PONTIANAK POST - Pemerintah Kota Pontianak bersama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa kembali memperkuat pasokan air bersih bagi masyarakat di tengah kondisi air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak yang masih terdampak intrusi air laut. Sebanyak lima juta liter air tawar dari Desa Radak, Kecamatan Terentang, tiba dan mulai diproses di IPA Parit Mayor, Pontianak Timur, kemarin.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, air tersebut diangkut menggunakan tongkang dan telah tiba sejak Jumat malam. Sejak pagi, air mulai dibongkar dan dialirkan ke IPA Parit Mayor yang memiliki kapasitas pengolahan 300 liter per detik.
"Nanti air ini akan didistribusikan kepada warga, khususnya di Pontianak Timur," ujar Edi.
Baca Juga: Empat Juta Liter Air Minum Sudah Disalurkan, Pontianak Datangkan Air Tawar dari Terentang
Sebanyak empat juta liter air akan disalurkan melalui keran warga Pontianak Timur. Sedang satu juta liter air tawar sisanya ditampung secara terpisah untuk kebutuhan warga melalui galon atau jerigen. Dengan pola tersebut, masyarakat Pontianak Timur dapat memperoleh air tawar dari IPA Parit Mayor tanpa harus mengambilnya di IPA Imam Bonjol.
"Selain kita distribusikan ke masyarakat melalui keran, kita juga ada cadangan 1 juta liter yang bisa diambil langsung oleh masyarakat. Jadi, tidak perlu menyeberang ke Imam Bonjol," katanya.
Saat ini, Pemkot juga masih menunggu kedatangan tongkang berikutnya dengan kapasitas sekitar lima juta liter dari lokasi sama.
"Nanti kita cek apakah akan diarahkan ke sini, ke IPA Kuning, atau ke Imam Bonjol," kata Edi.
Baca Juga: Pemkab Mempawah dan Pelindo Salurkan 8.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak Karhutla
Ia menyampaikan apresiasi kepada pihak yang terlibat dalam pengangkutan dan pengambilan air tawar dari Desa Radak hingga tiba di Pontianak.
"Saya berterima kasih kepada Pak Rico yang luar biasa membawa air ini mulai dari berangkat sampai selamat tiba di tempat ini, dan juga kepada teman-teman lainnya yang telah membantu pengambilan air di Radak, Terentang," ujarnya.
Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa Abdullah menjelaskan, kondisi kadar garam air baku Sungai Kapuas dan Sungai Landak masih berfluktuasi. Pada Sabtu pagi, kadar garam di kawasan Imam Bonjol berada di kisaran 1.800 miligram per liter, sedangkan di Selat Panjang sekitar 2.500 miligram per liter.
Baca Juga: Meteran PDAM Marak Dicuri, Tiga Orang Ditangkap di Pontianak dan Kubu Raya
Angka tersebut masih berada di atas batas 600 miligram per liter yang menjadi acuan kelayakan untuk kebutuhan tertentu. Karena itu, air tawar dari Desa Radak merupakan langkah penanganan kondisi air baku saat ini. Air yang tiba di Parit Mayor kemudian diproses melalui instalasi pengolahan sebelum didistribusikan.
Abdullah menjelaskan, sistem di reservoir akan memisahkan air tawar dari Desa Radak yang diperuntukkan bagi distribusi langsung menggunakan galon, jerigen, dan nantinya mobil tangki.
Sementara itu, air yang dialirkan melalui jaringan perpipaan tetap melalui proses pengolahan dan dalam distribusinya masih bercampur dengan air baku Sungai Kapuas.
Untuk memastikan sumber air tawar yang diambil aman sebagai bahan baku pengolahan, Perumda sebelumnya melakukan survei terhadap sejumlah titik di Desa Radak. Tim laboratorium kemudian kembali melakukan pemeriksaan ketika menentukan titik pengambilan air.
"Pemeriksaan dari sisi salinitas, TDS, dan turbiditas. Termasuk juga pemeriksaan kandungan-kandungan lainnya seperti zat besi (Fe). Alhamdulillah, hasil pemeriksaannya menunjukkan kualitasnya layak, maka kita ambil airnya di titik tersebut," ujar Abdullah.
