PONTIANAK POST - Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat, Rasmidi menyoroti kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat yang dinilainya semakin mengkhawatirkan, khususnya di Kabupaten Ketapang. Menurutnya, karakteristik lahan gambut di Ketapang menjadi salah satu faktor yang membuat penanganan karhutla lebih sulit dibandingkan sejumlah wilayah lain.
Ia menyebut kedalaman gambut di sejumlah lokasi bahkan dapat mencapai sekitar 20 meter. Kondisi tersebut membuat pemadaman dari permukaan tidak selalu mampu menghentikan api yang masih berada di lapisan bawah tanah. "Kalau disuntik dengan kemampuan hanya dua meter, maksimum dua meter, di bawahnya juga masih menyala," katanya di Pontianak, Jumat (25/9).
Rasmidi menilai pemerintah perlu memikirkan strategi jangka panjang agar persoalan karhutla tidak terus berulang setiap musim kemarau. Menurut dia, penanganan tidak cukup hanya dengan memadamkan api, tetapi juga harus mencakup langkah pascakebakaran, termasuk dampak yang kemungkinan dirasakan masyarakat.
Baca Juga: BNPB Siapkan Bantuan Alat untuk Karhutla Ketapang dan Kayong Utara, Pemkab Ajukan Peralatan
"Bagaimana nanti ke depan untuk mengantisipasi pascakarhutla ini, pasti ada masyarakat kita yang juga nanti ada yang kena ISPA dan sebagainya. Ini jadi pikiran kita," ujarnya.
Rasmidi juga menyampaikan bahwa BPBD telah mengerahkan dukungan untuk menangani karhutla di Ketapang. Dua helikopter water bombing dan satu helikopter patroli disebut telah dikirim ke wilayah tersebut.
Selain itu, menurut Rasmidi, dukungan personel juga telah dikerahkan dalam jumlah besar untuk menangani kebakaran. Ia menilai kebutuhan penanganan di Ketapang perlu menjadi perhatian khusus karena luas wilayah dan tingkat kesulitan pemadaman tidak sebanding dengan besaran bantuan yang diterima.
Rasmidi menyebut bantuan pemerintah pusat untuk Ketapang dan sejumlah kabupaten lain berada pada kisaran Rp20 miliar. Padahal, kata dia, luas wilayah terbakar dan karakter gambut di Ketapang membutuhkan penanganan lebih kompleks.
Baca Juga: Karhutla di Lahan Gambut Kayong Utara, Api Padam tetapi Bara Bawah Tanah Masih Dipantau
"Ketapang itu luas. Wilayah yang terbakar sangat besar dan lahan yang terbakar sangat besar. Kesulitannya juga sangat tinggi," katanya.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Kalbar dapat memberikan dukungan tambahan melalui APBD Perubahan yang telah disahkan DPRD.
Rasmidi mengatakan anggaran tersebut masih dalam proses dan diharapkan dapat segera digunakan untuk mendukung operasional penanganan karhutla yang menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi.
Dampak karhutla di Ketapang dan wilayah lainnya, kata Rasmidi, juga diduga berkontribusi terhadap kondisi kualitas udara di Pontianak dan sekitarnya. Ia mencontohkan kondisi Pontianak yang masih diselimuti asap meski sebelumnya diguyur hujan cukup lebat.
"Artinya bukan asap yang berada di Kota Pontianak dan Kubu Raya, tapi mungkin itu adalah asap kiriman dari luar daerah termasuk Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara," ujarnya.
Rasmidi meminta kondisi Ketapang mendapat perhatian serius karena hingga kini aktivitas kebakaran di wilayah tersebut masih menjadi salah satu persoalan utama karhutla di Kalimantan Barat.
Baca Juga: Polsek Kembayan Bagikan 650 Masker kepada Pelajar, Cegah Dampak Asap Karhutla
Ia berharap koordinasi antara pemerintah pusat, Pemprov Kalbar, pemerintah kabupaten, BPBD, serta unsur terkait dapat diperkuat agar penanganan tidak hanya bersifat pemadaman darurat, tetapi juga mencegah kejadian serupa berulang pada musim kemarau berikutnya. (den)
Editor : Miftahul Khair