PONTIANAK POST - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengungkapkan, saat ini dia banyak menerima protes dari orang tua murid, yang menginginkan agar sekolah kembali bisa dilakukan tatap muka. Pelaksanaan belajar tatap muka akan kembali normal, dengan catatan kondisi udara benar-benar kembali normal.
“Di awal kabut asap terjadi, saya banyak menerima protes dari orang tua murid yang menginginkan agar proses belajar mengajar di sekolah dilakukan daring saja. Sekarang sudah kita penuhi karena dasarnya melihat kondisi udara yang semakin buruk. Namun kini, saya malah banyak menerima protes dari orang tua murid yang menginginkan agar proses belajar mengajar dapat dilakukan tatap muka kembali. Alasannya macam-macam,” ungkap Edi, Rabu (16/9).
Menurutnya, keputusan pembelajaran daring tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah melindungi anak-anak dari paparan kabut asap. Namun, dalam beberapa minggu terakhir, aspirasi orang tua justru kembali berubah. Edi mengaku banyak menerima protes dari ibu-ibu. Mereka ingin anak-anak dapat kembali mengikuti pembelajaran secara tatap muka di sekolah.
Baca Juga: Asap Berkurang, Edi Kamtono Timbang Sekolah Tatap Muka di Pontianak
“Beberapa minggu ini saya banyak dapat protes agar anaknya bisa sekolah tatap muka. Alasannya macam-macam, ada yang bermain tidak ada yang mengawas, kemudian masalah jaringan internet dan lainnya,” katanya.
Edi berharap kondisi cuaca yang mulai membaik setelah hujan turun secara merata dalam beberapa hari terakhir dapat membuat kualitas udara berangsur membaik. Jika kondisi memungkinkan, pembelajaran tatap muka di sekolah diharapkan dapat kembali dilaksanakan pada Senin mendatang.
Meski demikian, Edi meminta seluruh pihak tetap waspada apabila pembelajaran tatap muka kembali diterapkan. Anak-anak maupun guru diminta tetap menggunakan masker, sementara aktivitas olahraga dapat dibatasi atau ditunda hingga kondisi udara benar-benar aman.
Ia juga membuka kemungkinan adanya penyesuaian jam masuk sekolah apabila kondisi kabut asap masih pekat pada pagi hari. Jam belajar dapat diundur dari jadwal normal, misalnya menjadi pukul 08.00 atau 09.00 WIB.
Baca Juga: Asap Karhutla: Siswa Singkawang Diminta Pakai Masker, Sekolah Tetap Tatap Muka
“Harus waspada, pakai masker terus. Olahraga dibatasi atau ditunda. Waktu jam belajar juga dilihat. Kalau pekat di pagi hari, masuknya diundur jam 8 atau jam 9,” jelasnya.
Edi menambahkan, pemerintah harus mencari pola pembelajaran yang tetap dapat menjamin proses pendidikan berjalan tanpa mengabaikan keselamatan dan kesehatan siswa maupun guru. Sebab, menurutnya, guru juga memiliki kekhawatiran terhadap kondisi udara saat ini.
Beberapa waktu lalu, kualitas udara di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya masih berada pada tingkat tidak sehat akibat kabut asap kiriman dan sisa titik api yang belum sepenuhnya padam.
Baca Juga: Hotspot Karhutla Kalbar Turun Jadi 21 Titik, Kabut Asap Masih Terlihat
Meskipun hujan sempat mengguyur sebagian wilayah Kalimantan Barat, kondisi udara fluktuatif tersebut memicu wacana pengalihan proses belajar mengajar tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau daring.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan pihaknya terus memantau indeks kualitas udara secara berkala. Jika kondisi kian memburuk, Pemkot Pontianak siap memberlakukan kembali sistem sekolah daring bagi para siswa demi menjaga kesehatan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Syarif Usmulyono, mengungkapkan angka kualitas udara berada pada kategori tidak sehat (indeks 87), terutama pada waktu subuh hingga pukul 07.00 WIB. Kabut asap dipastikan berasal dari kabupaten tetangga karena tidak ditemukan titik api di area Kota Pontianak.
Kondisi Udara Kubu Raya: Indeks kualitas udara di Kubu Raya mencatatkan angka yang jauh lebih tinggi dan memprihatinkan, yakni menyentuh angka 230.
Anggota DPRD Kalbar, Moh. Darwis, mendukung penuh opsi PJJ untuk jenjang SD hingga SMA di Kubu Raya dan sekitarnya guna mengantisipasi paparan kabut asap pada anak-anak.(iza)
Editor : Hanif