Hujan Turun dan Asap Karhutla Menebal, Prabowo Pantau 210 Ha Lahan Terbakar

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 23:39 WIB
Presiden RI Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi Karhutla di Desa Limbung Kecamatan Sungai Raya Kalimantan Barat pada Sabtu (22/8). (MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)
Presiden RI Prabowo Subianto meninjau langsung lokasi Karhutla di Desa Limbung Kecamatan Sungai Raya Kalimantan Barat pada Sabtu (22/8). (MEIDY KHADAFI/PONTIANAK POST)

 

PONTIANAK POST — Hujan beberapa hari terakhir belum mengusir kabut asap dari Pontianak. Pada Rabu (23/9), asap justru menebal dan membatasi jarak pandang. Di tengah kondisi itu, Presiden Prabowo Subianto meminta laporan terbaru penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatera.

Prabowo memantau penanganan karhutla melalui rapat terbatas secara hibrida dari Istana Merdeka, Jakarta. Menurut Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Presiden memberi perhatian khusus pada Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto melaporkan 209,78 hektare lahan masih dalam proses pemadaman hingga Rabu. Angka itu bukan total luas lahan yang telah terbakar. Operasi modifikasi cuaca juga dilanjutkan jika kondisi awan memungkinkan.

Di Kalbar, Pusdalops BPBD mencatat 2.199 titik panas hingga Selasa (22/9). Sebanyak 77 titik dengan tingkat kepercayaan tinggi berada di Ketapang. Koordinator Harian Pusdalops BPBD Kalbar Daniel mengingatkan bahwa titik panas perlu diperiksa di lapangan sebelum dinyatakan sebagai lokasi kebakaran.

Menurut Daniel, angin dapat membawa asap dari wilayah kebakaran ke daerah lain. Karena itu, hujan di Pontianak belum tentu segera memperbaiki kualitas udara kota.

Udara Kayong Utara Terburuk

Pada Rabu pukul 10.00 WIB, indeks kualitas udara Kayong Utara mencapai 984. Pontianak tercatat 352, Sintang 309, dan Mempawah 304. Keempatnya masuk kategori berbahaya. Indeks Kubu Raya mencapai 298 atau sangat tidak sehat.

Kepala Kantor BMKG Klimatologi Kalbar Bernadus Daniel mengatakan Ketapang dan Kayong Utara masih berpotensi mengalami curah hujan rendah hingga akhir September. Hari tanpa hujan terpanjang mencapai 84 hari di Kecamatan Teluk Batang, Kayong Utara.

“Wilayah Ketapang dan Kayong Utara masih berpotensi mengalami curah hujan kategori rendah, sehingga perlu diwaspadai kekeringan dan munculnya titik panas,” katanya.

Kementerian Kesehatan mencatat 892 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalbar pada Selasa (22/9). Kasus terbanyak dilaporkan di Kubu Raya, yakni 158, disusul Kayong Utara 126 dan Ketapang 118. Sehari sebelumnya tercatat 1.154 kasus. Perbandingan angka harian tersebut perlu memperhatikan kelengkapan laporan fasilitas kesehatan.

Nelayan Diminta Waspada

Asap juga mengganggu aktivitas nelayan. Ketua DPD Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Kalbar Eka Indah Raharjo meminta nelayan tidak memaksakan diri melaut ketika jarak pandang membahayakan. Berkurangnya waktu melaut berpotensi menekan pendapatan mereka.

“Bagi nelayan, dampaknya sangat terasa karena aktivitas melaut untuk menangkap ikan ikut terganggu,” kata Eka.

Pada Rabu pagi, jarak pandang di Ketapang, Sintang, dan Singkawang tercatat kurang dari satu kilometer. Kondisi itu juga dapat menghambat penerbangan untuk pemadaman. Daniel mengatakan satuan tugas darat tetap memeriksa titik panas, sedangkan operasi udara menunggu jarak pandang yang aman.

Pemadaman di Ketapang mendapat bantuan helikopter berat CH-47 Chinook dari Jepang. BNPB juga mengerahkan helikopter pengeboman air dan patroli. Kabid Humas Polda Kalbar Kombes Pol Bambang Suharyono mengingatkan warga agar tidak membuka lahan dengan membakar karena sejumlah wilayah masih kering meski hujan telah turun di daerah lain.

Editor : Aristono Edi Kiswantoro
karhutla kalimantan barat kabut asap Pontianak kualitas udara berbahaya kasus ISPA Kalbar Prabowo pantau karhutla