Tagihan Kemarau Kalbar -2- ; Sungai Kapuas Surut, Sawit Kalbar Tersandera

Salman Busrah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 07:11 WIB
FOTO : TAUFIK / PONTIANAK POST
KERING : Musim kemarau melanda Kapuas Hulu, Sungai Kapuas di Bumi Uncak Kapuas Hulu sudah mulai kering.
FOTO : TAUFIK / PONTIANAK POST KERING : Musim kemarau melanda Kapuas Hulu, Sungai Kapuas di Bumi Uncak Kapuas Hulu sudah mulai kering.

Petani Mulai Sulit Menjual TBS, Sejumlah PKS Hentikan Operasional

Buah sawit masih bergelantungan di kebun. Panen tetap berlangsung. Tetapi ketika Sungai Kapuas terus menyusut akibat kemarau panjang, persoalan baru muncul: hasil panen tidak mudah bergerak menuju pabrik.

Sejumlah pabrik kelapa sawit di Kalimantan Barat mulai menghadapi persoalan pasokan dan distribusi akibat rendahnya muka air Sungai Kapuas. Kondisi tersebut terutama dirasakan di wilayah yang mengandalkan jalur sungai untuk mengangkut hasil perkebunan dan produk olahan sawit.

Di sejumlah daerah, kondisi sungai yang semakin dangkal membuat tongkang dan ponton kesulitan melintas. Akibatnya, rantai distribusi CPO terganggu dan aktivitas pengolahan sawit ikut terdampak.

Sejumlah pabrik bahkan dilaporkan terpaksa menghentikan sementara aktivitas pengolahan TBS.

Masalah ini memperlihatkan sisi lain dari kemarau yang jarang terlihat dari pusat kota.

Bagi petani, ancamannya bukan hanya tanaman kekurangan air. Buah yang sudah dipanen pun bisa kehilangan jalan menuju pembeli.

Buah Ada, Jalan Keluar Terbatas

Kelapa sawit memiliki karakter berbeda dengan komoditas yang bisa disimpan lama.

Setelah dipanen, tandan buah segar (TBS) harus segera dibawa ke pabrik untuk diolah. Semakin lama buah menunggu, kualitasnya menurun dan nilai ekonominya ikut terpengaruh.

Karena itu, ketika transportasi terganggu, dampaknya langsung terasa pada petani.

Petani tetap mengeluarkan biaya panen dan angkut. Namun jika kapasitas pabrik berkurang atau pengiriman tersendat, serapan TBS dapat ikut menurun.

Pada titik inilah kemarau berubah menjadi persoalan ekonomi.

Air sungai turun beberapa meter, tetapi dampaknya bisa sampai ke pendapatan rumah tangga petani.

Efek Domino

Persoalan tersebut tidak berhenti di kebun.

Rantai ekonominya cukup panjang:

sungai surut → angkutan terganggu → CPO sulit dikirim → aktivitas PKS berkurang → serapan TBS terganggu → pendapatan petani tertekan.

Jika berlangsung lama, dampaknya bisa menjalar ke buruh panen, sopir angkutan, pemilik kapal, pedagang hingga usaha kecil yang hidup dari perputaran ekonomi perkebunan.

Ini menjadi penting karena perkebunan sawit merupakan salah satu sektor ekonomi utama Kalimantan Barat.

Data Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar menunjukkan perkebunan kelapa sawit rakyat mencapai sekitar 711.883 hektare, dengan produksi lebih dari 1,27 juta ton berdasarkan data 2025.

Besarnya areal perkebunan rakyat tersebut menunjukkan betapa luasnya masyarakat yang secara langsung maupun tidak langsung bergantung pada kelancaran rantai ekonomi sawit.

Ketika sungai menjadi dangkal, yang terganggu bukan hanya pelayaran.

Yang ikut tersendat adalah arus uang dari pabrik menuju petani.

Kapuas Bukan Sekadar Sungai

Bagi Kalimantan Barat, Sungai Kapuas bukan hanya jalur air.

Sungai terpanjang di Indonesia itu merupakan bagian penting dari sistem transportasi dan distribusi barang di Kalbar.

Ketika musim penghujan, sungai menjadi jalur angkutan. Namun ketika kemarau berkepanjangan membuat muka air turun, kapasitas angkutan ikut berkurang.

Kapal yang biasanya membawa muatan besar harus mengurangi beban agar tidak kandas.

Artinya, biaya logistik dapat meningkat.

Barang yang biasanya sekali angkut dalam jumlah besar harus dikirim dengan kapasitas lebih kecil atau menggunakan alternatif transportasi lain yang lebih mahal.

Bagi komoditas bernilai besar seperti CPO, gangguan tersebut bisa menjadi persoalan serius.

Kemarau Mengubah Peta Biaya

Persoalan ini menunjukkan bahwa kerugian akibat kemarau tidak selalu terlihat dalam bentuk lahan yang kering atau tanaman yang mati.

Ada biaya tersembunyi yang muncul karena infrastruktur alam tidak lagi bekerja seperti biasanya.

Sungai yang dangkal berarti kapal membawa muatan lebih sedikit.

Muatan lebih sedikit berarti frekuensi pengiriman bertambah.

Frekuensi bertambah berarti biaya angkut naik.

Dan pada akhirnya, kenaikan biaya tersebut dapat menekan margin pelaku usaha maupun petani.

Jika kondisi berlangsung panjang, tekanan terhadap sektor sawit dapat semakin besar.

Karena itu, persoalan Sungai Kapuas yang surut perlu dilihat sebagai persoalan ekonomi Kalbar, bukan sekadar fenomena hidrologi.

Menunggu Hujan

Kini pelaku usaha dan petani menghadapi pertanyaan yang sama: berapa lama kondisi ini akan berlangsung?

Jika hujan kembali turun dan muka Sungai Kapuas naik, distribusi secara bertahap dapat kembali normal.

Namun jika kemarau bertahan hingga beberapa pekan ke depan, tekanan terhadap rantai pasok sawit berpotensi semakin besar.

Di kebun, buah akan terus matang.

Petani akan terus memanen.

Tetapi tanpa jalur distribusi yang lancar, hasil panen tersebut bisa menjadi masalah baru.

Sebab dalam ekonomi sawit, buah yang tidak segera sampai ke pabrik bukan sekadar hasil panen. Ia adalah pendapatan petani yang sedang menunggu jalan pulang.**

Editor : Salman Busrah
kemarau panjang 2026 Kekeringan. sungai kapuas Karhutla 2026 kabut asap