PONTIANAK – Krisis air bersih yang kembali dirasakan masyarakat Kota Pontianak saat kemarau dinilai membutuhkan solusi yang tidak hanya bersifat darurat. Mantan Gubernur Kalimantan Barat Sutarmidji menawarkan penguatan cadangan air baku dengan memperluas Waduk Penepat hingga 10 kali lipat dari luas saat ini.
Gagasan itu disampaikan Sutarmidji melalui akun Instagram @bang.midji. Ia menilai persoalan air asin yang muncul ketika kemarau sebenarnya dapat diantisipasi jika Pontianak memiliki cadangan air tawar yang lebih besar.
Sutarmidji yang juga mantan walikota Pontianak dua priode ini memberikan perhitungan sederhana. Menurutnya, jika kondisi Waduk Penepat saat ini hanya mampu menyediakan air baku tawar untuk sekitar tiga hari, maka dengan perluasan 10 kali lipat, cadangan air tersebut dapat menopang kebutuhan hingga sekitar satu bulan.
“Kalau yang sekarang bisa untuk air baku tawar 3 hari, maka kalau diperluas 10 kali, bisa untuk 1 bulan,” tulis Sutarmidji.
Menurut Sutarmidji, perluasan waduk juga harus diikuti dengan penambahan jaringan pipa penyuplai menuju Imam Bonjol. Dengan begitu, cadangan air dari Waduk Penepat dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan air baku Kota Pontianak.
Usulan tersebut menjadi menarik karena persoalan air baku Pontianak bukan pertama kali terjadi. Ketika kemarau panjang, intrusi air laut membuat kadar garam Sungai Kapuas meningkat. Padahal sungai tersebut menjadi salah satu sumber utama air baku bagi sistem penyediaan air bersih Kota Pontianak.
Artinya, persoalan yang dihadapi bukan semata-mata kekurangan air, tetapi ketersediaan air tawar ketika sumber air utama mengalami peningkatan kadar garam.
Sutarmidji pun mendorong Pemerintah Kota Pontianak dan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa untuk mengambil langkah yang lebih mandiri dalam mengantisipasi persoalan tersebut.
Ia mengingatkan pengalamannya ketika menjabat Wali Kota Pontianak. Dalam unggahannya, Sutarmidji menyebut dirinya pernah membenahi PDAM dari kondisi merugi hingga mampu meningkatkan produksi lebih dari 2.000 liter per detik dan memperluas distribusi.
“Pemkot dan PDAM saya yakin mampu,” tulisnya.
Bukan Sekadar Memadamkan Krisis
Gagasan memperbesar Waduk Penepat 10 kali lipat tentu membutuhkan kajian teknis dan ekonomi. Pertanyaannya, seberapa besar kebutuhan lahan, berapa kapasitas tampungan yang akan diperoleh, berapa investasi yang diperlukan, serta apakah jaringan pipa dan instalasi pengolahan yang ada mampu menerima tambahan pasokan tersebut.
Namun, gagasan tersebut membuka kembali pembicaraan mengenai cadangan air baku jangka panjang Pontianak.
Selama ini, ketika air Sungai Kapuas mulai asin, pemerintah harus mencari sumber air tawar alternatif dan melakukan berbagai langkah darurat agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.
Padahal, fenomena air asin saat kemarau berpotensi kembali terjadi.
Karena itu, gagasan Sutarmidji bukan sekadar bagaimana mendapatkan air ketika krisis sudah terjadi, tetapi bagaimana Pontianak mempunyai cadangan air tawar sebelum krisis datang.
Untuk kebutuhan jangka pendek, Pemkot Pontianak tetap melakukan sejumlah langkah pengamanan pasokan, termasuk mendatangkan tambahan air tawar menggunakan ponton. Namun, langkah tersebut lebih tepat ditempatkan sebagai solusi sementara, sementara penguatan Waduk Penepat dan jaringan distribusinya dapat dikaji sebagai investasi jangka panjang.
Kini, gagasan memperbesar Waduk Penepat 10 kali lipat tersebut menarik untuk diuji secara teknis dan ekonomi. Apakah benar mampu membuat cadangan air tawar Pontianak bertahan hingga satu bulan saat kemarau panjang?
Jawabannya membutuhkan kajian Pemkot Pontianak dan Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa.**
Editor : Salman Busrah