, atau kondisi lain yang mengkhawatirkan. (sti/bar)

Editor : Hanif
kalimantan barat karhutla kalbar BPBD KALBAR ketapang kabut asap