Revolusi Sanitasi Pontianak -6-; Ujian Sesungguhnya Dimulai Setelah Pipa Selesai

Salman Busrah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 21:19 WIB
Ilustrasi sanitasi Kota Pontianak setelah tahun 2030.
Ilustrasi sanitasi Kota Pontianak setelah tahun 2030.

 

Rp1,7 triliun bukan garis akhir. Pada 2030, Pontianak akan diuji: apakah investasi besar itu benar-benar mengubah cara kota mengelola air limbah dan memperbaiki kualitas lingkungan.

 

Bayangkan suatu pagi di Pontianak pada 2030. Aktivitas di rumah-rumah berlangsung seperti biasa. Kran dibuka. Orang mandi. Toilet digunakan. Dapur mencuci peralatan makan. Air limbah kemudian mengalir meninggalkan rumah.

Bedanya, air itu tidak lagi berhenti sebagai persoalan masing-masing rumah. Ia menjadi bagian dari sistem kota.

Dari sanalah sesungguhnya Revolusi Sanitasi Pontianak akan memasuki babak paling penting.

Bukan ketika alat berat datang. Bukan ketika jalan dibongkar. Bukan pula ketika pipa ditanam hingga belasan meter di bawah permukaan jalan.

Ujian sesungguhnya justru dimulai ketika proyek selesai dan sistem harus bekerja setiap hari.

Bukan Lagi Soal Pipa

Selama ini perhatian publik sangat wajar tertuju pada pembangunan fisik. Ada pipa besar, pekerjaan jalan, jaringan menuju rumah, hingga instalasi pengolahan air limbah.

Namun pembangunan infrastruktur hanyalah satu tahap.

Setelah konstruksi selesai, sistem harus dioperasikan. Harus ada pelanggan yang benar-benar terlayani. Air limbah harus benar-benar masuk ke sistem dan diolah. Peralatan harus dirawat. Kualitas hasil pengolahan harus diawasi.

Dan semuanya harus berlangsung bukan satu atau dua tahun. Melainkan selama puluhan tahun.

Asian Development Bank (ADB) menetapkan hasil proyek Citywide Inclusive Sanitation Project (CISP) diukur pada 2030. Konstruksi ditargetkan selesai dan memasuki commissioning pada kuartal IV 2029, sedangkan fasilitas ditargetkan beroperasi dan melayani penerima manfaat pada 2030.

Artinya, 2030 bukan sekadar angka di kalender. Itulah tahun ketika hasil investasi sanitasi ini mulai benar-benar diuji.

Berapa Rumah yang Benar-Benar Terlayani?Pemerintah Kota Pontianak memiliki target sambungan yang akan terus bertambah secara bertahap.

Tetapi ukuran keberhasilan tidak cukup berhenti pada jumlah pipa yang sudah tersedia di depan rumah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: Berapa rumah yang benar-benar tersambung?

Kemudian: Berapa yang benar-benar menggunakan layanan?

Sebab jaringan yang sudah dibangun belum otomatis berarti persoalan sanitasi sudah selesai.

Ada perbedaan antara infrastruktur tersedia dan layanan benar-benar digunakan.

Karena itu, angka sambungan nantinya akan menjadi salah satu rapor penting Revolusi Sanitasi Pontianak.

Semakin banyak rumah dan bangunan yang benar-benar menggunakan sistem sesuai ketentuan, semakin besar pula dampak yang dapat diberikan kepada lingkungan kota.

Air Limbah Harus Benar-Benar Hilang dari Masalah Kota

Ada ukuran lain yang bahkan lebih penting. Berapa banyak air limbah yang benar-benar berhasil dikelola?

Pemerintah Kota Pontianak menyebut sistem SPALD-T dirancang untuk mengolah air limbah domestik dalam jumlah besar.

Namun pada saat sistem beroperasi nanti, publik tidak cukup hanya mengetahui kapasitas terpasang.

Masyarakat perlu mengetahui berapa kapasitas yang benar-benar digunakan. Berapa volume air limbah masuk ke instalasi pengolahan.

Berapa yang berhasil diolah. Dan bagaimana kualitas air hasil pengolahan sebelum dikembalikan ke lingkungan.

Di titik inilah proyek berubah dari sekadar proyek konstruksi menjadi pelayanan publik.

Sungai Menjadi Salah Satu Rapor

Pontianak adalah kota yang hidup bersama sungai.

Karena itu, perubahan kualitas lingkungan seharusnya menjadi salah satu ukuran penting keberhasilan revolusi sanitasi.

Bukan berarti seluruh perubahan kualitas sungai otomatis hanya disebabkan SPALD-T. Banyak faktor lain yang memengaruhinya.

Tetapi ketika sistem sanitasi kota semakin baik, beban pencemaran dari air limbah domestik semestinya dapat dikelola lebih baik.

Maka suatu saat nanti pertanyaan yang layak diajukan bukan lagi:

“Berapa kilometer pipa yang sudah dibangun?”

Melainkan: “Apa yang berubah di lingkungan setelah sistem itu beroperasi?”

Data kualitas air, kondisi lingkungan permukiman, keluhan masyarakat, serta indikator kesehatan lingkungan akan jauh lebih bermakna sebagai ukuran keberhasilan.

Pemerintah Kota Pontianak sendiri menyebut peningkatan kesehatan masyarakat dan kualitas air baku sebagai bagian dari manfaat yang diharapkan dari pembangunan SPALD-T.

Pontianak Tidak Harus Dipenuhi Pipa

Ada satu hal penting yang sering luput dari pemahaman publik.

Revolusi sanitasi bukan berarti seluruh rumah di Pontianak harus tersambung ke jaringan pipa terpusat.

