Orang Sakit, Sekolah Daring, Pesawat Batal—Berapa Nilai Ekonomi yang Hilang?
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya membakar semak, gambut dan pepohonan. Kabut asap yang dihasilkannya perlahan membakar sesuatu yang jauh lebih sKulit dihitung: waktu produktif masyarakat.
Seorang pekerja yang batuk dan sesak tidak bekerja dengan produktivitas yang sama. Pedagang yang tokonya sepi kehilangan omzet.
Orang tua yang harus menjaga anak belajar dari rumah kehilangan waktu kerja. Penumpang yang penerbangannya dibatalkan kehilangan waktu dan kesempatan bisnis. Dan ketika semua itu terjadi bersamaan di sebuah provinsi, nilainya bukan lagi sekadar gangguan. Itu adalah biaya ekonomi.
Jam Kerja yang Hilang
Kabut asap membuat aktivitas masyarakat berubah. Pekerja lapangan menghadapi paparan udara buruk. Buruh perkebunan bahkan mendapat perhatian khusus karena sebagian besar pekerjaan mereka dilakukan di ruang terbuka. Serikat buruh sawit Kalbar meminta perusahaan meningkatkan perlindungan kesehatan pekerja karena paparan asap dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, iritasi mata, sakit kepala dan kelelahan.
Masalahnya, gangguan kesehatan tidak berhenti pada biaya membeli obat. Ada jam kerja yang hilang. Seorang buruh yang biasanya bekerja delapan jam, tetapi harus berhenti lebih awal karena kondisi udara, kehilangan sebagian pendapatannya atau produktivitas perusahaan.
Jika harus berobat, waktu perjalanan dan antrean juga menjadi biaya ekonomi. Jika sakit lebih lama, kehilangan produktivitas semakin besar.
Dari Masker hingga Obat
Dampak tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.
Penjualan masker di sejumlah apotek Pontianak meningkat hingga tiga kali lipat. Salah satu apotek bahkan melaporkan penjualan mencapai sekitar 500 kotak masker per hari.
Bagi penjual, ini adalah kenaikan omzet. Tetapi dari sudut pandang ekonomi rumah tangga, itu merupakan pengeluaran tambahan akibat bencana.
Uang yang seharusnya bisa digunakan untuk makanan, pendidikan atau kebutuhan lain dialihkan untuk membeli masker dan obat.
Jika muncul gangguan kesehatan yang lebih berat, biaya yang dikeluarkan tentu semakin besar.
CELIOS memperkirakan biaya kesehatan akibat karhutla secara nasional mencapai Rp9,75 triliun untuk masyarakat yang telah terdiagnosis penyakit akibat paparan karhutla.
Jika perhitungan diperluas kepada masyarakat yang mengalami gejala akibat paparan asap, estimasinya melonjak menjadi Rp93,56 triliun secara nasional. Angka tersebut menunjukkan satu hal:
asap mempunyai harga ekonomi, meskipun tidak ada kuitansi bernama “kerugian kabut asap”.
Sekolah Tutup, Orang Tua Ikut Membayar. Dampak lainnya terjadi di ruang kelas.
Sekolah di Pontianak masih menerapkan pembelajaran daring ketika asap cukup tebal.
Bagi siswa, sekolah dari rumah mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi orang tua yang bekerja, persoalannya berbeda.
Anak membutuhkan pendampingan. Sebagian orang tua harus mengubah jadwal kerja. Ada yang harus pulang lebih cepat. Ada yang terpaksa meminta bantuan anggota keluarga.
Bagi pekerja informal, satu hari tidak bekerja berarti kehilangan pendapatan. Sekolah daring mungkin gratis. Tetapi waktu orang tua untuk mendampingi anak tidak gratis. Biayanya dibayar dalam bentuk jam kerja yang hilang.
Supadio: Asap Memotong Mobilitas Ekonomi
Sektor penerbangan memberikan gambaran paling nyata tentang bagaimana asap memutus aktivitas ekonomi.
