PONTIANAK POST - Musim kemarau yang melanda Kota Pontianak turut memberikan dampak terhadap pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Syarif Mohamad Alkadrie (SSMA) Kota Pontianak.
Salah satu persoalan yang dihadapi rumah sakit adalah kerawanan pelayanan cuci darah (hemodialisasi) akibat meningkatnya kadar garam pada air bersih yang menjadi kebutuhan penting dalam pelayanan kesehatan.
Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Syarif Mohamad Alkadrie Kota Pontianak Eva Nurfarihah mengatakan tingginya kadar garam pada air dapat mengganggu operasional mesin hemodialisa. Bahkan, apabila dipaksakan menggunakan air dengan kadar garam yang tinggi, kondisi tersebut beresiko menyebabkan kerusakan pada mesin.
Baca Juga: Krisis Air Melanda Kubu Raya, Bala Komando Salurkan Bantuan Air Mineral dan Bersih Untuk Warga
“Untuk penggunaan mesin harus sesuai ketentuan. Kadar airnya mesti di bawah 600 dan idealnya di bawah 100,” ujar Eva, Jumat (11/9).
Menurutnya, kebutuhan air tawar untuk pelayanan cuci darah di rumah sakit mencapai sekitar 8 ribu liter. Jumlah tersebut khusus digunakan untuk pelayanan hemodialisa. Sementara kebutuhan air lainnya masih diperlukan untuk laboratorium dan CSSD (Central Sterile Supply Department), termasuk untuk membersihkan berbagai peralatan operasi.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pihak rumah sakit saat ini mendapatkan dukungan dari PDAM Tirta Khatulistiwa dan PMI Provinsi Kalimantan Barat dalam proses pendistribusian air.
Eva menjelaskan, air yang didistribusikan tersebut tidak dibeli oleh pihak rumah sakit. Namun, terdapat alokasi biaya untuk penggantian bahan bakar minyak (BBM) dalam proses pengangkutannya.
Baca Juga: Air PDAM Pontianak Terasa Asin Saat Kemarau, Dewan Desak Inovasi agar Tetap Tawar
Namun, kondisi terkini kembali menjadi perhatian. Kadar garam air PDAM disebut kembali mengalami peningkatan sehingga membutuhkan waktu untuk mencapai kadar yang sesuai dengan kebutuhan mesin hemodialisa.
“Kalau kadar air PDAM tinggi lagi, memang butuh waktu untuk mencapai kadar garam yang diinginkan. Sehingga kemungkinan tidak ada pelayanan bisa terjadi,” ungkapnya.
Meski menghadapi kondisi tersebut, Eva memastikan hingga saat ini pelayanan cuci darah di Rumah Sakit Kota Pontianak masih berjalan dan belum terhenti.
“Alhamdulillah sampai saat ini pelayanan cuci darah masih berjalan, tidak terhenti,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang lebih buruk, pihak rumah sakit juga telah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Eva menyebut Wali Kota Pontianak telah memberikan arahan agar kerja sama dengan PDAM tetap terlaksana untuk memastikan ketersediaan air tawar bagi pelayanan rumah sakit.
Selain itu, pihak rumah sakit juga telah bersurat kepada Perhimpunan Nefrologi Indonesia sebagai organisasi yang membawahi pelayanan nefrologi dan hemodialisa, guna mendapatkan arahan serta solusi menghadapi persoalan tersebut. “Beberapa masukan termasuk memiliki sumur bor sedang kami ajukan,” jelas Eva.
Eva berharap cadangan air tawar yang dimiliki PDAM dapat tetap tersedia sehingga pelayanan hemodialisa di Rumah Sakit Kota Pontianak tidak terganggu. Ia juga berharap dukungan PDAM dan PMI Provinsi Kalimantan Barat dalam pendistribusian air dapat terus berjalan selama kondisi kemarau berlangsung.
“Mudah-mudahan PDAM, cadangan air tawarnya tidak habis dan PDAM serta PMI Provinsi tetap bisa membantu dalam pendistribusiannya,” katanya.
Ia pun memohon dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pasien, Pemerintah Kota Pontianak, DPRD Kota Pontianak, organisasi, hingga masyarakat luas agar pelayanan cuci darah bagi pasien tetap dapat berlangsung.
Eva juga membuka peluang dukungan masyarakat dalam bentuk bantuan air tawar yang dapat digunakan khusus untuk memenuhi kebutuhan pasien cuci darah.(iza)
Editor : Hanif