Revolusi Sanitasi Pontianak -5-; Pipa Masuk Rumah, Apakah Tagihan Ikut Datang?

Salman Busrah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 16:22 WIB
Ilustrasi jaringan sanitasi Kota Pontianak.
Ilustrasi jaringan sanitasi Kota Pontianak.

Setelah jaringan SPALD-T tersambung ke rumah warga, muncul pertanyaan berikutnya: siapa yang membayar sambungan dan berapa biaya layanan pengolahan air limbah setiap bulan?

Pipa air limbah mulai ditanam jauh di bawah jalan. Jaringan utama dibangun, instalasi pengolahan air limbah disiapkan, dan rumah-rumah warga nantinya akan mendapat sambungan menuju sistem tersebut.

Tetapi bagi warga, ada satu pertanyaan yang tak kalah penting dari kedalaman pipa dan panjang jaringan.

Setelah rumah tersambung, berapa yang harus dibayar?

Pertanyaan itu menjadi bagian penting dari Revolusi Sanitasi Pontianak. Sebab SPALD-T bukan hanya proyek membangun pipa di bawah kota. Setelah konstruksi selesai, akan ada sistem layanan yang harus dikelola, dirawat dan dibiayai agar terus berfungsi.

Artinya, perjalanan air limbah dari rumah menuju instalasi pengolahan bukan berhenti ketika pipa selesai dipasang.

Akan ada biaya sambungan. Ada biaya pengoperasian. Dan pada saat layanan berjalan, akan ada mekanisme tarif yang harus diketahui masyarakat.

Bukan Satu Jenis Biaya

Hal pertama yang perlu dipahami adalah membedakan antara biaya pembangunan jaringan kota, biaya sambungan rumah dan tarif layanan.

Pembangunan jaringan utama SPALD-T Pontianak merupakan bagian dari Citywide Inclusive Sanitation Project (CISP) yang didukung Asian Development Bank (ADB). Di Pontianak, proyek ini mencakup jaringan perpipaan dan fasilitas pengolahan air limbah.

Biaya pembangunan jaringan kota tentu berbeda dengan biaya yang muncul ketika sebuah rumah dihubungkan ke jaringan tersebut.

Peraturan Wali Kota Pontianak Nomor 102 Tahun 2022 tentang Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik telah mengatur bahwa pemilik bidang tanah yang secara teknis berada dalam wilayah pelayanan SPALD-T wajib menyalurkan air limbah domestiknya ke jaringan yang dikelola Perumda.

Dalam aturan tersebut, biaya sambungan disebut menjadi tanggung jawab pemilik bidang tanah.

Namun, dalam proyek yang sedang berjalan, persoalannya tidak sesederhana itu.

Ada skema pembiayaan pemerintah dan ada pula dukungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Karena itu, warga perlu mengetahui berapa sebenarnya biaya sambungan yang akan dikenakan dan bagaimana mekanismenya ketika jaringan mulai masuk ke lingkungan mereka.

Ada Bantuan untuk Warga Kurang Mampu

Pemerintah Kota Pontianak sebenarnya sudah membuka ruang pembiayaan bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 18 Tahun 2021 mengatur bahwa pembiayaan SPALD bagi masyarakat berpenghasilan rendah dapat bersumber dari APBD dan sumber lain yang sah. Pemerintah daerah juga dapat membantu pembiayaan sambungan.

Ketentuan ini menjadi penting ketika jaringan SPALD-T mulai diperluas.

 

Sebab revolusi sanitasi tidak akan sepenuhnya berhasil jika hanya rumah tangga yang mampu secara ekonomi yang bisa menikmati sambungan.

Pertanyaannya kemudian bergeser:

Siapa yang mendapat bantuan? Berapa besar bantuannya? Dan bagaimana warga mengajukannya?

Jawaban atas pertanyaan tersebut harus disiapkan sebelum layanan berjalan penuh.

Setelah Tersambung, Siapa yang Mengelola?

Sambungan rumah hanyalah pintu masuk.

Setelah air limbah meninggalkan rumah, jaringan harus terus dipelihara. Pipa harus berfungsi, pompa dan fasilitas pengolahan harus dioperasikan, dan air limbah harus diolah sebelum hasil akhirnya dilepas ke lingkungan.

