Dari Nipah Kuning Dalam hingga Martapura, jaringan SPALD-T akan membentang di bawah sejumlah ruas jalan Pontianak
Di atas jalan, aktivitas kota tetap berjalan seperti biasa. Kendaraan melintas, toko buka, warga berangkat bekerja dan anak-anak pergi ke sekolah.
Namun beberapa meter di bawahnya, Pontianak sedang menyiapkan sesuatu yang baru.
Sebuah jaringan pipa akan ditanam jauh di bawah permukaan jalan untuk membawa air limbah rumah tangga menuju tempat pengolahan.
Sebagian pipa primer bahkan akan berada pada kedalaman 6 hingga 12 meter.
Itulah salah satu gambaran pekerjaan besar pembangunan Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALD-T) yang kini memasuki tahap konstruksi di Kota Pontianak. Pemerintah Kota Pontianak menyebut jaringan utama akan membentang dari kawasan Nipah Kuning Dalam hingga Martapura.
Jika sudah beroperasi, air limbah dari rumah, kantor maupun tempat usaha yang tersambung akan masuk ke jaringan tersebut. Dari jaringan lingkungan, air limbah dialirkan menuju jaringan yang lebih besar hingga akhirnya dibawa ke instalasi pengolahan.
Di Pontianak, pengolahan akan dilakukan melalui dua fasilitas, yakni IPAL Nipah Kuning dan IPAL Martapura.
Dengan demikian, proyek ini sebenarnya sedang membangun sebuah kota lain di bawah kota yang selama ini terlihat.
Bukan sekadar menggali jalan
Membayangkan pipa sepanjang jaringan kota mungkin terdengar sederhana.
Tetapi pekerjaan di lapangan tidak sesederhana itu.
Pipa primer harus ditanam pada kedalaman yang cukup besar. Untuk membangunnya, pelaksana menggunakan metode galian terbuka maupun jacking, sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan.
Metode jacking memungkinkan pemasangan pipa dengan meminimalkan pembukaan permukaan jalan pada kondisi tertentu.
Sementara pada lokasi yang memungkinkan, pekerjaan dapat dilakukan dengan galian terbuka.
Keduanya memiliki konsekuensi bagi kota.
Ada alat berat yang masuk. Ada material yang harus ditempatkan. Ada ruas jalan yang harus diatur. Dan ada lalu lintas yang harus tetap bergerak ketika pekerjaan berlangsung.
Pemerintah Kota Pontianak mengakui kondisi tanah yang lembek dan bergambut, muka air tanah, serta keterbatasan ruang di jalur utama menjadi tantangan teknis pembangunan.
Apalagi sejumlah jalur yang dilewati merupakan kawasan penting dengan aktivitas angkutan, perkantoran, pendidikan, pasar dan permukiman.
Jalan-jalan yang masuk jalur pekerjaan
Pembangunan tidak dilakukan pada satu lokasi saja.
Dalam rencana yang disampaikan Pemerintah Kota Pontianak, sejumlah ruas jalan masuk dalam pekerjaan SPALD-T.
Di antaranya Jalan Komyos Sudarso, Jalan Pelabuhan Rakyat, Jalan Sapta Marga, Jalan Atot Achmad, Jalan Karet, Gang Alpokat Permai, Kompleks Yuka, Jalan Setia Budi, Jalan Ketapang, Jalan Hijas, Jalan Mahakam, Jalan Tanjungpura, Jalan Siam, Jalan Jenderal Urip, Jalan Kenari, Jalan Rajawali, Jalan Wolter Monginsidi, Jalan Nusa Indah I, Jalan Nusa Indah III dan Jalan Ir. Juanda.
Namun daftar tersebut bukan berarti seluruh ruas akan dikerjakan bersamaan.
Pemkot menyatakan pelaksanaan di lapangan menyesuaikan tahapan dan jadwal pekerjaan.
Ini penting bagi warga. Sebab proyek SPALD-T merupakan pekerjaan multiyears yang dibangun secara bertahap. Tidak semua warga akan melihat pekerjaan pada waktu yang sama.
Mengapa pipa harus sedalam itu?
Pertanyaan ini penting karena kedalaman 6–12 meter menjadi salah satu ciri pekerjaan SPALD-T Pontianak.
Pipa primer merupakan bagian dari jaringan utama yang membawa air limbah dalam sistem kota.
Air limbah dari rumah nantinya masuk melalui sambungan dan jaringan yang lebih kecil. Aliran kemudian diteruskan menuju jaringan yang lebih besar hingga mencapai jaringan utama.
Pemerintah menjelaskan bahwa pipa primer tersebut kemudian akan disambungkan dengan pipa sekunder dan tersier yang terhubung ke rumah maupun bangunan.