Perumda memperkirakan pengolahan lima juta liter air membutuhkan waktu sekitar delapan hingga 10 jam. Pasokan berikutnya juga tengah dipersiapkan. Setelah tongkang pertama selesai membongkar muatan, tongkang tersebut direncanakan kembali mengambil air tawar dari Desa Radak dengan volume yang kurang lebih sama.
Sementara itu, kondisi kebakaran hutan dan lahan di Kalbar kembali menunjukkan peningkatan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar. Dimana ada sebanyak 238 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi sepanjang 18 September 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kalbar, Ridwan mengatakan, data tersebut merupakan hasil pemantauan pada 18 September mulai pukul 00.00 hingga 23.59 WIB. Jumlah titik panas tersebut menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan kondisi sebelumnya. “Data BMKG pada 19 September 2026, berdasarkan update data pada tanggal 18 September dari pukul 00.00 sampai 23.59, hari ini ada peningkatan titik panas,” kata Ridwan.
Dari total 238 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi tersebut, Kabupaten Ketapang menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak, yakni 185 titik. Kemudian Kabupaten Kayong Utara sebanyak 42 titik.
Titik panas lainnya tersebar di sejumlah daerah. Melawi tercatat tiga titik, Sintang satu titik, Sekadau satu titik, Mempawah dua titik, Sanggau satu titik, serta Kubu Raya tiga titik. Sementara itu, Landak, Kapuas Hulu, Sambas, Bengkayang, dan Kota Pontianak untuk sementara tidak tercatat memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Peningkatan titik panas tersebut turut diikuti memburuknya kondisi jarak pandang di sejumlah wilayah. Ridwan menyebut kondisi di Kota Pontianak pada 18 September terlihat semakin pekat, terutama dari siang hingga sore hari.
Kondisi tersebut berbeda dibandingkan sehari sebelumnya yang sempat menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Namun, pada 18 September, kondisi kembali mengalami penurunan.
“Dari siang sampai sore kelihatan Kota Pontianak sudah sangat pekat, berubah dari kondisi hari sebelumnya. Di sekitarnya ini sempat terlihat kondisi yang awalnya sudah agak membaik, tapi pada 18 September mengalami peningkatan, buruk,” jelasnya.
Penurunan jarak pandang juga terjadi di sejumlah kabupaten. Di Kabupaten Melawi, misalnya, jarak pandang pada Sabtu tercatat hanya sekitar 0,7 kilometer. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Ketapang. “Begitu juga Kabupaten Ketapang. Hampir semua daerah mengalami hal demikian,” ujar Ridwan.
Meski demikian, tidak seluruh wilayah mengalami penurunan dengan kondisi yang sama. Kabupaten Sambas disebut mulai menunjukkan perbaikan jarak pandang. Kondisi di Sintang dan Singkawang juga relatif lebih baik.
Di tengah meningkatnya titik panas dan memburuknya jarak pandang di sejumlah wilayah, penanganan karhutla melalui operasi udara tetap dilakukan. BPBD Kalbar mencatat sejumlah helikopter masih disiapkan, dan dikerahkan untuk patroli maupun water bombing sesuai kondisi lapangan.
Dari data briefing BPBD Kalbar, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga menjadi bagian dari penanganan karhutla. Salah satu pesawat Cessna Grand Caravan 208B tercatat telah melakukan 24 sorti dengan total waktu terbang 56 jam 18 menit dan penggunaan bahan semai sebanyak 22.800 kilogram NaCl.
Untuk operasi water bombing dari pangkalan Ketapang, helikopter Sikorsky EH-60A tercatat telah melakukan 477 bombing dengan total 1.908.000 liter air. Sementara helikopter MI-17-1V telah melakukan 421 bombing dengan total 1.784.000 liter air.
Dari pangkalan Pontianak, sejumlah armada juga digunakan untuk mendukung pemadaman. Salah satunya Super Puma H225 yang tercatat telah melakukan 270 bombing dengan total 1.080.000 liter air. Operasi diarahkan antara lain ke wilayah Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, dengan pelaksanaan lanjutan dari kegiatan pada 18 September.(iza/bar)
Editor : Hanif