PONTIANAK POST - Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai menunjukkan perbaikan. Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Kamis (24/9) pukul 23.59 WIB mencatat 29 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalbar, Ridwan mengatakan, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih didominasi Kabupaten Ketapang dengan 22 titik. Sementara titik panas lainnya terdeteksi di Sekadau sebanyak empat titik, Melawi satu titik, Sintang satu titik, dan Sanggau satu titik.
“Untuk kabupaten/kota lainnya yang tidak kami sebutkan tadi dalam kondisi aman dan tidak memiliki titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi pada hari ini,” kata Ridwan, Jumat (25/9).
Baca Juga: Hujan Redam Potensi Karhutla, Polsek Singkawang Selatan Tetap Patroli Lahan Rawan Api
Penurunan titik panas juga terlihat dari pemantauan aplikasi Sipongi. Berdasarkan pantauan tiga satelit yang digunakan, yakni Aqua, SNPP, dan NOAA, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi juga menurun.
Ridwan menyebut, satelit Aqua mendeteksi 10 titik panas, SNPP sebanyak 14 titik dan NOAA dua titik. Titik panas tersebut masih terlihat di sejumlah wilayah, terutama Ketapang, Sekadau dan Sintang.
Perbaikan juga terlihat dari jarak pandang di sejumlah wilayah. Untuk Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya, jarak pandang berada pada kisaran satu hingga lima kilometer.
Namun, kondisi berbeda masih terjadi di sejumlah daerah. Jarak pandang di Kabupaten Sintang dan Ketapang masih kurang dari satu kilometer. Sedangkan di Melawi, jarak pandang hingga sekitar pukul 13.00 WIB tercatat hanya 300 meter.
Baca Juga: Atasi Hambatan Distribusi CPO, Pemkab Sintang Minta Terminal Khusus Tayan Dibuka untuk Umum
Di tengah penanganan karhutla, peluang hujan menjadi salah satu harapan untuk membantu menekan perkembangan kebakaran, dan memperbaiki kondisi udara.
Ridwan menyampaikan, berdasarkan prediksi BMKG, hampir seluruh kabupaten/kota di Kalbar berpeluang mendapatkan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang pada Jumat (25/9). Kondisi serupa diperkirakan terjadi Sabtu (26/9). Hampir seluruh wilayah Kalbar diprediksi mendapatkan curah hujan.
Selain potensi hujan, pertumbuhan awan di hampir seluruh kabupaten/kota juga dinilai cukup baik. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Melihat dari pertumbuhan awan yang paling bagus berada di kabupaten mana, di situlah yang akan kita lakukan operasi OMC pada hari ini,” jelasnya.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Warga Kubu Raya Waspadai Cumulonimbus Saat Pancaroba, Petir hingga Angin Kencang
Ridwan mengatakan, arah angin juga menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, khususnya di Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Kedua wilayah tersebut menjadi fokus karena kepadatan aktivitas masyarakat, dan keberadaan Bandara Supadio di Kubu Raya.
Berdasarkan pemantauan melalui aplikasi Lancang Kuning dan Windy.com, arah angin masih bergerak di wilayah Kalbar, termasuk Pontianak dan Kubu Raya. Selain menggunakan data titik panas dari BMKG dan Sipongi, BPBD Kalbar juga memantau laporan melalui aplikasi Tanggap.
Hingga Jumat (25/9), tercatat 90 laporan karhutla yang masuk. Dari jumlah tersebut, sebanyak 54 laporan telah terselesaikan. Rinciannya, 52 laporan dalam kondisi aman, 32 laporan dalam kondisi waspada dan enam laporan berada dalam kondisi kritis.
Penanganan karhutla tetap dilakukan melalui dua tim, yakni tim darat dan tim udara. Untuk tim udara, BPBD Kalbar mengoperasikan dua helikopter untuk melakukan patroli. Satu helikopter diarahkan ke wilayah Kabupaten Ketapang bagian selatan dan Kabupaten Kayong Utara. Sementara patroli lainnya diarahkan ke wilayah Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Singkawang, Sambas dan sekitarnya.
Patroli juga dilakukan di wilayah Kabupaten Sanggau, Sekadau dan sekitarnya. Untuk operasi water bombing, hasil briefing pagi mengarahkan penanganan ke Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara. Kedua wilayah tersebut masih menjadi fokus berdasarkan data titik panas yang diterima.
“Pelaksanaan waterbombing tetap menyesuaikan kondisi jarak pandang di lapangan,” katanya.
Sementara tim darat melibatkan BPBD kabupaten/kota, Manggala Agni, Satpol PP, DLHK, TNI dan Polri. Mereka melakukan patroli, pemadaman hingga pendinginan di wilayah masing-masing. Untuk penanganan di tingkat provinsi, fokus masih diarahkan ke Kabupaten Kubu Raya, terutama pada lokasi yang masih membutuhkan pemadaman maupun pendinginan.
Di tingkat kabupaten, penanganan juga terus dilakukan di wilayah yang masih ditemukan titik panas, terutama Ketapang dan Kayong Utara.
Ridwan mengimbau masyarakat untuk bijak menyebarkan informasi mengenai karhutla melalui media sosial. Menurutnya, penyebaran foto, video maupun informasi tertentu dapat mempengaruhi strategi penanganan di lapangan.
“Kami mengimbau kepada masyarakat pengguna media sosial, bijaklah dalam meng-share berita ataupun foto dan video. Karena ini bisa berdampak kepada strategi penanganan kami di lapangan dan juga membuat gaduh pada masyarakat,” pungkasnya.(bar)
Editor : Hanif