PONTIANAK POST — Sebanyak 447 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat dalam pemantauan BMKG pada Minggu (27/9), pukul 00.00–21.00 WIB. Dari jumlah tersebut, 14 titik berkepercayaan tinggi, 431 berkepercayaan sedang, dan dua berkepercayaan rendah.
Angka tersebut menunjukkan deteksi titik panas Kalbar masih memerlukan pemeriksaan lapangan untuk memastikan keberadaan kebakaran dan menentukan kebutuhan penanganan. Jumlah titik berkepercayaan tinggi yang relatif sedikit juga belum cukup untuk menyimpulkan bahwa ancaman karhutla maupun dampak asap telah berakhir.
Peta BMKG memperlihatkan sebaran deteksi paling rapat secara visual di bagian selatan Kalbar, terutama sekitar Ketapang dan Kayong Utara. Pemantauan menggunakan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20 dengan sumber data FIRMS yang diolah BMKG.
Perbedaan Data Perlu Dicermati
Sehari sebelumnya, pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan menunjukkan penurunan titik panas berkepercayaan tinggi di Kalbar. Hingga Sabtu (26/9), pukul 21.15 WIB, jumlahnya berkurang dari 14 menjadi dua titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Namun, angka SiPongi pada Sabtu dan hasil pemantauan BMKG pada Minggu berasal dari waktu serta pengolahan data berbeda. Karena itu, kedua angka belum dapat langsung dibandingkan untuk menyimpulkan kenaikan atau penurunan titik panas.
Perbandingan tren membutuhkan sumber, cakupan waktu, dan kategori kepercayaan yang setara. Adapun angka 14 dalam pemantauan terbaru BMKG hanya merujuk pada kategori berkepercayaan tinggi, bukan seluruh titik panas di Kalbar.
Titik panas merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit. Satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan lebih dari satu deteksi sehingga jumlah titik panas tidak sama dengan jumlah kebakaran ataupun luas lahan terbakar.
Pemadaman dan Pembasahan Berlanjut
Kementerian Kehutanan menegaskan penurunan titik panas harus dijaga melalui patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman, dan pembasahan berkelanjutan. Perubahan deteksi harian menjadi dasar untuk menentukan wilayah yang membutuhkan peningkatan respons.
Penanganan darat melibatkan Manggala Agni, BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan unsur terkait. Tim melakukan pemeriksaan titik panas, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, serta pembasahan dan pendinginan.
Pemadaman sisa bara terutama penting di lahan gambut. Bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika lahan mengering.
61 Armada Udara Disiagakan
Secara nasional, pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung pengendalian karhutla. Jumlah itu terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca serta 44 unit untuk penyiraman air dari udara atau water bombing.
Sebanyak 55 unit mendukung operasi di enam provinsi prioritas karhutla. Enam unit water bombing lainnya ditempatkan untuk membantu wilayah terdampak lain.
Kementerian Kehutanan belum memerinci jumlah armada yang dialokasikan khusus untuk Kalbar. Operasi udara tersebut mendukung upaya pemadaman dan pengendalian api oleh tim darat.
Titik Panas Nasional Bertambah
Dalam pemantauan SiPongi hingga Sabtu malam, jumlah titik panas berkepercayaan tinggi secara nasional mencapai 331 titik. Angka itu bertambah 118 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Sebanyak 111 titik berada di enam provinsi prioritas karhutla. Kalimantan Selatan mencatat 40 titik, meningkat dari enam titik, sedangkan Sumatera Selatan naik dari 17 menjadi 38 titik.
Sebaliknya, Kalimantan Tengah turun dari 57 menjadi 30 titik dan Kalbar berkurang dari 14 menjadi dua titik. Jambi tetap satu titik, sementara Riau nihil titik panas berkepercayaan tinggi dalam periode pemantauan tersebut.
Asap Masih Membatasi Jarak Pandang
Bagi masyarakat, berkurangnya titik panas belum tentu langsung mengakhiri gangguan asap. Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa asap dapat bertahan atau berpindah mengikuti kondisi atmosfer dan arah angin.
Dalam rangkuman pengamatan dini hari yang disampaikan kementerian, Pontianak tercatat berasap dengan jarak pandang sekitar dua kilometer. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pemantauan dampak asap bersamaan dengan upaya pengendalian api. (ars)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro