PONTIANAK POST - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengingatkan seluruh pelaku usaha makanan dan minuman agar memperhatikan penggunaan air bersih dan steril dalam menjalankan aktivitas usahanya. Imbauan tersebut disampaikan menyusul kondisi kemarau yang menyebabkan ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.
Edi menegaskan, air merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kebersihan makanan dan minuman yang dikonsumsi masyarakat. Karena itu, pelaku usaha diminta tidak mengabaikan kualitas air yang digunakan, baik untuk memasak, mencuci bahan makanan, maupun mencuci peralatan makan dan minum.
“Kondisi kemarau seperti sekarang ini, air bersih harus menjadi perhatian utama. Jangan sampai air yang digunakan untuk berjualan tidak bersih sehingga berdampak pada kesehatan masyarakat,” ujar Edi kepada Pontianak Post, Selasa (15/9).
Baca Juga: WALHI Kalbar Desak Pengobatan Gratis, Distribusi Air Bersih, dan Percepatan Hujan Buatan
Menurutnya, penggunaan air yang tidak memenuhi standar kebersihan dapat meningkatkan resiko gangguan kesehatan bagi konsumen. Salah satunya adalah penyakit diare yang dapat muncul akibat konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Edi menyebutkan, temuan kasus diare di Kota Pontianak mulai menunjukkan adanya peningkatan. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah, terutama di tengah situasi kemarau yang berpotensi mempengaruhi ketersediaan air bersih.
“Jangan sampai masyarakat minum atau mengonsumsi makanan yang airnya tidak bersih, kemudian terpapar diare. Ini yang harus kita cegah bersama,” tegasnya.
Ia meminta pelaku usaha tidak hanya mengejar aspek ekonomi, tetapi juga memastikan produk yang dijual aman dan layak dikonsumsi. Kebersihan air, peralatan, bahan makanan hingga lingkungan tempat usaha harus menjadi bagian dari standar pelayanan kepada konsumen.
Baca Juga: Warga Rengas Kapuas Terima 8.000 Liter Air Bersih
Pemerintah Kota Pontianak, lanjut Edi, juga terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat serta ketersediaan air bersih. Upaya pencegahan dinilai penting agar persoalan kemarau tidak berkembang menjadi persoalan kesehatan masyarakat.
Edi berharap kesadaran pelaku usaha dan masyarakat untuk menjaga kebersihan dapat terus ditingkatkan. Menurutnya, menjaga kualitas air bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang terlibat dalam penyediaan makanan dan minuman bagi masyarakat.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita sama-sama menjaga kesehatan. Pelaku usaha gunakan air yang bersih dan steril, sementara masyarakat juga harus selektif terhadap makanan dan minuman yang dikonsumsi,” katanya.
Terpisah Direktur Rumah Sakit Pontianak Utara Nuzulisa Zulkifli mengatakan terdapat tren kenaikan jumlah kunjungan pasien di RS Pontianak Utara dalam kondisi karhutla dan kendala air bersih periode Juli hingga Agustus lalu.
Untuk kasus diare sendiri terdapat 188 pasien yang telah ditangani oleh pihak rumah sakit. “Tren meningkat ini di bulan Agustus, kemudian angkanya juga masih tinggi di awal September,” ungkapnya.
Akibat kondisi kabut asap karhutla dan kendala pasokan air bersih memang dapat meningkatkan resiko gangguan ISPA dan penyakit berbasis lingkungan salah satunya diare.
Kepada masyarakat dia mengimbau untuk menggunakan masker saat kualitas udara memburuk, pastikan air minum dan air untuk keperluan sehari-hari bersih dan aman, selalu mencuci tangan menggunakan sabun, konsumsi makanan higienis, dan melindungi kelompok rentan seperti anak kecil dan orang tua, serta ibu hamil.
“Terakhir segera periksakan ke fasilitas RS terdekat apabila terdapat gejala ISPA dan diare,” tutupnya.(iza)
Editor : Rafael B. Junior