Jarak Pandang Kurang dari 1 Kilometer, Nelayan Kalbar Khawatir Melaut di Tengah Kabut Asap

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 11:03 WIB
Ilustrasi kabut asap.
Ilustrasi kabut asap.

PONTIANAK POST - Kabut asap karhutla kini bukan hanya mengganggu aktivitas warga di daratan Kalimantan Barat. Di perairan, asap tebal membuat jarak pandang nelayan menyusut dan meningkatkan risiko saat mencari ikan.

Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kalbar, Eka Indah Raharjo, mengingatkan nelayan tidak memaksakan diri melaut ketika jarak pandang sudah membahayakan. Kondisi tersebut juga berpotensi memangkas pendapatan karena waktu melaut harus dikurangi.

“Bagi nelayan, dampaknya sangat terasa karena aktivitas melaut untuk menangkap ikan ikut terganggu,” kata Eka, belum lama ini.

Baca Juga: Kemenkum Kalbar Harmonisasi Raperda Perikanan Sanggau Demi Lindungi Nelayan dan Ekosistem

Menurut Eka, kabut asap dapat menyulitkan nelayan mengenali arah perjalanan. Pandangan ke langit yang tertutup asap juga membuat cahaya matahari maupun bulan berkurang, sehingga orientasi di laut menjadi lebih sulit.

“Kalau kondisi semakin pekat, nelayan bisa kehilangan arah karena jarak pandang nyaris tidak terlihat,” ujarnya.

Karena itu, keputusan untuk berangkat melaut tidak cukup hanya mempertimbangkan kebutuhan menangkap ikan. Kondisi cuaca, jarak pandang, keadaan perairan dan kemampuan menghadapi situasi darurat harus menjadi pertimbangan sebelum perahu meninggalkan pesisir.

“Jangan memaksakan diri melaut apabila kondisi di lapangan sudah membahayakan keselamatan,” tegas Eka.

Baca Juga: Kemenkum Kalbar Harmonisasi Raperda Perikanan Sanggau Demi Lindungi Nelayan dan Ekosistem

Dampak ekonomi juga mulai menjadi perhatian. Ketika nelayan mengurangi aktivitas di laut, penghasilan harian ikut berpotensi turun. Eka menyarankan nelayan memanfaatkan waktu dengan pekerjaan alternatif, seperti bertani, beternak atau bertukang, sembari menunggu kondisi perairan membaik.

Gangguan terhadap aktivitas nelayan tersebut terjadi ketika penanganan karhutla di Kalbar masih berlangsung. Berdasarkan data Pusdalops BPBD Kalbar hingga Selasa (22/9), terdapat 2.199 titik panas di Kalbar. Sebanyak 77 titik memiliki tingkat kepercayaan tinggi dan seluruhnya terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang.

Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar, Daniel, mengatakan titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih perlu diverifikasi di lapangan karena titik panas tidak otomatis berarti kebakaran.

Baca Juga: Karhutla Kepung Musim Kering, Bupati Kayong Utara Puji Aksi Hebat Relawan Anti Api dan Asap

“Update titik panas di Kalbar, total titik panas ada 2.199, yang dengan tingkat kepercayaan tinggi ada 77. Titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi ini yang dicurigai sebagai api, semuanya terkonsentrasi di Kabupaten Ketapang,” kata Daniel.

Persoalan jarak pandang juga tercatat di sejumlah wilayah. Pada pukul 06.00 WIB, jarak pandang kurang dari satu kilometer terjadi di Ketapang, Sintang dan Singkawang. Kondisi tersebut membuat pengerahan satgas udara bergantung pada tingkat visibilitas.

“Satgas darat di semua kabupaten bergerak untuk melakukan ground check di wilayah masing-masing. Sedangkan satgas udara akan bergerak jika visibility memungkinkan untuk melakukan penerbangan,” jelas Daniel.

Saat ini pemadaman, pemblokiran dan pendinginan masih dilakukan terutama di Ketapang dan Kayong Utara. Pendinginan diperlukan untuk memastikan bara yang tersisa di bawah permukaan lahan gambut benar-benar padam.

Baca Juga: Kabut Asap Karhutla Mulai Ganggu Warga Kayong Utara, Jarak Pandang Terbatas Pagi dan Sore

Daniel mengatakan kabut asap yang masuk ke Kalbar juga tidak seluruhnya berasal dari kebakaran di wilayah provinsi ini. Berdasarkan pemantauan pergerakan angin, asap dari wilayah lain di Kalimantan dapat terbawa menuju Kalbar.

“Asap ini kita lihat pergerakan angin itu bergerak dari arah timur. Ya dari arah timur itu ada Kalteng, ada Kalsel. Bergerak dari arah timur ke selatan ke barat sampai ke utara. Nah kena dampaknya ke kita,” jelasnya.

Di sisi lain, BMKG Klimatologi Kalbar memprakirakan Ketapang dan Kayong Utara masih berpotensi mengalami kekeringan meteorologis hingga akhir September. Curah hujan pada periode 21–30 September diprediksi berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 20–150 milimeter per dasarian.

Kepala Kantor BMKG Klimatologi Kalbar Bernadus Daniel mengatakan kondisi tersebut perlu diwaspadai karena minimnya hujan dapat meningkatkan potensi munculnya titik panas. Hari Tanpa Hujan (HTH) terpanjang di Kalbar bahkan tercatat mencapai 84 hari di Kecamatan Teluk Batang, Kayong Utara.

“Wilayah Ketapang dan Kayong Utara masih berpotensi mengalami curah hujan kategori rendah, sehingga perlu diwaspadai kekeringan dan munculnya titik panas,” katanya dalam keterangan tertulis.

Meski hujan masih berpeluang turun di sejumlah daerah, distribusinya belum merata. BMKG memperkirakan hujan ringan hingga sedang terjadi di sejumlah kabupaten/kota, tetapi belum ada wilayah yang diprediksi mengalami hujan lebat.

Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga tetap dijalankan apabila terdapat pertumbuhan awan konvektif yang memungkinkan penyemaian. Daniel menegaskan pelaksanaan OMC tidak ditentukan semata berdasarkan tanggal, melainkan kondisi awan yang terpantau.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengingatkan masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hujan di sejumlah wilayah, katanya, belum berarti risiko karhutla telah hilang karena masih terdapat kawasan yang kering.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar. Meskipun di beberapa wilayah sudah turun hujan, masih ada daerah yang kondisinya kering sehingga potensi api tetap harus diwaspadai,” ujarnya.

Bagi nelayan, berakhirnya kabut asap berarti lebih dari sekadar pulihnya jarak pandang. Kondisi perairan yang kembali aman menjadi penentu agar mereka dapat kembali mencari ikan tanpa mempertaruhkan keselamatan demi memenuhi kebutuhan keluarga. (sti/bar)

Editor : Rafael B. Junior
kabut asap Kalbar HNSI Kalbar titik panas karhutla kalbar Nelayan kalbar