Pada 3 September, Bandara Internasional Supadio mengalami gangguan serius akibat jarak pandang yang turun. Pontianak Post mencatat 17 penerbangan Lion Air Group dibatalkan.
Sebelumnya, pesawat yang membawa Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga gagal mendarat karena jarak pandang di sekitar bandara hanya sekitar 100 meter.
Bagi maskapai, ada biaya operasional. Bagi bandara, ada gangguan pelayanan. Bagi penumpang, ada waktu yang hilang. Tetapi dampak ekonominya jauh lebih panjang.
Seorang pengusaha yang batal datang ke Pontianak bisa menunda pertemuan. Barang yang seharusnya dikirim lewat udara bisa tertunda.
Hotel kehilangan calon tamu.
Restoran kehilangan pelanggan.
Transportasi darat kehilangan penumpang.
Satu penerbangan yang batal dapat menghasilkan rantai kehilangan pendapatan yang jauh lebih besar daripada harga tiket pesawat.
Ekonomi Tidak Mati, Tetapi Melambat. Menariknya, tidak semua aktivitas berhenti.
Kapal Pontianak-Semarang masih beroperasi dan tingkat keterisian penumpang dilaporkan mencapai sekitar 75 persen.
Ini menunjukkan masyarakat dan dunia usaha berusaha beradaptasi.
Ketika pesawat terganggu, sebagian orang memilih kapal.
Ketika aktivitas luar ruangan dikurangi, sebagian transaksi berpindah ke dalam jaringan.
Ketika sekolah diliburkan atau dilakukan daring, kegiatan belajar berpindah ke rumah.
Tetapi adaptasi selalu memiliki biaya.
Ekonomi tetap bergerak, hanya dengan ongkos yang lebih mahal dan produktivitas yang lebih rendah.
Berapa Harga Satu Hari Asap?
Inilah pertanyaan yang belum banyak dihitung.
Berapa nilai ekonomi yang hilang jika:
- 100 ribu pekerja kehilangan satu jam produktivitas?
- ribuan siswa belajar dari rumah?
- puluhan penerbangan dibatalkan?
- ribuan calon penumpang mengubah jadwal perjalanan?
- pedagang kehilangan pembeli?
- perusahaan harus menyediakan masker dan perlindungan tambahan?
- warga mengeluarkan uang untuk obat dan pemeriksaan kesehatan?
Jika seluruh komponen tersebut dijumlahkan, kita akan mendapatkan angka yang jauh lebih menggambarkan harga sesungguhnya dari kabut asap.
Karena selama ini kita lebih sering menghitung hektare yang terbakar daripada jam manusia yang hilang.
Tagihan yang Tidak Terlihat
Kajian CELIOS sudah memberikan gambaran besarnya.
Untuk Kalbar saja, dampak ekonomi karhutla hingga Agustus 2026 diperkirakan Rp5,7 triliun. Namun angka tersebut belum menggambarkan seluruh biaya sosial dan kesehatan yang muncul akibat asap. Secara nasional, CELIOS memperkirakan total biaya ekonomi dan kesehatan karhutla Januari–Agustus 2026 berada di kisaran Rp39,29 triliun hingga Rp123,1 triliun.
Maka pertanyaan berikutnya layak diajukan:
Berapa rupiah yang sebenarnya hilang setiap hari ketika Kalbar diselimuti asap?
Sebab kebakaran tidak hanya membakar lahan. Asapnya membakar waktu. Membakar produktivitas. Membakar kesempatan bisnis. Dan pada akhirnya, membakar pendapatan masyarakat.
Itulah tagihan kemarau yang tidak terlihat di neraca perusahaan, tidak tercetak dalam kuitansi rumah sakit, dan tidak tercatat dalam laporan APBD.
Namun masyarakat Kalbar tetap membayarnya.**
Editor : Salman Busrah