Konsep yang disiapkan pemerintah adalah kombinasi sistem. Sebagian kawasan dilayani SPALD-T.

Sementara kawasan lainnya tetap menggunakan sistem pengelolaan air limbah setempat dengan standar sanitasi yang aman.

Pemerintah Kota Pontianak sebelumnya menyebut skema pelayanan yang dirancang sekitar 35 persen melalui sistem terpusat dan 65 persen melalui sistem setempat, dengan tujuan akhir mencapai 100 persen akses sanitasi aman.

Ini penting. Sebab keberhasilan sanitasi kota tidak ditentukan oleh seberapa luas jaringan pipa dibangun.

Yang lebih penting adalah: tidak ada lagi air limbah domestik yang dikelola secara sembarangan.

Baik melalui sistem terpusat maupun sistem setempat, ujungnya harus sama: limbah dikelola dengan aman.

Setelah Proyek Selesai, Siapa yang Menjaga? Inilah tantangan yang sering tidak terlihat ketika sebuah proyek besar masih dalam tahap pembangunan.

Kontraktor suatu hari akan menyelesaikan pekerjaannya.

Alat berat akan pergi. Jalan akan kembali digunakan. Tetapi sistem sanitasi justru harus terus bekerja.

Pipa harus dipelihara. Pompa dan peralatan harus dirawat. Instalasi pengolahan harus beroperasi. Keluhan pelanggan harus dilayani.

Kualitas hasil pengolahan harus dipantau. Dan biaya operasi serta pemeliharaan harus tersedia.

Untuk Pontianak, Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa telah ditetapkan sebagai operator layanan sanitasi.

ADB juga menempatkan penguatan kemampuan operator, pengembangan kajian tarif serta strategi integrasi antara sistem terpusat dan sistem setempat sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan layanan.

Dengan demikian, pekerjaan terbesar setelah proyek selesai justru berada pada pengelolaan.

Membangun sistem adalah pekerjaan proyek. Menjaga sistem tetap hidup adalah pekerjaan generasi.

Lima Pertanyaan untuk Mengukur Keberhasilan

Maka setelah seluruh rangkaian pembangunan berlangsung, ada sedikitnya lima pertanyaan yang layak menjadi rapor publik Revolusi Sanitasi Pontianak.

Pertama, berapa rumah dan bangunan yang benar-benar tersambung?

Bukan sekadar pipa tersedia, tetapi benar-benar menjadi pelanggan layanan.

Kedua, berapa banyak air limbah yang benar-benar diolah?

Kapasitas terpasang harus diikuti pemanfaatan yang nyata.

Ketiga, bagaimana kualitas hasil pengolahan dan kondisi lingkungan?

Tujuan akhirnya bukan sekadar memindahkan air limbah dari satu tempat ke tempat lain.

Keempat, apakah layanan terjangkau dan berjalan dengan baik?

Masyarakat membutuhkan layanan sanitasi yang dapat diakses, bukan sekadar infrastruktur yang berdiri.

Kelima, apakah sistem mampu bertahan setelah proyek selesai?

Karena keberhasilan sanitasi tidak diukur dalam satu tahun, melainkan dari kemampuan sistem bekerja secara berkelanjutan.

Rp1,7 Triliun Harus Terlihat dalam Kehidupan Warga

Nilai investasi yang besar selalu membawa harapan besar pula.

Bagi pemerintah, proyek ini adalah pembangunan infrastruktur strategis.

Bagi pengelola, ini adalah sistem layanan baru yang harus dijaga keberlanjutannya.

Bagi warga, manfaatnya jauh lebih sederhana.

Lingkungan rumah lebih sehat.

Air limbah tidak lagi menjadi sumber persoalan.

Sungai dan lingkungan mendapat perlindungan yang lebih baik.

Dan kota memiliki sistem sanitasi yang mampu menghadapi pertumbuhan penduduk serta perkembangan kawasan perkotaan.

Karena itu, ukuran keberhasilan proyek tidak boleh berhenti pada laporan bahwa pekerjaan konstruksi telah selesai.

Rp1,7 triliun harus terlihat dalam perubahan kehidupan warga.

2030 Bukan Garis Akhir

Enam edisi perjalanan Revolusi Sanitasi Pontianak akhirnya kembali pada pertanyaan paling sederhana.

Ke mana perginya air limbah dari rumah kita?

Jawabannya nanti bukan hanya soal ke mana air itu mengalir.

Tetapi bagaimana kota memastikan air limbah tersebut dikelola dengan aman, terus-menerus dan berkelanjutan.

Pembangunan jaringan mungkin selesai pada 2029. Sistem ditargetkan mulai beroperasi dan melayani masyarakat pada 2030.

Namun setelah itu, pekerjaan belum selesai.

Justru dimulai.

Karena revolusi sanitasi tidak akan dikenang dari berapa banyak jalan yang pernah dibongkar.

Tidak pula dari seberapa dalam pipa ditanam.

Dan bukan hanya dari berapa besar nilai proyeknya.

Revolusi sanitasi akan dikenang dari apa yang berubah.

Dari rumah-rumah yang lebih sehat.

Dari lingkungan yang lebih aman.

Dari air limbah yang tidak lagi menjadi beban kota.

Dan dari sebuah Pontianak yang akhirnya memiliki cara baru dalam mengelola sesuatu yang setiap hari dihasilkan oleh hampir setiap rumah: air limbah.

Tahun 2030 nanti, Pontianak tidak lagi diuji dari apa yang dibangunnya.

Pontianak diuji dari apa yang berubah.**

Editor : Salman Busrah
sanitasi lingkungan. SPALD-T Kota Pontianak sanitasi Pontianak air limbah domestik