Jadi, pipa yang berada jauh di bawah jalan bukanlah jaringan yang berdiri sendiri.
Ia merupakan bagian dari rangkaian:
Rumah → sambungan → jaringan lingkungan → jaringan utama → IPAL.
Karena itu, keberadaan pipa utama baru akan memberikan manfaat maksimal ketika jaringan tersebut tersambung dengan pelanggan.
Dua tujuan di ujung jaringan
Perjalanan air limbah tidak berakhir ketika masuk ke pipa. Ujung sistem berada pada fasilitas pengolahan.
Di Pontianak, terdapat dua fasilitas yang disiapkan, yakni IPAL Nipah Kuning dan IPAL Martapura.
Di sana, air limbah tidak langsung dilepas ke sungai.
Pemerintah menjelaskan air limbah akan diolah untuk menghilangkan mikroorganisme patogen sehingga tidak lagi menjadi sumber pencemar biologis sebelum dilepas ke lingkungan.
Dokumen Asian Development Bank (ADB) juga mencantumkan fasilitas pengolahan Nipah Kuning dan Martapura sebagai bagian dari proyek sanitasi Pontianak. ADB menyebut proyek CISP menargetkan pembangunan fasilitas sanitasi yang dapat beroperasi penuh dan melayani masyarakat pada 2030.
Yang berubah bukan hanya jalan
Ketika alat berat mulai masuk ke ruas jalan, perhatian warga biasanya tertuju pada kemacetan, debu, lubang galian atau terganggunya akses ke rumah dan tempat usaha.
Itu memang bagian dari konsekuensi pembangunan.
Pemkot menyatakan potensi gangguan lalu lintas dan dampak sosial telah diperhitungkan. Pekerjaan jaringan dilakukan pada badan jalan atau ruang milik jalan sehingga tidak membutuhkan pembebasan lahan, tetapi tetap dapat menyebabkan perlambatan lalu lintas serta aktivitas alat dan material di sekitar lokasi pekerjaan.
Namun ada perubahan yang jauh lebih besar dan tidak terlihat.
Ketika jaringan selesai dan rumah warga tersambung, air limbah yang selama ini dikelola melalui sistem setempat akan mulai masuk ke sistem sanitasi kota.
Dengan kata lain, jalan yang dibangun atau dibongkar hari ini menjadi bagian dari sistem sanitasi yang akan digunakan selama bertahun-tahun ke depan.
Proyeknya selesai, lalu apa?
Pertanyaan itu penting karena pekerjaan konstruksi hanyalah tahap pertama.
ADB mencatat pembangunan proyek CISP dilakukan bertahap. Sebagian besar kontrak pekerjaan sipil ditargetkan selesai dan masuk tahap commissioning pada akhir 2029, sedangkan fasilitas pengolahan ditargetkan beroperasi dan melayani penerima manfaat pada 2030.
Setelah itu, jaringan harus dioperasikan dan dipelihara.
Untuk Pontianak, ADB mencatat PDAM sebagai operator layanan sanitasi. Penguatan kemampuan operator dan kajian tarif juga menjadi bagian dari dukungan proyek agar sistem dapat berkelanjutan.
Jadi, keberhasilan SPALD-T nantinya tidak cukup diukur dari berapa kilometer pipa yang berhasil ditanam.
Ukuran yang lebih penting adalah:
berapa rumah yang benar-benar tersambung, seberapa baik IPAL bekerja, dan seberapa besar pencemaran yang berhasil dikurangi.
Warga perlu bersiap
Karena proyek ini akan melewati sejumlah ruas kota, warga perlu memahami bahwa pembangunan jaringan SPALD-T memang akan membawa konsekuensi selama masa konstruksi.
Bagi warga, memahami jalur proyek menjadi penting agar dapat mengetahui kapan pekerjaan mendekati lingkungan mereka dan apa yang harus dilakukan ketika sambungan rumah mulai dibangun.
Sebab pada akhirnya, jaringan sepanjang kota itu bukan hanya milik pemerintah.
Pipa tersebut akan menjadi bagian dari kehidupan rumah tangga warga Pontianak.
Setiap kali toilet disiram, kamar mandi digunakan atau air cucian mengalir, air limbah akan memasuki sistem yang dibangun jauh di bawah jalan.
Di atasnya, kota tetap sibuk seperti biasa.
Di bawahnya, sebuah sistem baru sedang dibangun.
Sebuah sistem yang kelak menentukan ke mana air limbah Pontianak pergi.**
Sumber: Pemerintah Kota Pontianak dan Asian Development Bank (ADB).
Editor : Salman Busrah