PONTIANAK POST - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Barat (Kalbar) tetap dijalankan meski hujan telah mengguyur sejumlah wilayah. Pelaksanaan OMC tidak ditentukan berdasarkan tanggal, melainkan menyesuaikan dengan keberadaan dan pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi menghasilkan hujan.
Koordinator Harian Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel, mengatakan hujan yang turun di sejumlah wilayah sebelumnya tidak bisa sepenuhnya diklaim sebagai hasil dari pelaksanaan OMC. Sebab, secara alamiah memang terdapat potensi hujan di sejumlah wilayah.
“Kita tidak juga mengklaim itu keberhasilan modifikasi cuaca. Memang benar dilakukan ada operasi modifikasi cuaca. Tetapi juga tentu memang ada potensi hujan kemarin itu di beberapa wilayah di Kalimantan Barat,” katanya, Rabu (16/9).
Baca Juga: Hujan Berpeluang Terjadi di Seluruh Wilayah Kalbar, OMC Tetap Jalan Sampai Kondisi Terkendali
Walau begitu, ia menilai turunnya hujan tetap menjadi hal yang disyukuri karena dapat membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meski durasinya belum terlalu lama.
“Jadi dengan adanya kolaborasi itu, artinya hujan yang turun kita bersyukur sangat optimal. Meskipun durasinya tidak terlalu lama,” katanya.
Daniel menjelaskan, pelaksanaan OMC akan terus dilakukan selama terdapat pertumbuhan awan konvektif yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian. Awan konvektif menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan pelaksanaan operasi tersebut.
“Ya mudah-mudahan dari waktu ke waktu ada pertumbuhan awan konvektif. Karena OMC itu tidak bisa dilakukan berdasarkan tanggal, tapi berdasarkan pertumbuhan awan konvektif,” ujarnya.
Baca Juga: Awan Mulai Bermunculan, OMC Dioptimalkan hingga 24 September Padamkan Karhutla
Dalam pemantauan pada Rabu (16/9), Daniel menyebut belum terdapat pertumbuhan awan konvektif yang dapat menjadi dasar pelaksanaan OMC. “Belum ada hari ini (kemarin) pertumbuhan awan konvektif berdasarkan hasil briefing pagi tadi,” katanya.
Ia menambahkan, informasi mengenai keberadaan dan pertumbuhan awan konvektif diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut kemudian terhubung langsung dengan operator OMC untuk menentukan pelaksanaan operasi.
“Nah jadi yang mempunyai kewenangan memberikan data atau informasi bahwa ada pertumbuhan awan konvektif dari BMKG itu langsung terkoneksi ke operator OMC,” katanya.
Baca Juga: Pontianak Diguyur Hujan! BMKG Ungkap Potensi Cuaca Kalbar Hingga 22 September
Terkait penanganan karhutla, Daniel mengatakan saat ini memasuki tahap pembasahan dan pendinginan. Operasi tersebut dilakukan untuk memastikan bara api yang masih berada di dalam lapisan gambut benar-benar padam.
Menurutnya, titik api dalam pengertian area yang masih terbakar hampir sudah tidak ditemukan. “Sebetulnya titik api sudah tidak ada lagi di Kalbar ini. Sekarang operasi pembasahan, pembahasan pendinginan. Operasi pendinginan itu untuk memastikan barah-barah api di dalam gambut itu, di bagian bawah itu padam,” katanya.
Daniel menjelaskan, meski titik api sudah tidak ada, bara masih berpotensi bertahan di bagian bawah lahan gambut yang sebelumnya terbakar. Kondisi tersebut menjadi perhatian terutama di sejumlah wilayah seperti Ketapang dan Kayong Utara. Untuk memastikan bara benar-benar padam, operasi darat dan udara masih dilakukan oleh tim di lapangan.
Sementara itu, kondisi udara di sejumlah wilayah Kalbar, masih diselimuti asap. Daniel menyebut kondisi tersebut tidak seluruhnya berasal dari kebakaran yang terjadi di Kalbar.
Ia mengatakan berdasarkan pemantauan pergerakan angin, asap dari wilayah lain di Kalimantan dapat terbawa menuju Kalbar.
“Asap ini kita lihat pergerakan angin itu bergerak dari arah timur. Ya dari arah timur itu ada Kalteng, ada Kalsel. Bergerak dari arah timur ke selatan ke barat sampai ke utara. Nah kena dampaknya ke kita (Kalbar),” jelasnya. (sti)
Editor : Hanif