PONTIANAK POST - Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan (KLH/BPLH) mengembangkan Kompleks Yuka, Kelurahan Sungai Beliung, Kota Pontianak, menjadi Kampung Losida.
Program tersebut menerapkan pengelolaan sampah organik mandiri menggunakan pot Lodong Sisa Dapur (Losida) dan resmi diluncurkan pada Sabtu, 12 September 2026.
Kegiatan berlangsung melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) di Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Edelweis. Warga dari tiga Rukun Warga (RW) turut mengikuti kegiatan tersebut.
Melalui Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Kalimantan, sebanyak 50 pot Losida didistribusikan kepada 50 Kepala Keluarga (KK).
Pusdal LH Kalimantan juga menggandeng Komunitas Gerakan Pembaharuan (Gaharu) dan Forum Komunitas Hijau (FKH) untuk mendampingi penerima manfaat selama tiga bulan.
Baca Juga: Pontianak Terima Rp157,1 Miliar Program LSDP untuk Perkuat Pengelolaan Sampah
Pot Losida Disesuaikan dengan Kondisi Pontianak
Kepala Bidang Wilayah III Pusdal LH Kalimantan Buyung Yusuf Wibisono mengatakan sistem Losida tradisional berupa pipa yang ditanam di tanah kurang cocok diterapkan di Pontianak.
Menurut dia, kondisi Pontianak yang bergambut dan rawan genangan air membuat sistem tersebut berisiko mencemari air.
"Sistem Losida tradisional atau pipa ditanam di tanah kurang cocok untuk diterapkan di Pontianak yang bergambut dan rawan genangan air karena dapat mencemari air. Sehingga, modifikasi menjadi pot Losida adalah solusi inovatif agar lingkungan tetap terjaga dan kompos tidak basah atau rusak," jelas Buyung dilansir KLH, Kamis (17/9).
Program Kampung Losida diarahkan agar warga memilah dan mengolah sampah dari sumbernya.
Dengan cara tersebut, volume sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) diharapkan dapat berkurang.
Sampah Organik dan Risiko Kebakaran TPA
Buyung juga mengingatkan potensi risiko dari sampah organik yang tercampur dan menumpuk.
"Sampah organik yang tercampur dan menumpuk berpotensi meningkatkan risiko kebakaran di TPA. Kebakaran dipicu oleh gas metan yang dihasilkan dari pembusukan tumpukan sampah organik. Tahun ini, tercatat ada 22 TPA di Indonesia yang terbakar."
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), timbulan sampah di Kota Pontianak pada 2025 mencapai sekitar 489 ton per hari.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah di TPA Batu Layang memerlukan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Jalan Sehat Sambil Pungut Sampah di Pontianak Selatan
Pemkot Pontianak Targetkan Tangani 70 Persen Sampah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak Syarif Usmulyono turut mendukung pengembangan Kampung Losida.
Syarif mengatakan Pemkot Pontianak menetapkan target penanganan sampah sebesar 70 persen dan pengurangan sampah sebesar 30 persen.
"Pemerintah Kota Pontianak menetapkan target penanganan sampah sebesar 70 persen dan pengurangan sampah sebesar 30 persen. Tapi, harus dipahami bahwa sehebat apa pun program pemerintah dan sebesar apa pun alokasi dana yang diturunkan, hasilnya tidak akan optimal tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat," ungkap Syarif.
Baca Juga: Pemkot Pontianak Tambah Armada dan Kontainer Sampah untuk Perkuat Layanan Kebersihan
Menurut Syarif, kesadaran kolektif dan partisipasi masyarakat diperlukan agar pengurangan timbulan sampah dapat dilakukan secara terukur.
"Kesadaran kolektif dan partisipasi masyarakat ini diharapkan dapat mengurangi secara terukur total jumlah timbulan sampah. Kami berharap gerakan-gerakan kecil yang dimulai hari ini mampu membawa dampak besar dan fundamental bagi sistem pengolahan sampah di seluruh penjuru Kota Pontianak," tambah Syarif.
Kampung Losida Terintegrasi dengan Bank Sampah
Ketua Komunitas Gaharu Hermayani Putra mengatakan pengolahan sampah organik melalui sistem Losida berjalan beriringan dengan pemilahan sampah yang telah dilakukan warga.
"Pengelolaan sampah organik melalui sistem Losida ini melengkapi pemilahan anorganik yang sudah berjalan. Untuk itu, kami mengucapkan terima kasih kepada Pusdal LH Kalimantan yang telah menginisiasi program ini," pungkas Hermayani.
Menurut Hermayani, sebanyak 41 warga Kompleks Yuka sebelumnya telah aktif mengintegrasikan pemilahan sampah anorganik dengan bank sampah.
Program Kampung Losida di Kompleks Yuka diharapkan dapat berjalan dengan baik melalui kerja sama pemerintah, komunitas, dan warga.
Inisiatif tersebut juga diharapkan menjadi contoh bagi wilayah lain dalam mengelola sampah perkotaan secara mandiri.*
Editor : Uray RonaldSumber : Kemen LH