Hotspot Karhutla Kalbar Turun, Asap Masih Selimuti Pontianak

Uray Ronald • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 23:28 WIB
Tim gabungan terus melakukan pendinginan di area bekas karhutla di lahan sengketa antara PT SJP dan PT ICHIKO, Desa Terentang Hulu, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Rabu (9/9). (Humas Polri)
Tim gabungan terus melakukan pendinginan di area bekas karhutla untuk mencegah api kembali menyala. (Humas Polri)

 

PONTIANAK POST - Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat menunjukkan penurunan signifikan. Namun, kondisi asap masih menjadi perhatian karena jarak pandang di Pontianak masih terbatas.

Berdasarkan data terbaru Sistem Monitoring Karhutla (SiPongi) Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Kamis, 10 September 2026 pukul 21.05 WIB, Kalimantan Barat mencatat 39 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence).

Jumlah tersebut turun tajam dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 134 titik atau berkurang 95 titik dalam sehari. Di tingkat nasional, jumlah hotspot high confidence justru meningkat dari 395 menjadi 569 titik.

Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak di antara enam provinsi prioritas dengan 96 titik. Selanjutnya Kalimantan Barat 39 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Riau 18 titik, Kalimantan Selatan sembilan titik, dan Jambi dua titik.

kaBaca Juga: Terdampak Karhutla Kalbar, 24 Satwa Liar Diselamatkan

Jarak Pandang Pontianak Masih Terbatas

Penurunan hotspot di Kalimantan Barat belum serta-merta membuat persoalan asap berakhir. Kondisi meteorologis di Pontianak masih menunjukkan udara kabur dan jarak pandang yang relatif terbatas.

Berdasarkan pemantauan meteorologi BMKG pada 10 September 2026 pukul 10.00 WIB, jarak pandang Pontianak tercatat sekitar 1,2 kilometer dengan kondisi berasap.

Data BMKG terbaru untuk kawasan Pelabuhan Dwikora Pontianak juga menunjukkan kondisi udara kabur pada 11 September. Dalam prakiraan BMKG, jarak pandang sekitar 1 kilometer tercatat pada pukul 00.00 WIB, kemudian diperkirakan berada pada kisaran 2–3 kilometer pada beberapa waktu berikutnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun hotspot Kalbar turun signifikan, masyarakat masih perlu memperhatikan perkembangan asap dan jarak pandang, terutama saat beraktivitas di luar ruangan maupun menggunakan jalur transportasi.

Baca Juga: Hotspot Karhutla Kalbar Turun Menurut Kemenhut, Namun Kabut Asap Makin Ganas

Asap dari Karhutla Masih Mengganggu

Kondisi asap juga masih menjadi tantangan dalam operasi pemadaman. Salah satu lokasi karhutla di Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, misalnya, memasuki tahap pendinginan setelah proses pemadaman berlangsung sekitar tiga pekan.

Lahan gambut menjadi perhatian karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali memicu kebakaran. Kondisi jarak pandang yang terbatas juga dapat menghambat operasi udara di lokasi tertentu.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman, penyekatan penjalaran api, mopping up, dan pendinginan.

Pemerintah juga tetap menyiagakan 53 armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Barat.

Data Hotspot Tetap Harus Diverifikasi

Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.

"Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap perlu diverifikasi melalui pengecekan lapangan sebelum ditentukan sebagai lokasi kebakaran," kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut, Ristianto Pribadi, dalam keterangan tertulis, Jumat (11/9).

Perubahan jumlah hotspot juga sangat dinamis dan dipengaruhi kondisi cuaca, tutupan lahan, serta kondisi bahan bakar di lapangan.

Baca Juga: Asap Karhutla Belum Reda, Pemprov Kalbar Perpanjang Status Tanggap Darurat hingga 20 September

Masyarakat Diminta Tetap Waspada

Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.

Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.*

Editor : Uray Ronald
Sumber : Kemenhut
karhutla kalimantan barat hotspot karhutla Kalbar kualitas udara Kalbar hotspot high confidence pengendalian karhutla