PONTIANAK POST - Sebanyak 362 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terdeteksi di Kalimantan Barat (Kalbar), Senin (21/9). Titik panas tersebut paling banyak terkonsentrasi di wilayah Kabupaten Ketapang dengan 294 titik.
Koordinator Harian Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Daniel mengatakan, selain Ketapang, titik panas juga terdeteksi di Kabupaten Kayong Utara sebanyak 39 titik, Melawi 17 titik, Sekadau sembilan titik, dan Sintang tiga titik.
Daniel menegaskan, ratusan titik panas tersebut belum dapat dipastikan seluruhnya merupakan kebakaran. Untuk memastikan titik panas merupakan api, BPBD melakukan verifikasi melalui operasi darat, dan udara. “362 ini belum tentu api, ini hanya titik panas. Untuk membuktikan itu api maka perlu dilakukan verifikasi melalui satgas darat dan satgas udara,” katanya.
Baca Juga: Ria Norsan Minta Masyarakat Peduli Api Perkuat Penanganan Karhutla di Wilayah Rawan Kalbar
Namun, operasi udara menghadapi kendala jarak pandang yang rendah di sejumlah wilayah. Berdasarkan informasi BMKG per 21 September 2026, jarak pandang di Kota Pontianak berada pada kategori 1-5 kilometer. Sedangkan di Kapuas Hulu, Ketapang dan Kubu Raya tercatat kurang dari satu kilometer.
“Kondisi tersebut menyebabkan satgas udara tidak dapat melakukan operasi di wilayah dengan jarak pandang sangat rendah,” ungkapnya.
Daniel mengatakan, asap saat ini juga menyelimuti sejumlah wilayah di Kalbar, termasuk Kota Pontianak dan Kubu Raya. Kondisi tersebut, menurut dia, tidak berarti seluruh wilayah yang diselimuti asap mengalami kebakaran.
“Memang asap-asap ini tidak berarti bahwa Kalbar semuanya terdampak karhutla. Tetapi asap ini menyelimuti beberapa kota di Kalbar karena berdasarkan pergerakan angin bahwa asap ini dari arah timur ke selatan dan ke utara sehingga membawa asap dari wilayah lain yang terbakar di Pulau Kalimantan,” jelasnya.
Baca Juga: BMKG Prakirakan Kalbar dan Sebagian Besar Indonesia Berawan hingga Hujan Ringan
Sementara itu, kebakaran yang masih dalam penanganan dan dilakukan operasi pendinginan terdapat di Kabupaten Kayong Utara dan Ketapang. Selain itu, terdapat beberapa titik kecil di Kabupaten Kubu Raya. “Karena itu, satgas darat dan udara tetap melakukan operasi pemadaman maupun pendinginan di lokasi yang membutuhkan penanganan,” paparnya.
Selain itu, potensi kemudahan terjadinya karhutla juga masih perlu diwaspadai. Berdasarkan informasi BMKG untuk periode 21 hingga 27 September 2026, terdapat sejumlah wilayah di Kalbar yang berpotensi mengalami kemudahan terbakar. Daniel menjelaskan, indikator warna merah dalam peta potensi kemudahan terjadinya karhutla bukan simbol api. Warna tersebut menunjukkan vegetasi di wilayah tersebut sudah mengering sehingga lebih mudah terbakar.
Selain operasi pemadaman, dan pendinginan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar juga menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, pelaksanaan OMC sangat bergantung pada pertumbuhan awan konvektif di sejumlah wilayah kabupaten/kota. “OMC ini sangat ditentukan oleh pembentukan awan konvektif,” katanya.
Baca Juga: Wagub Kalbar Krisantus Ajak Umat Katolik Mentebah Bersama Cegah Karhutla dan Jaga Lingkungan
Berdasarkan prakiraan BMKG pada Senin (21/9), hujan berpotensi terjadi hampir di seluruh wilayah kabupaten/kota di Kalbar, dengan intensitas ringan hingga sedang. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu penanganan karhutla. “Oleh karena itu kita tetap berharap terjadi hujan alami di wilayah Kalbar secara masif agar karhutla dapat segera dipadamkan,” ujarnya.
Untuk membantu proses verifikasi titik panas di lapangan, BPBD Kalbar juga memanfaatkan aplikasi Tanggap. Melalui aplikasi tersebut, relawan yang melakukan operasi darat dapat menyampaikan laporan kepada Pusdalops BPBD Kalbar. Daniel mengatakan, sepanjang September terdapat 84 laporan yang dinyatakan sudah aman atau selesai dipadamkan.
Selain itu, terdapat 30 laporan yang masih perlu diwaspadai. Kategori tersebut menunjukkan lokasi yang berpotensi mengalami kebakaran berulang sehingga tetap dilakukan operasi pendinginan.
Sementara lokasi yang masuk kategori kritis masih dalam penanganan pemadaman, dan pendinginan. Penanganan terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang dan Sintang. Sedangkan 17 titik lainnya dilaporkan sudah selesai ditangani. “Ini dalam rangka kita memverifikasi titik panas yang kita terima dari BMKG,” kata Daniel.
BPBD Kalbar mengimbau masyarakat bersama-sama menjaga lingkungan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran selama musim kemarau panjang. Masyarakat juga diminta tidak membuat maupun menyebarkan video hoaks yang dapat menimbulkan kegaduhan dan keresahan.
“Kita mengimbau kepada saudara-saudara di mana pun berada agar tidak membuat video hoaks yang dapat membuat kegaduhan atau kegelisahan masyarakat,” pesannya.(bar)
Editor : Hanif