PONTIANAK POST - Adanya peningkatan eskalasi konflik dengan kelompok Houthi di perbatasan Yaman, jemaah umrah Indonesia yang berada di Arab Saudi diminta tidak panik jika menerima pesan peringatan darurat di ponsel.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Kalimantan Barat, Kamaludin mengatakan pemerintah Arab Saudi melalui Saudi Civil Defense dapat mengirimkan peringatan darurat ke ponsel masyarakat yang berada di wilayah terdampak.
"Jemaah diimbau untuk tetap berada di tempat yang aman, menjauhi pintu, jendela, dan area terbuka, serta mengikuti instruksi resmi dari otoritas Arab Saudi," jelasnya.
Baca Juga: Seribu Jamaah Menengadah, Memohon Hujan Turun di Sanggau
Hindari mendatangi lokasi kejadian serta jangan mengambil atau menyebarkan foto dan video yang dapat menimbulkan kepanikan atau informasi yang belum terverifikasi.
" Pantau informasi resmi dan simpan nomor penting selama berada di Arab Saudi. Tetap tenang, tetap waspada, dan utamakan keselamatan selama menjalankan ibadah umrah," ujarnya.
Kamaludin menyampaikan bahwa saat ini jemaah umrah masih bisa menjalankan ibadah normal seperti biasa baik di Makkah maupun Madinah.
Bahkan, berdasarkan informasi terakhir yang ia terima, belum ada larangan ziarah ke kota Thaif bagi jemaah umrah.
Baca Juga: Juara I MTQ Kalbar 2026, Kafilah Kayong Utara Bakal Dapat Hadiah Umrah dari Pemkab
Pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap jemaah yang berada di Arab Saudi. "Kami terus komunikasi dengan Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) yang membawa jemaah umrah. Salah satunya PPIU Assalam Al Haramain Sambas yang saat ini membawa 126 jamaah umrah ," paparnya.
Kementerian Haji dan Umrah RI juga perlu untuk mengambil langkah-langkah antisipatif guna memitigasi keamanan jemaah umrah, akibat dampak erupsi Anak Krakatau dan abu vulkanik. Terutama adanya potensi terganggunya operasional penerbangan, khususnya penerbangan yang melayani keberangkatan dan kepulangan jemaah umrah melalui Bandara Soekarno Hatta Jakarta.
"Kemenhaj menginstruksikan kepada seluruh Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU) melalui Asosiasi PIHK dan PPIU untuk segera melakukan langkah mitigasi, perlindungan bagi jemaah umrah dan koordinasi repatriasi," ujar Kamaludin.
Selain itu, melakukan koordinasi dengan Asosiasi PIHK dan PPIU untuk bisa menjangkau travel-travel diluar Asosiasi atau Jemaah Umrah Mandiri yang saat ini sedang berada di Arab Saudi atau sedang dalam perjalanan ke Tanah Air namun berada di negara transit asal pesawat.
PPIU diminta aktif melakukan koordinasi dengan pihak penerbangan, pengelola bandar udara, penyedia layanan di Arab Saudi serta pihak lain yang diperlukan untuk memperoleh kepastian penanganan dan alternatif perjalanan bagi jemaah umrah.
"Kaki mengimbau calon jemaah umrah untuk berkomunikasi dan mengikuti perkembangan terkini situasi melalui Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU)," pungkasnya. (mrd)
Editor : Rafael B. Junior