Pengelolaan SPALD di Pontianak diarahkan kepada Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.

Karena itu, model pengelolaan nantinya akan menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

Warga tidak hanya membutuhkan jaringan yang selesai dibangun. Mereka membutuhkan layanan yang bekerja setiap hari.

Dan layanan itu membutuhkan biaya.

Apakah Akan Ada Tagihan Baru?

Di sinilah pertanyaan yang paling sering muncul.

Apakah pelanggan SPALD-T nantinya akan menerima tagihan khusus?

Atau biaya pengolahan air limbah akan masuk dalam rekening layanan air minum?

Bagaimana cara menghitungnya?

Apakah berdasarkan penggunaan air bersih, volume air limbah, golongan pelanggan atau formula lainnya?

Hingga skema tarif ditetapkan secara resmi, angka tidak boleh ditebak.

Yang sudah jelas, regulasi daerah telah menempatkan tarif sebagai bagian dari penyelenggaraan SPALD. Penetapan tarif harus mempertimbangkan kemampuan masyarakat, kualitas pelayanan, kebutuhan biaya penyelenggaraan serta keberlanjutan sistem.

Dengan kata lain, tantangannya bukan sekadar membuat tarif.

Tarif harus cukup untuk menjaga sistem tetap hidup, tetapi juga tidak boleh menjadi beban yang membuat masyarakat enggan tersambung.

Rumah Tangga Beda dengan Restoran

SPALD-T juga bukan hanya untuk rumah tinggal.

Sistem ini dapat melayani berbagai kelompok pelanggan, mulai dari rumah tangga dan fasilitas sosial hingga kegiatan perdagangan, perkantoran, hotel, rumah sakit, rumah kos dan kegiatan usaha lainnya.

Karena karakter dan volume air limbahnya berbeda, masyarakat juga perlu mengetahui apakah kelompok pelanggan tersebut nantinya akan memiliki mekanisme tarif yang berbeda.

Ini penting terutama bagi pelaku usaha.

Sebab bagi restoran, hotel atau usaha lainnya, air limbah merupakan bagian dari kegiatan operasional sehari-hari.

Semakin besar aktivitas usaha, semakin penting pula kepastian mengenai standar pelayanan dan biaya yang harus dikeluarkan.

Lalu Bagaimana Nasib Septic Tank?

Ada satu persoalan lain yang kemungkinan besar akan ditanyakan pemilik rumah.

Jika rumah sudah tersambung ke SPALD-T, bagaimana dengan septic tank yang selama ini digunakan?

Apakah tetap digunakan? Haruskah dikosongkan? Apakah ada bagian sistem rumah yang harus diubah?

Pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban teknis dari pengelola proyek dan Perumda.

Sebab setiap rumah memiliki kondisi instalasi yang berbeda. Karena itu, warga sebaiknya tidak mengambil keputusan sendiri sebelum mendapatkan petunjuk teknis resmi ketika program sambungan rumah mulai dilaksanakan.

Revolusi Sanitasi Tidak Berhenti di Pipa

Pembangunan SPALD-T Pontianak memiliki target besar. Jaringan dibangun, rumah dan bangunan akan dihubungkan, sementara air limbah dikumpulkan dan diolah melalui fasilitas pengolahan yang disiapkan di kawasan Nipah Kuning dan Martapura.

Tetapi ukuran keberhasilan proyek bukan hanya berapa kilometer pipa yang selesai ditanam.

Bagi warga, ukuran sederhananya justru lebih dekat:

Apakah rumah saya bisa tersambung?

Berapa biayanya?

Apakah saya mampu membayarnya?

Dan yang paling penting:

Apakah layanan itu benar-benar bekerja setelah saya membayar?

Pertanyaan tentang tarif karena itu bukan persoalan tambahan.

Ia merupakan bagian dari keberlanjutan Revolusi Sanitasi Pontianak.

Sebab membangun sistem dengan investasi besar adalah satu pekerjaan.

Menjaga agar sistem itu terus bekerja puluhan tahun setelah proyek selesai, adalah pekerjaan yang jauh lebih panjang.**

Editor : Salman Busrah
SPALD-T Kota Pontianak sanitasi Pontianak kota pontianak air limbah domestik