PONTIANAK POST - Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kalimantan Barat sekaligus Sekretaris DPD Partai Golkar Kalbar, Fransiskus Ason mendorong pemerintah mulai membangun infrastruktur sumber air di wilayah rawan karhutla. Hal tersebut untuk mencegah persoalan yang sama berulang setiap tahun.
Ia menyebut sejumlah alternatif, seperti sumur bor, waduk maupun sumur penampungan yang dapat digunakan untuk mendukung pemadaman ketika musim kemarau. “Kalau ada sumur-sumur, paling tidak kita tidak terlalu sulit mencari air untuk pemadaman api,” Ason seusai RDPU bersama tim eksekutif dan unsur penanganan karhutla Kalbar.
Menurut dia, keberadaan sumber air menjadi penting karena di sejumlah kawasan, cadangan air dapat mengering hanya dalam beberapa pekan ketika kemarau panjang. “Di daerah-daerah yang tidak ada sumur, paling lama tiga minggu kemarau air habis. Jadi mau memadamkan api tidak mungkin,” ujarnya.
Di sisi lain, Ason juga menyoroti peran masyarakat yang selama ini ikut langsung memadamkan kebakaran, termasuk kelompok Masyarakat Peduli Api dan yayasan yang bergerak secara sosial. Ia mengatakan kelompok-kelompok tersebut perlu mendapatkan akses terhadap dukungan anggaran dan fasilitas.
Menurutnya, masyarakat peduli api dapat mengajukan dukungan melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sementara yayasan yang terlibat dalam penanganan bencana juga dapat mengajukan dukungan melalui mekanisme yang tersedia pada lembaga penanggulangan bencana. “Jadi mereka boleh mengusulkan itu. Jangan mereka lalu kerja-kerja sendiri,” katanya.
Ason juga mengungkapkan, dari dukungan sekitar Rp40 miliar yang diberikan pemerintah pusat untuk penanganan karhutla Kalbar, sebagian dana disebut mulai disalurkan. “Dana yang sudah diterima dari bantuan Presiden itu Rp40 miliar, sudah tersalurkan kurang lebih Rp10 miliar lebih,” ujarnya.
Ia menyebut penyaluran tersebut antara lain berkaitan dengan kebutuhan Dinas Kesehatan, penanggulangan bencana, serta dukungan kepada kepolisian dan TNI. Namun, ia menekankan perlunya memastikan anggaran juga dapat menjangkau masyarakat yang berada di garis depan dalam menghadapi karhutla. (den)
Editor : Miftahul Khair